KOMPAS.com - Peneliti dari Universitas McGill di Kanada mengungkapkan sumur minyak dan gas yang sudah tidak beroperasi ternyata mengeluarkan gas metana 1.000 kali lipat lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Gas metana ini bukan cuma sisa gas alam biasa, tapi dihasilkan oleh mikroba yang hidup di dalam sumur tersebut.
Melansir Down to Earth, Jumat (10/4/2026) metana mikroba adalah gas metana yang dihasilkan oleh makhluk hidup sangat kecil bernama methanogen. Gas ini muncul saat bahan organik membusuk di tempat yang tidak ada oksigennya.
Proses ini terjadi secara alami di rawa-rawa, sawah, tempat pembuangan sampah, hingga di dalam sistem pencernaan hewan ternak seperti sapi.
Baca juga: Tanah Hutan Bisa Lebih Banyak Serap Metana dari Atmosfer
“Metana adalah gas rumah kaca yang sangat kuat saat terlepas ke atmosfer. Secara khusus, studi ini menunjukkan bahwa sumur minyak dan gas yang sudah tidak aktif bisa terus mengeluarkan metana mikroba, bahkan jauh setelah cadangan minyak atau gas di dalamnya sudah benar-benar habis,” kata Mary Kang, profesor teknik sipil dan salah satu penulis studi tersebut.
Penelitian ini berdasarkan sampel yang diambil dari 401 sumur yang tidak beroperasi di seluruh Kanada, terutama di wilayah Kanada Barat yang memiliki lebih dari 90 persen sumur jenis tersebut.
Kategori mencakup sumur yang tidak aktif, sumur yang memang tidak pernah menghasilkan apa-apa, hingga sumur yang sudah berhenti berproduksi.
Laporan kemudian diterbitkan dalam jurnal Environmental Science and Technology.
“Dalam studi ini, kami memeriksa sifat kimia seperti komposisi gas dan jejak isotop, yang membantu kami memahami dari mana asal bocoran metana tersebut. Analisis ini sangat akurat, sehingga kami berhasil memastikan asal-usul emisi dari 100 sumur dari total 401 sumur yang kami teliti,” ujar Gianni Micucci, peneliti paskadoktoral bidang teknik sipil dan salah satu penulis studi ini.
Kanada memiliki hampir 500.000 sumur minyak dan gas yang sudah tidak beroperasi. Meski tidak semuanya membocorkan metana, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa hanya 12 persen sumur yang paling parah bocornya menyumbang 98 persen dari total emisi.
Studi terbaru ini menemukan bahwa sebagian besar kebocoran berasal dari sumber dalam tanah yang terbentuk karena suhu panas.
Namun, studi ini juga menekankan bahwa metana hasil kerja mikroba yang biasanya ada di lapisan tanah dangkal ternyata jumlahnya jauh lebih besar dari yang diperkirakan selama ini.
Temuan ini juga menunjukkan bahwa separuh dari sumur yang diteliti mengeluarkan campuran antara metana panas bumi (termogenik) dan metana hasil mikroba.
Baca juga: Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Meskipun metana panas bumi tetap menjadi tanda utama sumur dengan emisi tinggi karena jumlahnya bisa 500 kali lebih besar dibanding metana mikroba, besarnya jumlah emisi mikroba yang baru ditemukan ini membuat upaya perbaikan menjadi lebih rumit.
Kang juga mencatat bahwa bawah tanah adalah sistem yang rumit dengan banyak lapisan gas, sehingga sulit untuk menentukan dengan tepat dari mana asal metana tersebut.
Namun, ia menambahkan bahwa temuan ini dapat membantu memperbaiki cara pemeriksaan kondisi sumur serta membantu merancang strategi perbaikan yang lebih efektif.
Studi ini menggunakan metode kimia untuk membedakan asal-usul metana, memberikan wawasan baru tentang bagaimana emisi bergerak di bawah tanah dan bocor melalui infrastruktur sumur.
Para peneliti mengatakan bahwa memahami sifat dan jalur kebocoran emisi ini sangatlah penting, terutama saat negara-negara sedang berjuang keras mengurangi metana, gas rumah kaca berbahaya yang memicu perubahan iklim dalam waktu dekat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya