KOMPAS.com - Gelombang panas di laut membuat daya rusak badai dan siklon tropis di seluruh dunia jadi jauh lebih parah, menurut penelitian terbaru.
Temuan tersebut disimpulkan setelah peneliti mengamati 1.600 siklon tropis sejak tahun 1981.
Melansir Phys, Sabtu (11/4/2026) mereka menemukan bahwa badai yang melewati wilayah air laut yang sangat panas cenderung menguat dengan sangat cepat, dan masalah ini sekarang semakin sering terjadi.
Akibatnya, jumlah bencana yang menyebabkan kerugian besar setidaknya Rp17,1 triliun atau 1 miliar dolar AS per peristiwa, meningkat hingga 60 persen saat badai tersebut menghantam daratan.
Hasil studi ini dipublikasikan pada hari Jumat di jurnal Science Advances.
Memahami lebih dalam bagaimana gelombang panas laut memperkuat badai dapat membantu petugas cuaca, tim penyelamat, dan pemerintah untuk lebih siap menghadapi badai di masa depan.
Baca juga: Lumut Bantu Serap Polusi Udara dan Kurangi Risiko Badai Besar
Dalam studi ini, peneliti mendefinisikan gelombang panas laut sebagai wilayah perairan luas yang suhunya jauh lebih panas dari biasanya dalam waktu lama. Karena perubahan iklim, suhu laut terus meningkat dan semakin berbahaya.
"Gelombang panas laut ini memengaruhi lebih dari setengah siklon tropis yang menghantam daratan," kata salah satu penulis studi, Gregory Foltz, seorang ahli oseanografi di National Oceanic and Atmospheric Administration.
"Gelombang panas ini terjadi lebih dekat ke daratan dan lebih sering, jadi saya pikir orang perlu memperhatikan dan mengetahui bahwa gelombang panas lebih mungkin menyebabkan kerusakan ekstrem ketika menghantam daratan," terangnya lagi.
Itu mengapa menurut Foltz, sangat penting bagi ahli cuaca untuk memantau apakah jalur badai akan melewati area laut yang panas. Jika iya, badai tersebut kemungkinan besar akan menguat dengan sangat cepat, yang berpotensi menyebabkan dampak kerusakan yang lebih besar saat mencapai daratan. Air laut yang hangat pun menjadi "bahan bakar" bagi badai.
Para peneliti menjelaskan bahwa kerusakan besar ini bukan disebabkan karena makin banyaknya bangunan di pinggir pantai.
Soheil Radfar dari Universitas Princeton membandingkan badai yang melewati air panas dengan badai yang tidak, pada wilayah yang tingkat pembangunannya sama. Hasilnya tetap sama: air yang panaslah penyebab utamanya.
Ilmu pengetahuan sudah lama membuktikan bahwa air laut yang hangat adalah "bahan bakar" yang memperkuat badai, sehingga hubungan sebab-akibatnya sudah sangat jelas.
Menurut Radfar, ini artinya masa depan akan menjadi lebih berbahaya.
"Dalam 40 tahun ke depan, tantangan bagi wilayah pesisir akan sangat berat karena badai akan menguat lebih cepat dan gelombang panas laut akan lebih sering terjadi," jelasnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya