KOMPAS.com - Kanada mendanai program penguatan peran perempuan dalam melindungi Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), istilah geografis untuk perairan di Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon.
Segitiga Terumbu Karang merupakan kawasan yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia, dengan 76 persen spesies terumbu karang dan 37 persen spesies ikan karang dunia.
Namun, krisis iklim, eksploitasi berlebihan, dan praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan terus mengancam kelestarian keanekaragaman hayati di Segitiga Terumbu Karang.
Baca juga: Ini Penyebab Terumbu Karang Sulit Pulih Setelah Rusak
Pemberdayaan perempuan pesisir melalui program Global Affairs Canada dilaksanakan di empat negara, yaitu Indonesia, Filipina, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon. Di Indonesia, program tersebut dilaksanakan di dua wilayah strategis Segitiga Terumbu Karang yang memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi, tetapi semakin terancam krisis iklim dan praktik eksploitasi sumber daya alam.
Pertama, Bentang Alam Kepala Burung di Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Kedua, Kepulauan Teon, Nila, dan Serua di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Jess Dutton menggarisbawahi pentingnya perluasan akses terhadap mekanisme pendanaan yang memungkinkan partisipasi setara perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam dan solusi krisis iklim.
Ia berharap, perempuan pesisir bisa mengambil peran kepemimpinan dalam melindungi ekosistem laut dan pesisir sekaligus memperkuat ketangguhan komunitas mereka.
“Kanada meyakini bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam perlindungan lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam,” ujar Dutton dalam keterangan tertulis, Selasa (14/4/2026).
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) di Indonesia bersama pemerintah dan masyarakat lokal telah bekerja di Bentang Laut Kepala Burung sejak tahun 2002.
Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto mengatakan, mendukung kearifan tradisional dan praktik lokal, seperti sasi, dalam perlindungan dan pengelolaan sumber daya laut menjadi salah satu pendekatan utama yang dilakukan.
“Di tiga kampung di Raja Ampat, kami mendukung kelompok perempuan untuk memimpin praktik sasi. Kami juga akan melakukan pendampingan kepada kelompok perempuan di Kepulauan Teon, Nila, dan Serua. Dukungan dari Pemerintah Kanada memungkinkan kami untuk semakin memperkuat peran aktif perempuan dalam memimpin aksi perlindungan dan pengelolaan laut yang lebih adil dan berkelanjutan,” tutur Herlina.
Baca juga: 51 Persen Terumbu Karang Dunia Memutih akibat Gelombang Panas 2014–2017
Joom Jak Sasi merupakan kelompok perempuan yang dipercaya untuk mengelola sumber daya alam di wilayah mereka melalui sistem sasi sejak tahun 2022.
Seorang anggota kelompok perempuan Joom Jak Sasi, Silpa Botot mengatakan, dukungan pendanaan sangat penting untuk menjaga kelestarian alam yang merupakan warisan leluhur mereka.
"Semoga ke depan upaya kami bisa lebih baik dan lebih maju, serta tidak berhenti sampai di sini. Kami masih ingin terus belajar agar alam tetap terjaga hingga anak cucu,” ujar Silpa, perempuan asal Kampung Aduwei, Distrik Misool Utara, Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya