JAKARTA, KOMPAS.com - Tak sedikit perusahaan mulai menahan bahkan mengurangi inisiatif sustainability atau keberlanjutan mereka, di tengah tekanan ekonomi global dan tuntutan efisiensi bisnis.
Anggota Dewan Pengawas Indonesian Society of Sustainability Professionals (IS2P), Sony Sukada, menilai pendekatan keberlanjutan yang bersifat simbolik tidak lagi relevan di tengah kebutuhan akan dampak yang nyata dan terukur.
Menurut dia, kondisi ini mencerminkan tantangan baru dalam implementasi sustainability, di mana perusahaan dituntut memastikan setiap inisiatif tidak hanya berjalan, tetapi juga memberikan kontribusi langsung terhadap kinerja bisnis dan para pemangku kepentingan.
Baca juga: Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Sony yang juga merupakan Juri Lestari Awards 2025 menekankan perlunya perubahan cara pandang dalam menilai keberlanjutan, dari sekadar aktivitas menjadi dampak yang terukur dan berkelanjutan.
"Kami tidak menilai besarnya program, tetapi seberapa dalam sustainability terintegrasi dalam strategi bisnis dan dampak nyata yang dihasilkan. Inisiatif yang kuat adalah yang tetap memberikan manfaat jangka panjang, bahkan ketika program tersebut sudah tidak lagi dijalankan,” kata Sony dalam Lestari Forum 2026, Kamis (9/4/2026).
Dia menambahkan, keberhasilan inisiatif keberlanjutan kini tidak lagi ditentukan oleh skala program, melainkan kualitas implementasi, relevansi terhadap kebutuhan bisnis, serta dampak berkelanjutan yang dihasilkan.
Selain itu, keterlibatan pemangku kepentingan dan kemampuan dalam mengukur dampak secara terstruktur menjadi faktor penting dalam memastikan efektivitas program. Tanpa pengukuran yang jelas, inisiatif keberlanjutan berisiko berhenti pada aktivitas tanpa menghasilkan perubahan yang signifikan.
“Sustainability bukan soal seberapa banyak yang dilakukan, tetapi seberapa nyata perubahan yang dihasilkan. Yang terpenting adalah bagaimana inisiatif tersebut mampu memperbaiki sistem dan memberikan dampak jangka panjang,” ucap Sony.
Sejalan dengan pentingnya penerapan kerangka strategis keberlanjutan tersebut, Lestari Forum 2026 menjadi momentum pendorong bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk memvalidasi dan mengukur dampak inisiatif mereka melalui Lestari Awards 2026.
Ajang yang diinisiasi oleh KG Media ini membuka ruang bagi entitas bisnis untuk memanggungkan praktik keberlanjutan yang telah terintegrasi dalam sistem operasional mereka. Para pemenang Lestari Awards 2026 akan memperoleh amplifikasi publikasi melalui ekosistem KG Media, serta peluang emas untuk bersaing di kompetisi ESG tingkat regional Asia.
Pendaftaran Lestari Awards 2026 telah dibuka dan akan berlangsung hingga Sabtu (9/5/2026). Perusahaan serta Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dapat mendaftar ajang penghargaan ini secara daring melalui tahapan berikut:
Sebagai informasi, Lestari Summit & Awards merupakan inisiatif keberlanjutan yang diinisiasi oleh KG Media dalam mendorong praktik bisnis berkelanjutan di Indonesia.
Program itu menghadirkan forum diskusi dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, sekaligus memberikan apresiasi melalui Lestari Awards kepada perusahaan dan organisasi yang menjalankan inisiatif sustainability.
Lainnya, berkontribusi terhadap praktik ESG dengan harapan dapat menjadi inspirasi dan mendorong penerapan keberlanjutan yang lebih luas di berbagai sektor.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya