KOMPAS.com - Kekeringan memang berdampak buruk secara langsung pada hasil pertanian, tetapi bencana ini juga dapat mendorong perubahan budaya dan aturan masyarakat agar lebih tangguh menghadapi krisis lingkungan.
Ini adalah kesimpulan utama dari artikel tulisan ekonom Giacomo Benati dan Carmine Guerriero yang terbit di jurnal Economica.
Melansir Phys, Selasa (21/7/2026) berdasarkan penelitian di 38 negara pertanian terbesar di dunia sepanjang tahun 1960–2018, para peneliti menunjukkan bahwa bencana kekeringan berkaitan erat dengan terciptanya sistem politik yang lebih terbuka (inklusif) serta makin kuatnya rasa saling percaya dan kerja sama antar warga.
Baca juga: El Nino Bukan Vonis Kekeringan
Penelitian ini dimulai dari sebuah pertanyaan yang belum terjawab secara pasti oleh para ahli ekonomi: bagaimana cuaca ekstrem memengaruhi perubahan sistem politik dan norma sosial masyarakat?
Untuk menjawabnya, para peneliti terlebih dahulu membuat teori. Teori ini menjelaskan bahwa para penguasa atau elite politik bisa terdorong untuk membagi kekuasaan ketika mereka sangat membutuhkan bantuan dan kerja sama dari kelompok masyarakat yang menjalankan roda perekonomian.
Para peneliti kemudian menguji dugaan tersebut dengan menganalisis data dari 38 negara yang sangat bergantung pada sektor pertanian dari tahun 1960 hingga 2018.
Mereka mencatat bahwa hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang mereka buat, walau belum menjadi bukti sebab-akibat yang mutlak.
Hasilnya menunjukkan bahwa bencana kekeringan memang merusak hasil panen, tetapi juga memicu reformasi politik yang membatasi kekuasaan para pemimpin.
Hal ini menghasilkan pemerintahan yang lebih adil dan terbuka. Perubahan aturan ini juga mengubah prioritas anggaran negara, di mana uang rakyat dialihkan untuk layanan kesehatan dan anggaran militer dipangkas.
Di saat yang sama, para peneliti melihat bahwa krisis iklim membantu memperkuat rasa saling percaya dan saling menghargai di masyarakat, baik dalam jangka pendek maupun yang diturunkan ke generasi berikutnya.
Baca juga: FAO Petakan Daerah yang Paling Rentan Kena Dampak Kekeringan
Menurut analisis tersebut, budaya saling bekerja sama inilah yang memiliki hubungan paling erat dengan bangkitnya kembali hasil pertanian setelah krisis, meskipun para peneliti mengingatkan bahwa hubungan ini belum tentu merupakan sebab-akibat langsung.
Artikel ini menjelaskan mengapa beberapa masyarakat petani memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi cuaca buruk.
Para peneliti menyatakan bahwa kerja sama warga dan pemerintahan yang terbuka bukan sekadar hasil dari kemajuan ekonomi, melainkan bisa lahir karena rasa saling membutuhkan saat menghadapi ancaman lingkungan.
Temuan juga memperkuat gagasan bahwa kebijakan pemerintah yang membangun rasa percaya, menyediakan fasilitas umum, dan mengajak warga aktif berpolitik dapat menjadi kunci penting untuk mengatasi dampak perubahan iklim, terutama di negara-negara yang paling rentan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya