Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?

Kompas.com, 14 April 2026, 20:30 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Generasi Z atau Gen Z kini mulai beralih dari pekerjaan formal ke sektor informal. Sebagian besar generasi itu dilaporkan tak lagi meyakini pekerjaan kantoran sebagai jalan satu-satunya menuju gaji tetap dan karier yang stabil.

Hal itu dikarenakan Gen Z melihat generasi milenial tetap berakhir dengan kondisi burnout atau kelelahan, terlilit utang, bahkan kehilangan pekerjaan meski telah bekerja dengan benar. Sekitar tiga perempat Generasi Z mengaitkan pekerjaan kantoran dengan kelelahan serta ketidakstabilan.

Mereka juga terus diperingatkan soal kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bakal mengambil alih banyak pekerjaan kantoran dalam dekade mendatang. 

"Hampir satu dari empat orang secara serius mempertimbangkan, atau bahkan sudah mengejar, karier di bidang keahlian teknis," tulis Fortune, Selasa (14/4/2026).

Baca juga: Atasan Cenderung Bebani Pekerjaan Lebih Banyak ke Pekerja yang Rajin, Mengapa?

Dalam laporan ini, terungkap bahwa media sosial, terutama TikTok, berperan besar dalam tren pergeseran karier Gen Z.

Pengaruh Media Sosial

Separuh Gen Z yang disurvei mengatakan minat mereka terhadap pekerjaan seperti tukang las, teknisi listrik, dan tukang ledeng bermula dari media sosial.

TikTok menjadi platform utama, dengan satu dari tiga orang menonton konten terkait pekerjaan teknis dan kemudian tertarik menekuninya.

Para kreator konten di bidang ini mampu menarik jutaan penonton dengan menunjukkan pekerjaan teknis dapat memberikan otonomi, keamanan finansial, dan keseimbangan hidup yang lebih baik dibandingkan bekerja kantor pada level awal.

Generasi Z juga melihat banyak milenial berpendidikan tinggi di TikTok mengeluhkan gaji pekerjaan kantor yang tidak cukup untuk hidup mandiri. Banyak lulusan baru mengaku harus mengirim ribuan lamaran kerja tanpa hasil, di tengah berkurangnya pekerjaan pemula akibat otomatisasi.

Baca juga: Menakar Potensi Green Jobs di Indonesia, Mulai Dilirik Pekerja Muda

Sebanyak 78 persen Gen Z percaya bahwa pekerjaan teknis lebih tahan terhadap gangguan AI dibandingkan pekerjaan kantoran.

Namun, di tengah meningkatnya minat Gen Z terhadap pekerjaan teknis, sejumlah studi mengingatkan sektor ini tidak selalu seideal yang ditampilkan di media sosial.

Perusahaan distribusi perlengkapan teknis, SupplyHouse, menyatakan realitas pekerjaan teknis kerap berbeda dengan gambaran di platform digital. Sekitar 30 persen Gen Z mengaku pernah disarankan oleh orangtua, guru, atau konselor untuk tidak menekuni jalur karier tersebut.

Pernyataan tersebut sejalan dengan temuan penelitian dari Yijin Hardware yang menunjukkan pekerjaan teknis termasuk kategori berisiko. Risikonya mencakup tingkat kecelakaan kerja yang tinggi, kondisi kerja yang tidak menentu, serta peluang karier yang relatif terbatas.

Studi lain dari WalletHub juga menempatkan beberapa pekerjaan teknis, seperti tukang las dan mekanik otomotif, di peringkat bawah dalam daftar pekerjaan entry-level terbaik di Amerika Serikat pada 2025.

"Meskipun pekerjaan teknis relatif lebih sulit untuk digantikan oleh otomatisasi, perkembangan teknologi seperti robotika dan prefabrikasi tetap berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja di sektor tersebut," tutur Analis WalletHub, Chip Lupo.

Selain itu, pekerjaan teknis dinilai tidak sepenuhnya kebal terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) dan sangat bergantung pada kondisi ekonomi serta permintaan pasar.

Dari sisi kesejahteraan, pekerjaan teknis juga belum tentu menjamin tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi.

Satu studi menempatkan teknisi listrik sebagai salah satu profesi dengan tingkat kebahagiaan terendah, akibat tuntutan fisik yang tinggi serta jam kerja panjang yang tidak selalu sebanding dengan pendapatan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Pemerintah
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya 'Windfall Tax' Diterapkan
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya "Windfall Tax" Diterapkan
LSM/Figur
Pengamat: Lingkungan Kerja 'Toxic' karena Supervisor jadi 'Raja Kecil'
Pengamat: Lingkungan Kerja "Toxic" karena Supervisor jadi "Raja Kecil"
Swasta
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau