Analisis mereka menunjukkan dua faktor risiko utama. Salah satunya adalah permukaan air tanah yang posisinya sudah sangat dekat dengan permukaan laut. Di tempat-tempat seperti ini, perubahan kecil saja sudah cukup untuk mengganggu keseimbangan dan membuat air laut merembes lebih jauh ke daratan.
Faktor lainnya adalah ketergantungan yang tinggi terhadap air tanah di wilayah yang kering. Di daerah gersang, masyarakat seringkali sangat mengandalkan air bawah tanah karena sumber air tawar lainnya terbatas. Hal ini membuat penurunan kualitas air tanah menjadi masalah yang jauh lebih serius.
"Wilayah pesisir yang permukaan air tanahnya sudah hampir sejajar dengan permukaan laut sangatlah berisiko, begitu juga dengan daerah kering yang penduduknya sangat bergantung pada air tanah,” kata Reinecke.
“Studi kami memberikan bukti nyata secara global bahwa air tanah di pesisir terancam menjadi asin, sehingga pemantauan dan pengelolaannya harus menjadi prioritas utama,” tambahnya.
Baca juga: Jakarta Terancam Tenggelam, Pemprov Tekan Pengambilan Air Tanah
Temuan ini pun menjadi peringatan terhadap masyarakat dunia. Pasalnya, jika air tanah di pesisir menjadi terlalu asin, dampaknya akan menjalar ke kehidupan sehari-hari, pertanian, hingga lingkungan alam.
Bahaya ini bisa mengancam seluruh wilayah pesisir dalam beberapa dekade mendatang. Ini adalah peringatan yang sangat serius, terutama karena lebih dari 30 persen penduduk dunia tinggal di daerah pesisir.
Kerusakan jangka panjang pada cadangan air ini tidak hanya akan mengganggu kebutuhan rumah tangga, tetapi juga produksi pangan dan ekosistem pesisir yang bergantung pada air tawar.
Air tanah di wilayah pesisir adalah sumber daya yang sangat penting, namun tekanannya kini terus meningkat. Tanpa pemantauan yang lebih ketat dan pengelolaan yang lebih baik, banyak wilayah akan mendapati salah satu sumber air tawar terpenting mereka menjadi semakin tidak bisa diandalkan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya