JAKARTA, KOMPAS.com - Kecerdasan buatan (AI) membuka peluang lebih besar bagi pelaku kejahatan siber.
Dalam hal ini, pelaku kejahatan dapat memanfaatkan AI untuk pemindaian sistem, hingga penyusunan strategi serangan. AI juga membuat serangan siber menjadi bertambah cepat, lebih personal, dan semakin sulit dideteksi.
Menurut Indonesia Country Manager Synology Inc, Clara Hsu, AI membuat ancaman siber hari ini jauh berbeda dari sebelumnya.
Pola serangan siber, seperti phishing, pencurian kredensial, dan ransomware, masih menjadi metode utama. Namun, AI memungkinkan pendekatan serangan siber saat ini jauh lebih canggih.
Baca juga: Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Misalnya, serangan phishing bisa disusun secara sangat personal, dengan pesan yang dikirim sudah tidak tampak generik dan disesuaikan konteks pekerjaan, jabatan, sampai gaya komunikasi target. Imbasnya, serangan siber menjadi jauh lebih meyakinkan dan sulit dikenali.
Setelah kredensial berhasil diperoleh, pelaku kejahatan siber dapat masuk ke dalam sistem dan bergerak secara tersembunyi. Dalam banyak kasus, pelaku tidak segera melakukan serangan siber, dengan justru menunggu momen yang paling kritis, seperti akhir kuartal atau periode bisnis sibuk untuk meluncurkan ransomware dan memaksimalkan dampak terhadap operasional.
Selain metode utama di atas, dengan adanya AI, pola serangan siber kemungkinan akan semakin beragam ke depannya.
"Karena possibility dari AI itu sangat luas. Tidak cuma mengelabuhi, AI juga bisa otomatis mencari target baru. AI juga otomatis mencari celah-celah yang ada dari segala macam sistem di dunia. Bukan hanya pengguna, AI juga bisa (membantu) menyerang vendor, salah satunya Synology dan sering kami melihat ransomeware menyerang ke backdoor, ke opertor system, seperti Windows," ujar Clara dalam acara Media Gathering bertajuk Cyber Resillience in the AI Era, Selasa (14/3/2026).
AI memungkinkan pelaku kejahatan siber mencari dan mengeksploitasi celah-celah dari berbagai sistem IT. Seiring semakin canggihnya AI, Clara memprediksi, serangan siber akan mengalami kenaikan minimal dua kali lipat
"Karena bayangkan saja sekarang adanya AI, saya tulis email, saya tinggal 'draft me email'. Saya butuh hanya satu menit selesai email saya yang mungkin saya butuh 30 menit. Efisiensi saya naik 30 kali lipat. Itu juga terjadi di hacker. Hacker bisa dengan gampang menganalisa 'ini target-target yang mau saya serang', awalnya dia manual tuh filternya, sekarang dia filter by AI. Jadi sudah semakin cepat, semakin banyak serangan, dan semakin pintar serangannya," tutur Clara.
Perkembangan AI mempercepat transformasi digital di berbagai sektor industri, mulai dari peningkatan efisiensi operasional hingga pengambilan keputusan berbasis data. Di balik menguatnya peran AI sebagai bagian penting dalam strategi bisnis modern, potensi serangan siber muncul menjadi tantangan baru yang tidak bisa diabaikan.
Baca juga: CFO Prediksi Dampak AI Terhadap Tenaga Kerja Masih Minim Tahun Ini
Peningkatan adopsi AI membuat organisasi atau perusahaan harus mengelola lebih banyak sistem, bertambah banyak data, serta konektivitas yang semakin luas antar lingkungan IT. Kondisi ini membuat
infrastruktur teknologi menjadi semakin kompleks dan pada saat yang sama, memperbesar potensi risiko keamanan.
"Kompleksitas IT yang meningkat karena AI selalu datang bersama peningkatan risiko. Semakin banyak sistem dan data, semakin besar pula permukaan serangan yang harus diamankan,” ucapnya.
Di dalam menghadapi ancaman siber yang semakin canggih, kata dia, organisasi atau perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan pencegahan. Ketika serangan berhasil menembus sistem, kemampuan untuk memulihkan data juga menjadi faktor yang sangat menentukan. Dalam hal ini, backup berperan sebagai garis pertahanan terakhir dari berbagai risiko serangan siber.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya