KOMPAS.com - Generasi Z atau Gen Z kini mulai beralih dari pekerjaan formal ke sektor informal. Sebagian besar generasi itu dilaporkan tak lagi meyakini pekerjaan kantoran sebagai jalan satu-satunya menuju gaji tetap dan karier yang stabil.
Hal itu dikarenakan Gen Z melihat generasi milenial tetap berakhir dengan kondisi burnout atau kelelahan, terlilit utang, bahkan kehilangan pekerjaan meski telah bekerja dengan benar. Sekitar tiga perempat Generasi Z mengaitkan pekerjaan kantoran dengan kelelahan serta ketidakstabilan.
Mereka juga terus diperingatkan soal kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bakal mengambil alih banyak pekerjaan kantoran dalam dekade mendatang.
"Hampir satu dari empat orang secara serius mempertimbangkan, atau bahkan sudah mengejar, karier di bidang keahlian teknis," tulis Fortune, Selasa (14/4/2026).
Baca juga: Atasan Cenderung Bebani Pekerjaan Lebih Banyak ke Pekerja yang Rajin, Mengapa?
Dalam laporan ini, terungkap bahwa media sosial, terutama TikTok, berperan besar dalam tren pergeseran karier Gen Z.
Separuh Gen Z yang disurvei mengatakan minat mereka terhadap pekerjaan seperti tukang las, teknisi listrik, dan tukang ledeng bermula dari media sosial.
TikTok menjadi platform utama, dengan satu dari tiga orang menonton konten terkait pekerjaan teknis dan kemudian tertarik menekuninya.
Para kreator konten di bidang ini mampu menarik jutaan penonton dengan menunjukkan pekerjaan teknis dapat memberikan otonomi, keamanan finansial, dan keseimbangan hidup yang lebih baik dibandingkan bekerja kantor pada level awal.
Generasi Z juga melihat banyak milenial berpendidikan tinggi di TikTok mengeluhkan gaji pekerjaan kantor yang tidak cukup untuk hidup mandiri. Banyak lulusan baru mengaku harus mengirim ribuan lamaran kerja tanpa hasil, di tengah berkurangnya pekerjaan pemula akibat otomatisasi.
Baca juga: Menakar Potensi Green Jobs di Indonesia, Mulai Dilirik Pekerja Muda
Sebanyak 78 persen Gen Z percaya bahwa pekerjaan teknis lebih tahan terhadap gangguan AI dibandingkan pekerjaan kantoran.
Namun, di tengah meningkatnya minat Gen Z terhadap pekerjaan teknis, sejumlah studi mengingatkan sektor ini tidak selalu seideal yang ditampilkan di media sosial.
Perusahaan distribusi perlengkapan teknis, SupplyHouse, menyatakan realitas pekerjaan teknis kerap berbeda dengan gambaran di platform digital. Sekitar 30 persen Gen Z mengaku pernah disarankan oleh orangtua, guru, atau konselor untuk tidak menekuni jalur karier tersebut.
Pernyataan tersebut sejalan dengan temuan penelitian dari Yijin Hardware yang menunjukkan pekerjaan teknis termasuk kategori berisiko. Risikonya mencakup tingkat kecelakaan kerja yang tinggi, kondisi kerja yang tidak menentu, serta peluang karier yang relatif terbatas.
Studi lain dari WalletHub juga menempatkan beberapa pekerjaan teknis, seperti tukang las dan mekanik otomotif, di peringkat bawah dalam daftar pekerjaan entry-level terbaik di Amerika Serikat pada 2025.
"Meskipun pekerjaan teknis relatif lebih sulit untuk digantikan oleh otomatisasi, perkembangan teknologi seperti robotika dan prefabrikasi tetap berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja di sektor tersebut," tutur Analis WalletHub, Chip Lupo.
Selain itu, pekerjaan teknis dinilai tidak sepenuhnya kebal terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) dan sangat bergantung pada kondisi ekonomi serta permintaan pasar.
Dari sisi kesejahteraan, pekerjaan teknis juga belum tentu menjamin tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi.
Satu studi menempatkan teknisi listrik sebagai salah satu profesi dengan tingkat kebahagiaan terendah, akibat tuntutan fisik yang tinggi serta jam kerja panjang yang tidak selalu sebanding dengan pendapatan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya