KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan masih akan melanda beberapa wilayah Indonesia hingga akhir Maret 2026, tepatnya Senin (30/3/2026). Kondisi ini dipengaruhi dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal.
"Periode 27-30 Maret 2026, cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang," kata BMKG dalam keterangannya, Kamis (26/3/2026).
Baca juga:
Menurut prediksi BMKG, hujan ringan hingga sedang di Indonesia terjadi hingga akhir Maret 2026, dengan panas masih mengintai.Wilayah yang perlu mewaspadai hujan sedang hingga lebat, antara lain Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Kemudian di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, serta Papua.
BMKG menjelaskan, saat ini El Nino-Southern Oscillation (ENSO) terpantau berada pada kategori netral hingga La Nina lemah.
Analisis regional berdasarkan anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR), Madden-Julian Oscillation (MJO), dan aktivitas gelombang ekuator mengindikasikan kecenderungan peningkatan aktivitas konvektif di NTT, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Peningkatan aktivitas konvektif tersebut dididuga diperkuat aktifnya MJO secara spasial pada pertengahan Maret 2026 di wilayah timur Indonesia, yang didukung gelombang rossby ekuator, gelombang kelvin, serta gelombang frekuensi rendah.
"Kombinasi ketiga fenomena ini berpotensi semakin meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan curah hujan, terutama di wilayah perairan dan daratan Indonesia bagian tengah hingga timur," jelas BMKG.
Baca juga: Banjir Berulang di Jawa Barat, Ahli Sebut Butuh Solusi Lebih dari Tindakan Viral
Sementara itu, eks siklon tropis Narelle yang terpantau di pesisir barat Australia bagian utara masih berdampak tidak langsung terhadap dinamika atmosfer di Indonesia. Menurut BMKG, kondisi itu meningkatkan kecepatan angin di Nusa NTT, Laut Timor, dan sekitarnya.
Sistem ini juga masih berpotensi kembali berkembang menjadi siklon tropis di Samudra Hindia selatan NTT. Labilitas atmosfer lokal yang kuat juga masih terpantau di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi Selatan, NTT, dan Papua.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya