Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja

Kompas.com, 3 April 2026, 14:52 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Konsep ekonomi sirkular sering dianggap hanya sebagai cara untuk menghapus limbah dan polusi.

Namun, menurut penelitian terbaru dari Charles Darwin University (CDU) di Australia, jika diterapkan dengan tepat, metode ini juga bisa menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, hingga meningkatkan kesehatan masyarakat.

Sebagai informasi ekonomi sirkular merupakan sebuah sistem yang bertujuan meminimalkan limbah dengan cara menjaga agar bahan, produk, dan sumber daya tetap dapat digunakan selama mungkin.

Itu merupakan strategi kunci bagi masyarkat untuk bertransisi menjadi lebih hemat sumber daya dan ramah lingkungan.

Baca juga: Dari Konservasi hingga Ekonomi Sirkular, Begini Transformasi Taman Safari Cisarua Jelang Hari Keanekaragaman Hayati

Tantangan Ekonomi Sirkular

Melansir Phys, Selasa (31/3/2026) meskipun ada banyak pembicaraan global tentang perlunya menerapkan ekonomi sirkular, masih sedikit yang diketahui tentang bagaimana konsep ini dapat memberikan manfaat bagi pembangunan masyarakat.

Untuk mengetahui bagaimana ekonomi sirkular membawa manfaat bagi masyarakat, studi yang dipimpin oleh Dr. Michael Odei Erdiaw-Kwasie, Dosen Senior Bisnis CDU dan Dr. Matthew Abunyewah, Peneliti Ketahanan Psikososial CDU ini kemudian mengkaji hubungan antara inisiatif ekonomi sirkular dengan empat tujuan utama pembangunan masyarakat: ketahanan, inklusi sosial, pemberdayaan, dan keadilan sosial.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga tantangan yang sering muncul dalam penerapan ekonomi sirkular.

Pertama adalah investasi infrastruktur sirkular sangat mahal, sehingga pemerintah daerah yang kekurangan dana sering kali kesulitan membiayainya, meskipun ada manfaat jangka panjang seperti lapangan kerja, biaya pengolahan limbah yang lebih rendah, dan udara yang lebih bersih.

Kedua, beberapa model bisnis sirkular menggunakan perusahaan besar untuk menguasai data, pendapatan, dan layanan perbaikan. Hal ini akhirnya menyingkirkan lapangan kerja dan peluang bagi usaha kecil maupun masyarakat lokal.

Ketiga, ketika alat atau program baru tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan kembali atau memperbaiki barang, masyarakat tidak akan menggunakannya. Akibatnya, sumber daya jadi terbuang sia-sia dan mata pencaharian warga bisa terganggu.

"Banyak pihak merasa khawatir akan hilangnya tujuan pembangunan masyarakat serta perlunya meningkatkan kegiatan sosial dan lingkungan seiring dengan semakin gencarnya perusahaan menerapkan ekonomi sirkular," kata Dr. Erdiaw-Kwasie.

"Untuk mencapai hasil yang berkelanjutan, strategi sirkular harus melibatkan proses dan struktur sosial di dalamnya," paparnya lagi.

Ekonomi Sirkular dan Dampaknya bagi Masyarakat

Kendati menghadapi berbagai tantangan, jika diterapkan dengan tepat, ekonomi sirkular dapat memberikan benefit bagi masyarakat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau