Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...

Kompas.com, 4 April 2026, 10:44 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pakaian bekas yang kerap dianggap sebagai limbah bisa memiliki nilai guna baru. EcoTouch, perusahaan daur ulang di bawah PT Superbtex, menyulap pakaian bekas menjadi material peredam suara pada bangunan hingga souvenir. 

Di sebuah bangunan dua lantai di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, aktivitas pengolahan limbah tekstil berlangsung setiap hari. Para pekerja memilah, membersihkan, hingga memproduksi pakaian bekas menjadi bahan baru yang lebih bernilai.

Brand Communications Manager EcoTouch, Agnes Kiki menjelaskan sejak tahun 2021, EcoTouch mendaur ulang pakaian tidak layak pakai yang didonasikan masyarakat dari Jakarta.

Baca juga: BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat

"Kalau untuk tujuannya sendiri ya kami ingin menghadirkan solusi dari hulu ke hilir. Karena dari awal kami bisa bantu terima limbah, kami kelola, dan bahkan sampai menjadi produk jadinya bisa dinikmati oleh masyarakat," ujar Kiki saat ditemui Kompas.com, Rabu (1/4/2026).

Pakaian bekas tak hanya berasal dari masyarakat, tetapi juga perusahaan ataupun komunitas yang bekerja sama dengan EcoTouch. Perusahaan ini mengolah pakaian berbahan berbeda menjadi produk yang beragam.

Menurut Kiki, pakaian berbahan katun diolah menjadi tas, tempat pensil, hingga kain tenun. Sementara bahan denim atau jeans dimanfaatkan sebagai material peredam bangunan.

"Kami bisa terima pakaian katun campur poliester dengan catatan maksimal poliesternya kandungannya 40 persen. Jadi masih yang dominan serat naturalnya, karena mesin daur ulang kami pakai suhu panas tinggi jadi ketika poliester masuk ke mesin yang ada seratnya akan meleleh lalu lengket," ucap dia.

Untuk produk peredam, perusahaan lebih banyak menggunakan bahan denim demi memenuhi standar industri. Sementara bahan lain diolah menjadi kain flanel.

Baca juga: Jepang Daur Ulang Limbah Popok Bekas Jadi Produk Baru

"Memang itu enggak semuanya dijadikan felt, pasti ada yang sebagian buat yang peredam di-mix juga. Cuman kan karena dominannya denim tetap saja warnanya yang akan keluar lebih kebiruan," tutur Kiki.

Proses pengolahan dimulai dari pemilahan pakaian layak dan tidak layak pakai. Pakaian yang masih layak disalurkan ke yayasan, sedangkan yang tidak layak diproses lebih lanjut.

Setelah itu, pakaian dibersihkan dari aksesori seperti kancing dan resleting. Kain kemudian dipotong lalu dikirim ke pabrik pusat di Bandung untuk dicacah menjadi serat.

Sampah pakaian bekas di EcoTouch, Rabu (1/4/2026). KOMPAS.com/ZINTAN Sampah pakaian bekas di EcoTouch, Rabu (1/4/2026).

EcoTouch menjual material peredam dinding berbentuk panel berukuran 60 cm x 120 cm dengan harga mulai dari Rp 50.000 per panel. Sementara, untuk kebutuhan atap, peredam dijual dalam bentuk gulungan berukuran 1 meter x 25 meter, dengan harga mulai dari Rp1,2 juta per gulung.

Produk peredam diklaim memiliki keunggulan dari sisi daya tahan dan keamanan. Materialnya sudah melalui proses fire retardant sehingga mampu menahan perambatan api dan lebih aman bagi kulit dibandingkan peredam konvensional.

Di samping itu, serat hasil daur ulang dijadikan kain tenun yang diproduksi penenun di Jawa Tengah.

"Kainnya ini pun masih ada teksturnya jadi unik. Teksturnya berasal dari patahan benang marena benang kami 100 persen waste jadi karakternya mudah patah, makanya kami harus kombinasikan dengan benang virgin atau benang baru biar kainnya kuat," jelas Kiki.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Lestari Forum 2026: 'Sustainability' Bagian dari Inti Bisnis
Lestari Forum 2026: "Sustainability" Bagian dari Inti Bisnis
Swasta
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
BUMN
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Pemerintah
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau