Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Puluhan Paus Pilot Terdampar di Rote NTT, Diduga akibat Ekolokasi Rusak

Kompas.com, 31 Maret 2026, 14:15 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Puluhan paus pilot terdampar lalu mati di pesisir Pantai Mbadokai di Desa Deranitan dan Desa Fuafuni, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, pada Senin (9/3/2026). Diduga penyebabnya adalah kerusakan organ ekolokasi. 

Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Akbar Reza menuturkan, ekolokasi berguna bagi paus mencari jalan dan sumber makanan dari pantulan gelombang.

Baca juga: 

Menurut dia, organ ekolokasi bisa rusak akibat beberapa faktor, antara lain tumpang tindih kegiatan manusia di kapal, survei seismik, gempa, serta eksplorasi minyak dan gas dengan sonar yang mengeluarkan gelombang suara.

Tidak hanya itu, faktor lainnya adalah kerusakan organ akibat parasit atau pencemaran lingkungan seperti plastik, jaring nelayan, dan serpihan kapal.

“Kondisi inilah yang kemudian membuat paus-paus ini terdampar,” kata Akbar dalam keterangannya, Selasa (31/3/2026).

Puluhan paus pilot mati di NTT, diduga akibat ekolokasi rusak

Bukan kejadian yang pertama kalinya

Rusaknya sistem ekolokasi paus pilot akibat aktivitas manusia di perairan Rote, NTT, diduga menyebabkan puluhan hewan itu terdampar, lalu mati. Dokumen Sopand Rusaknya sistem ekolokasi paus pilot akibat aktivitas manusia di perairan Rote, NTT, diduga menyebabkan puluhan hewan itu terdampar, lalu mati.

Kejadian paus terdampar di kawasan NTT bukan pertama kalinya. Pada tahun 2024, sebanyak 50 ekor paus pilot terdampar di Alo, lalu pada tahun 2020 terdapat 11 ekor paus pilot yang terdampar di Sabu Raijua.

Akbar menuturkan, insiden itu berulang terjadi di area NTT, Laut Sawu, dan sekitar Kupang sebelah barat, lantaran perairannya merupakan jalur migrasi tahunan paus pilot dari arah selatan.

Berenang dari Australia yang dekat dengan Antarktik yang dingin, hewan ini mencari perairan yang hangat di daerah tropis. 

“Memang ya kejadian ini sudah terjadi beberapa kali. Meskipun tentu sering terjadi, bukan berarti alami,” ucap dia. 

Akbar menyampaikan, diperlukan pembedahan lebih lanjut (nekropsi) guna mengetahui penyebab pasti kematian 21 ekor dari 55 paus yang terdampar di Rote beberapa waktu lalu.

Baca juga:

Sebanyak 21 ekor paus yang mati setelah terdampar di Pantai Mbadokai, Desa Deranitan, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), dikuburkan di sekitar area pantai pada Selasa (10/3/2026) sore.Dokumen BKKPN Kupang Sebanyak 21 ekor paus yang mati setelah terdampar di Pantai Mbadokai, Desa Deranitan, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), dikuburkan di sekitar area pantai pada Selasa (10/3/2026) sore.

Namun, merujuk data-data nekropsi dari Balai Konservasi Kawasan Perairan Nasional, terdapat beberapa temuan yang salah satunya dipicu kerusakan organ ekolokasi pada hewan tersebut.

“Berkaitan kerusakan organ ekolokasi, tentu hal ini bisa makin parah karena kalau rusak ketika si paus pilot atau paus sejenis bergerak ke area dangkal, dia jadi enggak tahu sudah dangkal atau masih dalam. Jadi, ibaratnya sensornya rusak, enggak tahu dia akhirnya terdampar,” papar Akbar.

Selain itu, paus pilot merupakan hewan yang hidup berkelompok. Ketua paus merupakan betina dewasa, yang jika terjadi sesuatu seperti tersasar, akan memengaruhi anggota kelompoknya yang lain. 

Paus pun terkenal sensitif terhadap perubahan lingkungan berupa pencemaran air, logam berat, dan bahkan badai matahari.

“Memang dugaan-dugaan terbesar karena polusi suara, karena pencemaran air, bisa airnya kualitasnya buruk, atau ada plastik, ataupun ada sampah-sampah jaring ikan, jaring nelayan dan lain sebagainya,” jelas Akbar.

Sayangnya, International Union for Conservation of Nature (IUCN) masih belum mencatat data keseluruhan populasi paus pilot secara global. Alhasil, naik atau turunnya popuasi satwa itu pun tak diketahui pasti.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau