Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan

Kompas.com, 14 April 2026, 18:51 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tak sedikit perusahaan mulai menahan bahkan mengurangi inisiatif sustainability atau keberlanjutan mereka, di tengah tekanan ekonomi global dan tuntutan efisiensi bisnis.

Anggota Dewan Pengawas Indonesian Society of Sustainability Professionals (IS2P), Sony Sukada, menilai pendekatan keberlanjutan yang bersifat simbolik tidak lagi relevan di tengah kebutuhan akan dampak yang nyata dan terukur.

Menurut dia, kondisi ini mencerminkan tantangan baru dalam implementasi sustainability, di mana perusahaan dituntut memastikan setiap inisiatif tidak hanya berjalan, tetapi juga memberikan kontribusi langsung terhadap kinerja bisnis dan para pemangku kepentingan.

Baca juga: Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian

Sony yang juga merupakan Juri Lestari Awards 2025 menekankan perlunya perubahan cara pandang dalam menilai keberlanjutan, dari sekadar aktivitas menjadi dampak yang terukur dan berkelanjutan.

"Kami tidak menilai besarnya program, tetapi seberapa dalam sustainability terintegrasi dalam strategi bisnis dan dampak nyata yang dihasilkan. Inisiatif yang kuat adalah yang tetap memberikan manfaat jangka panjang, bahkan ketika program tersebut sudah tidak lagi dijalankan,” kata Sony dalam Lestari Forum 2026, Kamis (9/4/2026).

Dia menambahkan, keberhasilan inisiatif keberlanjutan kini tidak lagi ditentukan oleh skala program, melainkan kualitas implementasi, relevansi terhadap kebutuhan bisnis, serta dampak berkelanjutan yang dihasilkan.

Selain itu, keterlibatan pemangku kepentingan dan kemampuan dalam mengukur dampak secara terstruktur menjadi faktor penting dalam memastikan efektivitas program. Tanpa pengukuran yang jelas, inisiatif keberlanjutan berisiko berhenti pada aktivitas tanpa menghasilkan perubahan yang signifikan.

“Sustainability bukan soal seberapa banyak yang dilakukan, tetapi seberapa nyata perubahan yang dihasilkan. Yang terpenting adalah bagaimana inisiatif tersebut mampu memperbaiki sistem dan memberikan dampak jangka panjang,” ucap Sony.

Sejalan dengan pentingnya penerapan kerangka strategis keberlanjutan tersebut, Lestari Forum 2026 menjadi momentum pendorong bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk memvalidasi dan mengukur dampak inisiatif mereka melalui Lestari Awards 2026.

Ajang yang diinisiasi oleh KG Media ini membuka ruang bagi entitas bisnis untuk memanggungkan praktik keberlanjutan yang telah terintegrasi dalam sistem operasional mereka. Para pemenang Lestari Awards 2026 akan memperoleh amplifikasi publikasi melalui ekosistem KG Media, serta peluang emas untuk bersaing di kompetisi ESG tingkat regional Asia.

Pendaftaran Lestari Awards 2026 telah dibuka dan akan berlangsung hingga Sabtu (9/5/2026). Perusahaan serta Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dapat mendaftar ajang penghargaan ini secara daring melalui tahapan berikut:

  • Masuk/Daftar menggunakan KG Media ID di laman resmi pendaftaran https://lestari.kgmedia.id/award (https://lestari.kgmedia.id/award)
  • Pilih kategori yang relevan sesuai skala bisnis dan kategori dampak sustainability
  • Melengkapi formulir dan mengunggah dokumen pendukung (evidence)
  • Menyelesaikan administrasi pendaftaran.

Sebagai informasi, Lestari Summit & Awards merupakan inisiatif keberlanjutan yang diinisiasi oleh KG Media dalam mendorong praktik bisnis berkelanjutan di Indonesia.

Program itu menghadirkan forum diskusi dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, sekaligus memberikan apresiasi melalui Lestari Awards kepada perusahaan dan organisasi yang menjalankan inisiatif sustainability.

Lainnya, berkontribusi terhadap praktik ESG dengan harapan dapat menjadi inspirasi dan mendorong penerapan keberlanjutan yang lebih luas di berbagai sektor.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Pemerintah
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya 'Windfall Tax' Diterapkan
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya "Windfall Tax" Diterapkan
LSM/Figur
Pengamat: Lingkungan Kerja 'Toxic' karena Supervisor jadi 'Raja Kecil'
Pengamat: Lingkungan Kerja "Toxic" karena Supervisor jadi "Raja Kecil"
Swasta
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau