JAKARTA, KOMPAS.com - Pakaian bekas yang kerap dianggap sebagai limbah bisa memiliki nilai guna baru. EcoTouch, perusahaan daur ulang di bawah PT Superbtex, menyulap pakaian bekas menjadi material peredam suara pada bangunan hingga souvenir.
Di sebuah bangunan dua lantai di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, aktivitas pengolahan limbah tekstil berlangsung setiap hari. Para pekerja memilah, membersihkan, hingga memproduksi pakaian bekas menjadi bahan baru yang lebih bernilai.
Brand Communications Manager EcoTouch, Agnes Kiki menjelaskan sejak tahun 2021, EcoTouch mendaur ulang pakaian tidak layak pakai yang didonasikan masyarakat dari Jakarta.
Baca juga: BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
"Kalau untuk tujuannya sendiri ya kami ingin menghadirkan solusi dari hulu ke hilir. Karena dari awal kami bisa bantu terima limbah, kami kelola, dan bahkan sampai menjadi produk jadinya bisa dinikmati oleh masyarakat," ujar Kiki saat ditemui Kompas.com, Rabu (1/4/2026).
Pakaian bekas tak hanya berasal dari masyarakat, tetapi juga perusahaan ataupun komunitas yang bekerja sama dengan EcoTouch. Perusahaan ini mengolah pakaian berbahan berbeda menjadi produk yang beragam.
Menurut Kiki, pakaian berbahan katun diolah menjadi tas, tempat pensil, hingga kain tenun. Sementara bahan denim atau jeans dimanfaatkan sebagai material peredam bangunan.
"Kami bisa terima pakaian katun campur poliester dengan catatan maksimal poliesternya kandungannya 40 persen. Jadi masih yang dominan serat naturalnya, karena mesin daur ulang kami pakai suhu panas tinggi jadi ketika poliester masuk ke mesin yang ada seratnya akan meleleh lalu lengket," ucap dia.
Untuk produk peredam, perusahaan lebih banyak menggunakan bahan denim demi memenuhi standar industri. Sementara bahan lain diolah menjadi kain flanel.
Baca juga: Jepang Daur Ulang Limbah Popok Bekas Jadi Produk Baru
"Memang itu enggak semuanya dijadikan felt, pasti ada yang sebagian buat yang peredam di-mix juga. Cuman kan karena dominannya denim tetap saja warnanya yang akan keluar lebih kebiruan," tutur Kiki.
Proses pengolahan dimulai dari pemilahan pakaian layak dan tidak layak pakai. Pakaian yang masih layak disalurkan ke yayasan, sedangkan yang tidak layak diproses lebih lanjut.
Setelah itu, pakaian dibersihkan dari aksesori seperti kancing dan resleting. Kain kemudian dipotong lalu dikirim ke pabrik pusat di Bandung untuk dicacah menjadi serat.
Sampah pakaian bekas di EcoTouch, Rabu (1/4/2026). EcoTouch menjual material peredam dinding berbentuk panel berukuran 60 cm x 120 cm dengan harga mulai dari Rp 50.000 per panel. Sementara, untuk kebutuhan atap, peredam dijual dalam bentuk gulungan berukuran 1 meter x 25 meter, dengan harga mulai dari Rp1,2 juta per gulung.
Produk peredam diklaim memiliki keunggulan dari sisi daya tahan dan keamanan. Materialnya sudah melalui proses fire retardant sehingga mampu menahan perambatan api dan lebih aman bagi kulit dibandingkan peredam konvensional.
Di samping itu, serat hasil daur ulang dijadikan kain tenun yang diproduksi penenun di Jawa Tengah.
"Kainnya ini pun masih ada teksturnya jadi unik. Teksturnya berasal dari patahan benang marena benang kami 100 persen waste jadi karakternya mudah patah, makanya kami harus kombinasikan dengan benang virgin atau benang baru biar kainnya kuat," jelas Kiki.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya