Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bahan Bakar Nabati di Indonesia Terhambat Lahan, Ini Solusi Lain Kurangi Impor BBM

Kompas.com, 27 Maret 2026, 17:11 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bahan bakar nabati, misalnya bioetanol dan biodiesel, bisa dikembangkan di Indonesia sebagai alternatif bahan bakar minyak (BBM), tapi masih terhambat ketersediaan lahan untuk perkebunan tanaman yang bisa jadi bahan baku. 

Apalagi tidak semua lahan di Tanah Air cocok untuk tanaman-tanaman bioenergi

Baca juga:

Adapun pasokan minyak global ke depannya berpotensi terganggu akibat konflik Amerika Serikat-Israel versus Iran sejak akhir Februari 2026 lalu. 

"Harus diingat, kalau memperluas kebun (kelapa) sawit (untuk biodiesel) misalnya, ada dampak lingkungan, kecuali kalau (perkebunan untuk tanaman-tanaman) bioetanol dan tanaman sawit di tanaman di lahan-lahan kritis. Yang untuk itu, silakan dikembangan," ujar Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa kepada Kompas.com, Kamis (26/3/2026).

Krisis energi, apa solusi ketergantungan BBM di Indonesia?

Dari kendaraan listrik hingga subsidi transportasi umum

Pengembangan bioetanol dan biodiesel di Indonesia menghadapi tantangan ketersediaan lahan. Pakar usulkan solusi lain untuk kurangi impor BBM.Dok LRT Jabodebek Pengembangan bioetanol dan biodiesel di Indonesia menghadapi tantangan ketersediaan lahan. Pakar usulkan solusi lain untuk kurangi impor BBM.

Fabby mengusulkan sejumlah rekomendasi kebijakan lain yang dapat menjadi solusi jangka panjang untuk membantu mengurangi ketergantungan dari impor BBM, daripada mengembangkan bahan bakar nabati.

Salah satunya adalah elektrifikasi transportasi dan berbagai sektor terkait lainnya.

"Percepat elektrifikasi, termasuk elektrifikasi peralatan kita memasak, itu bisa mengurangi impor bahan bakar, dari gas minyak bumi (LPG) maupun BBM," ucap dia.

Selanjutnya, Indonesia harus mengatur fuel economy standards, atau kebijakan efisiensi energi yang menetapkan batas maksimum konsumsi bahan bakar, atau standar emisi gas rumah kaca untuk kendaraan bermotor baru.

"Indonesia hari ini tidak punya standar itu. Kalau kita punya kendaraan yang lebih efisien, penambahan permintaan BBM yang baru bisa semakin landai. (Dan juga perlu) diatur beberapa mobil bermesin sudah usang yang boros (BBM)," tutur Fabby.

Usulan lainnya adalah, Indonesia perlu memberikan subsidi untuk transportasi umum dalam tiga bulan ke depan, yang disertai penyesuaian harga BBM. Misalnya, memberikan diskon 25 persen dari tarif normal untuk KRL, LRT, dan bus TransJakarta.

"Saya punya keyakinan permintaan BBM itu akan melandai atau malah turun. Lakukan ini enggak cuma di Jakarta ya, kota-kota besar yang ada transportasi umum. Itu lebih efektif untuk mengatasi ketergantungan impor BBM dan punya efek jangka panjang kan? Ke depan, ketergantungan kita (pada BBM) akan semakin turun," jelas dia.

Baca juga:

Optimalisasi potensi bahan bakar nabati

Pengembangan bioetanol dan biodiesel di Indonesia menghadapi tantangan ketersediaan lahan. Pakar usulkan solusi lain untuk kurangi impor BBM.KOMPAS.com/DINDA AULIA RAMADHANTY Pengembangan bioetanol dan biodiesel di Indonesia menghadapi tantangan ketersediaan lahan. Pakar usulkan solusi lain untuk kurangi impor BBM.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengoptimalisasi seluruh potensi bahan bakar nabati di Indonesia untuk ketahanan energi.

Prabowo meminta Bahlil mempercepat transisi energi dengan mendorong produksi bahan bakar alternatif terbarukan, seperti bioetanol dan biodiesel dari minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

"Bapak Presiden memerintahkan untuk mengoptimalkan seluruh potensi-potensi energi yang ada di kita, baik itu (bio)etanol, baik itu biodiesel dari CPO-CPO, termasuk kami bagaimana mendorong agar transisi energi lewat energi baru terbarukan juga kami bisa segera lakukan," kata Bahli, Rabu (25/3/2026), yang disiarkan melalui akun Youtube Sekretariat Presiden.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kedokteran Hewan IPB University Tembus Top 100 Dunia
Kedokteran Hewan IPB University Tembus Top 100 Dunia
Pemerintah
CFO Prediksi Dampak AI Terhadap Tenaga Kerja Masih Minim Tahun Ini
CFO Prediksi Dampak AI Terhadap Tenaga Kerja Masih Minim Tahun Ini
LSM/Figur
Bahan Bakar Nabati di Indonesia Terhambat Lahan, Ini Solusi Lain Kurangi Impor BBM
Bahan Bakar Nabati di Indonesia Terhambat Lahan, Ini Solusi Lain Kurangi Impor BBM
LSM/Figur
Balai Besar TNBTS Identifikasi Temuan 2 Spesies Anggrek Baru
Balai Besar TNBTS Identifikasi Temuan 2 Spesies Anggrek Baru
Pemerintah
Lowongan Kerja Analis Lingkungan Senior untuk Perusahaan di Qatar, Cek Syaratnya
Lowongan Kerja Analis Lingkungan Senior untuk Perusahaan di Qatar, Cek Syaratnya
Swasta
Ruang Kerja Terbuka Bikin Otak Karyawan Bekerja Lebih Keras
Ruang Kerja Terbuka Bikin Otak Karyawan Bekerja Lebih Keras
LSM/Figur
Kesehatan Jadi Pendorong Utama Tren Diet Berkelanjutan Global
Kesehatan Jadi Pendorong Utama Tren Diet Berkelanjutan Global
LSM/Figur
Air Purifier Disebut Bantu Serap Mikroplastik di Dalam Ruangan
Air Purifier Disebut Bantu Serap Mikroplastik di Dalam Ruangan
Swasta
Indonesia Bisa Andalkan EV untuk Ganti BBM, Apa Industrinya Sudah Siap?
Indonesia Bisa Andalkan EV untuk Ganti BBM, Apa Industrinya Sudah Siap?
Pemerintah
Waspada Keberagaman Semu, Ini Alasan Representasi Minoritas Sering Disalahartikan dalam Dunia Kerja
Waspada Keberagaman Semu, Ini Alasan Representasi Minoritas Sering Disalahartikan dalam Dunia Kerja
LSM/Figur
Orangutan Sumatera Bernama Pesek Melahirkan Anak Ke-7 di TN Gunung Leuser
Orangutan Sumatera Bernama Pesek Melahirkan Anak Ke-7 di TN Gunung Leuser
Pemerintah
Tertarik Kerja di Qatar untuk Spesialis Laporan Keberlanjutan? Cek Lowongan Berikut
Tertarik Kerja di Qatar untuk Spesialis Laporan Keberlanjutan? Cek Lowongan Berikut
Swasta
Harga CPO di Indonesia Bisa Naik Jika Konflik AS-Israel Vs Iran Tetap Lanjut
Harga CPO di Indonesia Bisa Naik Jika Konflik AS-Israel Vs Iran Tetap Lanjut
LSM/Figur
Oxford Policy Management Buka Lowongan Kerja terkait Konservasi di Indonesia, Ini Syaratnya
Oxford Policy Management Buka Lowongan Kerja terkait Konservasi di Indonesia, Ini Syaratnya
Swasta
Emisi AS Picu Kerugian Global hingga Rp 155.000 Triliun dalam 30 Tahun Terakhir
Emisi AS Picu Kerugian Global hingga Rp 155.000 Triliun dalam 30 Tahun Terakhir
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau