Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bank Dunia Komitmen Tingkatkan Ketahanan Air untuk 1 Miliar Orang pada 2030

Kompas.com, 17 April 2026, 15:04 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Grup Bank Dunia telah menerbitkan rencana untuk membantu meningkatkan keamanan air bagi satu miliar orang pada tahun 2030, sebagai bagian dari inisiatif global baru bersama pemerintah, lembaga keuangan, dan organisasi bantuan.

Program yang dinamakan Water Forward ini bertujuan untuk meningkatkan investasi dan mengoordinasikan tindakan guna memperluas akses terhadap air bersih, sanitasi, dan sistem yang tahan terhadap perubahan iklim.

Melansir Edie, Kamis (16/4/2026) sekitar 400 juta orang diperkirakan akan menerima manfaat langsung dari program-program Bank Dunia. Sementara itu, pendanaan tambahan dari bank pembangunan, investor swasta, dan mitra filantropi ditargetkan untuk menjangkau 600 juta orang sisanya.

Inisiatif ini muncul karena akses air bersih dunia masih belum merata, sekitar 700 juta orang saat ini masih kekurangan akses dasar terhadap air.

Program ini sendiri akan fokus pada tiga bidang yaitu akses air bagi masyarakat, pertanian, dan kelestarian lingkungan.

Baca juga: Pulau Jawa Terancam Krisis Air, Jakarta dan Jawa Timur Jadi Sorotan

WaterAid adalah salah satu organisasi yang diharapkan membantu pelaksanaannya, bekerja sama dengan pemerintah dan mitra lokal untuk memastikan proyek-proyek tersebut menjangkau masyarakat yang selama ini terabaikan.

Bank Uni Eropa bergabung dengan koalisi

Bank Investasi Eropa (EIB), lembaga keuangan resmi Uni Eropa telah bergabung dalam inisiatif Water Forward dan berkomitmen mendukung keamanan air bagi 300 juta orang pada tahun 2030.

EIB menyatakan akan memberikan pinjaman jangka panjang dan keahlian teknis untuk mendukung pembangunan infrastruktur, perbaikan kebijakan, serta investasi pada sistem air.

Kontribusi ini bertujuan untuk memperkuat upaya bersama yang dipimpin oleh bank-bank pembangunan dalam mengatasi kekurangan dana dan masalah pengelolaan.

"Ini adalah kontribusi besar bagi target bersama untuk menjangkau satu miliar orang, guna meningkatkan kesehatan dan kesempatan hidup di seluruh dunia," ungkap Presiden EIB, Nadia Calviño.

Tahun depan, EIB akan memimpin kelompok bank pembangunan multilateral, dan kami akan menjadikan masalah air serta ketahanan sebagai salah satu dari lima prioritas utama kami. Kemitraan seperti inilah yang sangat dibutuhkan dunia saat ini.

Peringatan PBB tentang krisis air

Kelangkaan air semakin parah akibat perubahan iklim, di mana cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi memberikan tekanan besar pada pasokan air dan infrastruktur.

PBB baru-baru ini memperingatkan bahwa sebagian besar wilayah dunia sedang mendekati kondisi 'kebangkrutan' air, di mana persediaan air telah terkuras habis hingga sulit untuk pulih kembali secara alami.

Baca juga: Permintaan Meningkat Tajam, PBB Peringatkan Potensi Krisis Air

Hampir tiga perempat penduduk dunia kini tinggal di negara-negara yang tergolong krisis air. Sekitar empat miliar orang mengalami kelangkaan air yang parah setidaknya selama satu bulan setiap tahunnya, sementara dua miliar orang tinggal di daerah dengan permukaan air tanah yang terus menurun.

Menurut penilaian PBB, beberapa sistem air telah dikuras habis-habisan selama puluhan tahun, dan separuh dari danau-danau besar di dunia telah menyusut dalam 30 tahun terakhir.

"Di dunia yang penuh ketidakpastian ini, akses air bersih adalah tujuan yang bisa mempersatukan kita semua, karena air menopang 1,7 miliar pekerjaan di seluruh dunia. Segala hal dimulai dari air, mulai dari makanan, kesehatan, hingga kesejahteraan kita," papar CEO WaterAid UK, Tim Wainwright.

"Kami akan bekerja keras untuk mendorong semangat dunia dan kerja sama antar berbagai sektor hingga Konferensi Air PBB dan seterusnya. Dengan begitu, kita bisa bersama-sama menghadapi krisis air global serta membuka lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan jangka panjang bagi generasi mendatang,” tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif
Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif
Pemerintah
Kehadiran DSI Disebut Bisa Permudah Implementasi EUDR untuk Produk Sawit
Kehadiran DSI Disebut Bisa Permudah Implementasi EUDR untuk Produk Sawit
LSM/Figur
Dari Literasi ke Aksi, Komunitas Buibu Baca Buku Gerakkan Kepedulian Iklim di 16 Provinsi
Dari Literasi ke Aksi, Komunitas Buibu Baca Buku Gerakkan Kepedulian Iklim di 16 Provinsi
LSM/Figur
Pemerintah akan Wajibkan Masyarakat Kembalikan Air Tanah ke Bumi
Pemerintah akan Wajibkan Masyarakat Kembalikan Air Tanah ke Bumi
Pemerintah
Bappenas Proyeksikan Kerugian Ekonomi akibat Krisis Iklim Capai Rp 2.005 Triliun
Bappenas Proyeksikan Kerugian Ekonomi akibat Krisis Iklim Capai Rp 2.005 Triliun
Pemerintah
PBB Minta Dunia Bersiap Hadapi Ancaman El Niño
PBB Minta Dunia Bersiap Hadapi Ancaman El Niño
Pemerintah
Kekeringan Panjang dan Perubahan Pola Hujan Landa Amazon, Ekosistem Terancam
Kekeringan Panjang dan Perubahan Pola Hujan Landa Amazon, Ekosistem Terancam
Pemerintah
Tantangan di Balik Piring Makan Anak Indonesia: Menyuap Gizi, Membangun Kebiasaan
Tantangan di Balik Piring Makan Anak Indonesia: Menyuap Gizi, Membangun Kebiasaan
LSM/Figur
Harga Bensin Meroket, Warga Pakistan Ramai-Ramai Beralih ke Skuter Listrik
Harga Bensin Meroket, Warga Pakistan Ramai-Ramai Beralih ke Skuter Listrik
Pemerintah
Potensi Lobster RI Melimpah, tapi Teknologi hingga Infrastruktur Belum Memadai
Potensi Lobster RI Melimpah, tapi Teknologi hingga Infrastruktur Belum Memadai
Pemerintah
Mengapa Benua Eropa Mengalami Pemanasan Paling Cepat di Dunia?
Mengapa Benua Eropa Mengalami Pemanasan Paling Cepat di Dunia?
Pemerintah
Kebakaran Hutan Sepanjang 2025 Telan Biaya Termahal dalam Sejarah
Kebakaran Hutan Sepanjang 2025 Telan Biaya Termahal dalam Sejarah
Pemerintah
BBM dari Sawit Dinilai Tak Layak Secara Keekonomian
BBM dari Sawit Dinilai Tak Layak Secara Keekonomian
LSM/Figur
ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme
ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme
BUMN
Awal Juni, BMKG Prediksi Hujan Landa Sejumlah Wilayah Selama Sepekan
Awal Juni, BMKG Prediksi Hujan Landa Sejumlah Wilayah Selama Sepekan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau