KOMPAS.com - Banjir bandang dan tanah longsor dapat menyebabkan tanah kurang subur. Sebab, bencana hidrometeorologi tersebut bisa mengubah struktur solum tanah, atau bagian terluar tanah dari permukaan sampai lapisan di mana perakaran tanaman tidak dapat menjangkaunya.
Longsor membalikkan posisi struktur, dengan lapisan teratas solum tanah dari lokasi kejadian ambrol ke lapisan di bawahnya. Yang tersisa di lokasi kejadian longsor adalah solum tanah dari lapisan yang paling dalam.
Baca juga:
Padahal solum tanah kaya akan unsur hara, yang mana dibutuhkan tanaman dan berada di lapisan atas. Solum tanah terluar tersebut juga kaya akan bahan organik.
"Tentunya kesuburan tanahnya akan berkurang. Demikian juga banjir ya," ujar Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yudhistira Nugraha dalam webinar Diseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim Ekstrem sebagai Strategi Ketahanan Pangan di Wilayah Rawan Bencana, Senin (30/3/2026).
Bencana alam seperti banjir dan longsor tak hanya merusak infrastruktur, tapi juga menghilangkan kesuburan tanah. Mengapa demikian?Banjir akan menggerus dan membawa lapisan atas solum tanah ke daerah lain. Seperti longsor, banjir memindahkan lapisan solum tanah yang lebih subur ke lokasi lain.
Imbasnya, banjir menyisakan solum tanah dari lapisan lebih dalam yang kurang subur.
Solum tanah bekas banjir atau longsor perlu direhabilitasi dengan menggunakan bahan organik.
Tanah terdegradasi itu juga dapat direhabilitasi dengan pengkondisian menggunakan kation-kation basa.
"Biasanya kation-kation basa yang ada itu sudah tercuci sehingga ada kation-kation yang sifatnya asam ya, perlu pengapuran, kemudian perlu aplikasi dan sebagainya. Intinya adalah perlu perbaikan tanah tersebut," tutur Yudhistira.
Sementara itu, daerah lain yang menampung lapisan atas solum tanah dari wilayah terdampak banjir atau longsor, akan menjadi semakin subur.
Perubahan struktur kimia dari solum tanah akibat banjir atau longsor perlu dicek ulang.
Varietas-varietas tanaman untuk solum tanah terdegradasi banjir atau longsor harus adaptif dengan kondisi miskin hara.
"Ada beberapa varietas yang toleran terhadap kemasaman. Jadi itu bisa dilihat di deskripsi, misalkan untuk tanaman padi, biasanya tanaman padi di lahan kering itu sudah tahan terhadap kemasaman atau keracunan aluminium," ucap dia.
Baca juga:
Kondisi salah satu rumah warga di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang rusak diterjang tanah longsor, Selasa (3/2/20206). Bencana alam seperti banjir dan longsor tak hanya merusak infrastruktur, tapi juga menghilangkan kesuburan tanah. Mengapa demikian?BRIN akan melepaskan varietas padi multi-toleran atau tahan terhadap kekeringan, salinitas, serta rendaman. Salah satunya karena mayoritas sentra produksi padi berada di kawasan pesisir.
Pengembangan varietas padi ini juga dilatarbelakangi krisis iklim yang memungkinkan banjir, kekeringan, serta salinitas dapat terjadi dalam satu musim tanam sehingga menurunkan hasil dan berisiko gagal panen.
Selain sudah melewati seleksi molekuler untuk kekeringan dan salinitas, varietas padi ini juga lolos ketahanan terhadap hama dan penyakit. Setelah berbagai pengujian, saat ini varietas padi tersebut sedang menjalani uji multi lokasi.
"Rencananya varietas ini akan dilepaskan di tahun 2026 ini. Mudah-mudahan juga bisa secepatnya diadopsi di daerah," ujar Yudhistira.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya