Editor
KOMPAS.com - Survei tahunan 2026 Energy & Natural Resources yang dilakukan oleh perusahaan konsultan Bain & Company terhadap lebih dari 800 eksekutif di sektor minyak dan gas, utilitas, kimia, pertambangan, dan agribisnis mengungkapkan waktu puncak permintaan global terhadap minyak.
Hasil survei menunjukkan bahwa faktor ekonomi tetap menjadi penentu utama arah investasi, dengan banyak perusahaan masih mempertahankan investasi pada teknologi berbasis bahan bakar fosil.
Mayoritas responden juga memperkirakan permintaan minyak global masih akan terus meningkat setidaknya dalam satu dekade ke depan.
Baca juga: Serangan AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, PBB Soroti Pentingnya Energi Terbarukan
Namun, pandangan mengenai puncak permintaan minyak berbeda antarwilayah. Sekitar setengah eksekutif di Eropa memperkirakan permintaan akan mencapai puncaknya sebelum 2035, sementara 41 persen eksekutif di Amerika Utara menilai hal itu baru akan terjadi setelah 2050.
Di sisi lain, arah investasi pada bisnis transisi energi juga menunjukkan perbedaan. Perusahaan yang sejak awal telah mengalokasikan modal besar pada sektor ini cenderung tetap konsisten, sementara perusahaan yang sebelumnya berinvestasi kecil mulai mengurangi alokasi.
“Semakin jelas bahwa faktor geopolitik dan kebijakan memengaruhi bagaimana para pemimpin industri memandang investasi transisi energi secara berbeda,” ujar Global Head of Energy & Natural Resources Bain & Company, Joe Scalise dalam keterangan resminya akhir pekan lalu.
Ia menambahkan bahwa dukungan kebijakan yang diharapkan untuk mempercepat transisi energi belum sepenuhnya terwujud.
“Ini mencerminkan kompleksitas transisi energi dan fakta bahwa dukungan kebijakan yang diharapkan belum terealisasi,” kata Scalise.
Survei tersebut juga mengidentifikasi empat tren utama yang memengaruhi sektor energi dan sumber daya alam saat ini.
Pertama, ketidakpastian geopolitik dan kebijakan dinilai mengubah arah investasi secara cepat. Para eksekutif cenderung lebih memilih investasi di wilayah domestik dibandingkan ekspansi global.
Kedua, restrukturisasi bisnis diperkirakan meningkat dalam dua tahun ke depan, termasuk divestasi, konsolidasi, dan penutupan aset. Sekitar dua pertiga responden memperkirakan tren ini akan terjadi, terutama di sektor kimia dan pertambangan.
Ketiga, meskipun penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin meluas, sebagian besar perusahaan belum melihat hasil investasi yang signifikan. Sekitar dua pertiga perusahaan masih berada pada tahap uji coba atau pilot project, sementara hanya seperempat yang telah berhasil mengimplementasikan AI secara luas.
Baca juga: AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
Keempat, meningkatnya kebutuhan listrik akibat penggunaan AI mendorong perusahaan utilitas untuk memilih investasi yang paling cepat dan layak secara komersial, seperti penyimpanan energi, perpanjangan umur aset, serta penguatan jaringan distribusi.
Partner Bain & Company, Grant Dougans, menekankan pentingnya disiplin bisnis dalam menghadapi ketidakpastian sektor energi.
“Fokus pada investasi yang didasarkan pada realitas fisika dan ekonomi menjadi semakin penting, dengan mempertimbangkan peran kebijakan secara jelas,” ujarnya.
Menurutnya, perusahaan perlu lebih selektif dalam menentukan portofolio investasi serta tetap fleksibel menghadapi dinamika pasar global.
Secara keseluruhan, survei ini menunjukkan bahwa transisi energi global masih menghadapi tantangan besar, baik dari sisi kebijakan, ekonomi, maupun perkembangan teknologi, di tengah meningkatnya kebutuhan energi di berbagai sektor.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya