Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WWF Usulkan Transformasi Pembiayaan Hutan Indonesia untuk Keberlanjutan

Kompas.com, 8 April 2026, 17:22 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

Sumber Antara

JAKARTA, KOMPAS.com - World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia mengusulkan adanya transformasi sistem pembiayaan kehutanan di Indonesia guna memperkuat perlindungan hutan sekaligus mendukung pencapaian target keberlanjutan lingkungan nasional.

Menurut Sustainable Finance Manager WWF Indonesia Risyad Tri Setiaputra, kesenjangan pembiayaan sektor kehutanan Indonesia saat ini mencapai sekitar 5 miliar dollar AS per tahun, sehingga diperlukan transformasi seperti perubahan arah kebijakan investasi agar lebih mendukung keberlanjutan pengelolaan hutan.

“Kondisi ini menunjukkan pembiayaan yang merusak hutan jauh lebih besar dibandingkan dana konservasi yang tersedia saat ini. Jika tidak segera diperbaiki maka target lingkungan nasional akan semakin sulit dicapai,” ujar Risyad dalam diskusi “Menutup Celah Pembiayaan Hutan di Indonesia” di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Baca juga: Inovasi Guru di Gayo Lues Jaga Hutan Lewat Penyulingan Atsiri

Berdasarkan kajian WWF bersama Conservation Strategy Fund (CSF), aliran dana positif untuk sektor kehutanan tercatat sekitar 244 juta dolar AS per tahun. Sementara itu, aliran dana negatif mencapai 3,4 miliar dolar AS yang sebagian besar berasal dari sektor swasta berbasis lahan.

Perubahan Kebijakan

Dalam kesempatan yang sama, Indonesia Country Director CSF Indonesia Desta Pratama menilai ketimpangan tersebut mencerminkan perlunya perubahan arah kebijakan investasi agar lebih mendukung keberlanjutan pengelolaan hutan.

“Perlu ada pergeseran investasi agar lebih mendukung kegiatan ramah lingkungan serta mengurangi tekanan terhadap kawasan hutan saat ini. Langkah tersebut penting untuk memastikan pembiayaan mendukung perlindungan hutan dan keberlanjutan ekosistem dalam jangka panjang,” kata Desta.

Lebih lanjut, dipaparkan pula hasil analisis studi yang menunjukkan kebutuhan pembiayaan untuk mencapai target kebijakan kehutanan nasional mencapai sekitar 5,3 miliar dolar AS per tahun. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang bagi penguatan pembiayaan sektor kehutanan.

Risyad lmenyampaikan bahwa transformasi sistem keuangan menjadi salah satu langkah penting untuk menutup kesenjangan tersebut, termasuk melalui penguatan instrumen pembiayaan hijau dan peningkatan transparansi.

Baca juga: Inovasi Guru di Gayo Lues Jaga Hutan Lewat Penyulingan Atsiri

“Transformasi sistem keuangan menjadi penting melalui penguatan instrumen seperti obligasi hijau serta pengembangan pasar karbon yang kredibel saat ini. Selain itu, transparansi dan manajemen risiko lingkungan harus diperkuat dalam sistem pembiayaan nasional,” ujar Risyad.

WWF dan CSF berharap sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dapat mempercepat perbaikan sistem pembiayaan kehutanan secara berkelanjutan guna mendukung pencapaian target iklim serta menjaga kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau