JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau pada 2026 datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini berpotensi menekan produksi kelapa sawit nasional serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan laporan "Outlook Industri Sawit Indonesia Q2 2026" yang diterbitkan Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), triwulan kedua tahun ini menjadi fase transisi yang krusial dari kondisi kelebihan air menuju ancaman kekeringan.
Masa transisi yang singkat dinilai mempersempit waktu pemulihan infrastruktur perkebunan, termasuk pengaturan pemupukan, pengelolaan air, hingga kesiapsiagaan menghadapi musim kering.
Baca juga: Bisakah Kebun Kelapa Sawit Jadi Hutan Lagi? Ini Penjelasan KLH Soal Reforestasi
Akibatnya, gangguan iklim tidak hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga mulai memengaruhi stabilitas operasional perkebunan secara keseluruhan.
Secara agregat, produksi kelapa sawit nasional pada Q2 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 12,84 juta ton, sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 12,94 juta ton.
Penurunan ini mencerminkan dampak kombinasi antara pemulihan pascabanjir yang belum tuntas dan tekanan kekeringan di awal musim kemarau.
Dalam perspektif neraca pasokan dan permintaan, pelemahan produksi tersebut berpotensi mempersempit surplus yang sejak awal relatif terbatas, sehingga meningkatkan sensitivitas harga terhadap dinamika global.
Wilayah sentra produksi di Sumatera bagian tengah dan selatan, serta sebagian Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, dinilai perlu mendapat perhatian khusus karena memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan neraca air.
Selain itu, percepatan musim kemarau juga meningkatkan risiko water stress, menurunkan efisiensi pemupukan, serta memperbesar potensi kebakaran, terutama di kawasan lahan gambut.
Perkebunan sawit di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar, mulai dari gangguan distribusi tandan buah segar (TBS) hingga peningkatan biaya mitigasi di tingkat kebun dan pabrik.
Baca juga: Akademisi IPB: Limbah Sawit Potensial jadi Produk Bernilai Tambah
IPOSS menilai kombinasi antara kemarau yang datang lebih awal, puncak musim kering yang lebih cepat, serta durasi kemarau yang lebih panjang menjadikan risiko pada 2026 semakin kompleks bagi industri sawit.
Kepala Divisi Riset IPOSS, Dimas H. Pamungkas, mengatakan dampak perubahan iklim pada 2026 tidak merata di setiap wilayah. Kalimantan Selatan, Lampung, dan Sulawesi Tenggara disebut sebagai daerah dengan risiko paling tinggi terdampak kemarau.
Ia mengingatkan, skenario terburuk dari kondisi saat ini adalah terulangnya dampak El Nino 2015, yang memicu kebakaran hutan dan lahan secara luas.
“Begitu ada karhutla, cakupan sinar matahari berkurang karena tertutup asap. Tanaman mengalami stres akibat panas dan kurang cahaya, sehingga produksi sawit nasional pada 2016 turun signifikan,” ujar Dimas dikutip Rabu (1/4/2026).
Baca juga: BRIN-Agrinas Palma Perkuat Riset Inovasi Industri Sawit Berkelanjutan
Menurut dia, jika periode kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya, maka tekanan terhadap tanaman, sistem perkebunan, hingga rantai logistik akan semakin besar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya