Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen

Kompas.com, 15 April 2026, 15:01 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Gelombang panas di laut membuat daya rusak badai dan siklon tropis di seluruh dunia jadi jauh lebih parah, menurut penelitian terbaru.

Temuan tersebut disimpulkan setelah peneliti mengamati 1.600 siklon tropis sejak tahun 1981.

Melansir Phys, Sabtu (11/4/2026) mereka menemukan bahwa badai yang melewati wilayah air laut yang sangat panas cenderung menguat dengan sangat cepat, dan masalah ini sekarang semakin sering terjadi.

Akibatnya, jumlah bencana yang menyebabkan kerugian besar setidaknya Rp17,1 triliun atau 1 miliar dolar AS per peristiwa, meningkat hingga 60 persen saat badai tersebut menghantam daratan.

Hasil studi ini dipublikasikan pada hari Jumat di jurnal Science Advances.

Memahami lebih dalam bagaimana gelombang panas laut memperkuat badai dapat membantu petugas cuaca, tim penyelamat, dan pemerintah untuk lebih siap menghadapi badai di masa depan.

Baca juga: Lumut Bantu Serap Polusi Udara dan Kurangi Risiko Badai Besar

Suhu Hangat adalah Bahan Bakar Badai

Dalam studi ini, peneliti mendefinisikan gelombang panas laut sebagai wilayah perairan luas yang suhunya jauh lebih panas dari biasanya dalam waktu lama. Karena perubahan iklim, suhu laut terus meningkat dan semakin berbahaya.

"Gelombang panas laut ini memengaruhi lebih dari setengah siklon tropis yang menghantam daratan," kata salah satu penulis studi, Gregory Foltz, seorang ahli oseanografi di National Oceanic and Atmospheric Administration.

"Gelombang panas ini terjadi lebih dekat ke daratan dan lebih sering, jadi saya pikir orang perlu memperhatikan dan mengetahui bahwa gelombang panas lebih mungkin menyebabkan kerusakan ekstrem ketika menghantam daratan," terangnya lagi.

Itu mengapa menurut Foltz, sangat penting bagi ahli cuaca untuk memantau apakah jalur badai akan melewati area laut yang panas. Jika iya, badai tersebut kemungkinan besar akan menguat dengan sangat cepat, yang berpotensi menyebabkan dampak kerusakan yang lebih besar saat mencapai daratan. Air laut yang hangat pun menjadi "bahan bakar" bagi badai.

Para peneliti menjelaskan bahwa kerusakan besar ini bukan disebabkan karena makin banyaknya bangunan di pinggir pantai.

Soheil Radfar dari Universitas Princeton membandingkan badai yang melewati air panas dengan badai yang tidak, pada wilayah yang tingkat pembangunannya sama. Hasilnya tetap sama: air yang panaslah penyebab utamanya.

Ilmu pengetahuan sudah lama membuktikan bahwa air laut yang hangat adalah "bahan bakar" yang memperkuat badai, sehingga hubungan sebab-akibatnya sudah sangat jelas.

Tantangan Besar di Masa Depan

Menurut Radfar, ini artinya masa depan akan menjadi lebih berbahaya.

"Dalam 40 tahun ke depan, tantangan bagi wilayah pesisir akan sangat berat karena badai akan menguat lebih cepat dan gelombang panas laut akan lebih sering terjadi," jelasnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
LSM/Figur
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau