Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas

Kompas.com, 2 April 2026, 11:58 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Upaya pemulihan pascabencana banjir di Sumatera mulai diarahkan pada pendekatan berbasis komunitas dan ketahanan jangka panjang, salah satunya melalui riset kolaboratif yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia.

Melalui kajian bertajuk Pemulihan Pascabencana Banjir Sumatera 2025, kedua lembaga mendorong pendekatan build back better (BBB) untuk memperkuat ketahanan masyarakat, khususnya dalam skema perhutanan sosial.

Riset ini dilakukan di dua provinsi terdampak, yakni Sumatera Barat dan Aceh, dengan melibatkan lima Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) yang menjadi bagian penting dalam pemulihan berbasis lokal.

Baca juga: Bapanas Sebut Papua Selatan Jadi Provinsi Paling Rawan Pangan dan Risiko Bencana

Senior Manager Regional Sumatera WRI Indonesia, Rakhmat Hidayat, mengatakan kajian ini diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam merancang langkah pemulihan yang lebih efektif.

“Harapannya, riset ini dapat menjadi acuan bagi pihak terkait dalam melakukan upaya pemulihan pascabencana,” ujarnya.

Ketahanan dan Peran Masyarakat

Kajian yang disusun selama Februari hingga Maret 2026 ini menggunakan pendekatan terintegrasi untuk memahami dampak bencana sekaligus merumuskan strategi pemulihan.

Penelitian memadukan model Pressure and Release (PAR) untuk mengidentifikasi kerentanan masyarakat, serta pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) yang menekankan pemanfaatan kekuatan lokal.

Selain itu, riset juga mengkaji peran berbagai aktor dan tingkat literasi kebencanaan masyarakat di wilayah terdampak.

Lokasi penelitian mencakup sejumlah daerah di Sumatera Barat, seperti Kota Padang dan Kabupaten Agam, serta wilayah di Aceh, termasuk Aceh Besar dan Aceh Utara.

Pendekatan ini menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga penguatan kapasitas masyarakat agar lebih tangguh menghadapi risiko bencana di masa depan.

Baca juga: Banjir dan Longsor Bikin Tanah Kurang Subur, BRIN Jelaskan Alasannya

Hasil Riset untuk Kebijakan Daerah

Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN, Ali Yansyah Abdurrahim, mengatakan hasil kajian ini masih akan disempurnakan melalui masukan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku lapangan.

“Kami berharap dokumen ini dapat memberikan manfaat nyata bagi para pengambil kebijakan di tingkat daerah,” ujarnya.

Lokakarya validasi hasil riset yang digelar di Padang juga menjadi forum untuk menghimpun masukan dari berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam penanganan bencana.

Melalui pendekatan kolaboratif tersebut, pemulihan pascabencana di Sumatera diharapkan tidak hanya bersifat respons jangka pendek, tetapi mampu membangun sistem yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
Konversi PLTD ke PLTS Dinilai Bisa Hemat Biaya Listrik hingga Rp 64 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
LSM/Figur
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Apa Benar Anggapan ASN Kerja Main-Main padahal Gajinya Serius, dan Swasta Sebaliknya?
Pemerintah
Wacana Konversi 120 Juta Motor Listrik Berisiko Gagal dan Bebankan Keuangan Negara
Wacana Konversi 120 Juta Motor Listrik Berisiko Gagal dan Bebankan Keuangan Negara
LSM/Figur
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan
LSM/Figur
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau