Selain paus pilot, penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan James Cook University, Australia, mengungkapkan, dari 1990-an hingga 2021, ada lebih dari 20 spesies paus dan lumba-lumba yang terdampar di perairan Indonesia.
“Jenis-jenis lain yang juga pernah tercatat, misalnya lumba-lumba hidung botol. Tiga tahun lalu juga ada paus biru yang besar itu tiga ekor terdampar mati, ada juga dugong, hiu paus sering terdampar di Yogyakarta tiap akhir dan awal tahun, pernah tercatat juga di sana,” terang dia.
Baca juga:
Guna memitigasi agar hal serupa tidak terjadi, masyarakat harus mengetahui pola pergerakan mereka.
Dengan demikian, ketika hewan bermigrasi, lintasan kapal dapat dialihkan ke jalur lain agar tidak terjadi tabrakan suara maupun tabrakan fisik dengan paus.
Di Selandia Baru, contohnya, program bernama PilotPulse dapat memberikan peringatan dini yang membuat mereka dapat mengantisipasi dan bersiaga jika ada indikasi paus mendekat dan akan terdampar.
Jika sudah terlanjur terdampar, hal yang paling krusial adalah protokol menanganinya dan bagaimana membawanya kembali ke laut secepat mungkin.
Akbar mengimbau agar masyarakat sekitar tidak menduduki, berswafoto, dan menutup lubang semprot paus untuk mencegah kematian.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya