KOMPAS.com - Emisi gas rumah kaca Jepang turun ke bawah satu miliar ton untuk pertama kalinya sejak 2013. Meski angka ini menjadi pencapaian penting, pemerintah memperingatkan bahwa kemajuannya belum merata.
Melansir ESG News, Selasa (14/4/2026) Kementerian Lingkungan Hidup Jepang melaporkan bahwa total emisi bersih (setelah dikurangi serapan hutan) mencapai 994 juta ton pada tahun fiskal 2024. Angka ini turun 18,8 juta ton, atau sekitar 1,9 persen dibanding tahun sebelumnya.
Data ini memperkuat tren penurunan jangka panjang. Saat ini, emisi Jepang telah turun 28,7 persen dibandingkan tahun 2013, yang merupakan tahun acuan bagi target iklim pemerintah.
Pencapaian ini mencerminkan peningkatan efisiensi yang terus-menerus di sektor-sektor utama dan perubahan bertahap pada sumber energi Jepang, meskipun kecepatannya masih belum cukup untuk mengejar target tahun 2030.
Baca juga: RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Emisi industri, termasuk dari pabrik-pabrik, turun 2,5 persen dibanding tahun lalu berkat langkah-langkah hemat energi dan perubahan sistem produksi. Sektor transportasi, termasuk mobil, mencatat penurunan 1,6 persen karena penggunaan bahan bakar yang lebih irit dan mulai beralih ke kendaraan listrik.
Emisi rumah tangga turun lebih sedikit, yaitu 0,7 persen, menunjukkan sulitnya mengurangi pemakaian energi di perumahan. Sebaliknya, emisi dari sektor restoran dan perhotelan justru naik 0,2 persen, memperlihatkan pemulihan ekonomi yang tidak merata di industri jasa.
Hasil yang beragam ini mempertegas betapa sulitnya menghapus penggunaan karbon di negara maju yang sangat butuh banyak energi. Meskipun sektor industri dan transportasi sudah menunjukkan kemajuan nyata, perubahan gaya hidup masyarakat dan pertumbuhan sektor jasa masih jauh lebih sulit untuk diubah dalam skala besar.
Menteri Lingkungan Hidup, Ishihara Hirotaka, mengakui adanya kemajuan sekaligus hambatan besar dalam peralihan energi di Jepang.
"Emisi gas rumah kaca dibandingkan pertumbuhan ekonomi (PDB) sudah turun selama 12 tahun berturut-turut. Meski trennya positif, kecepatannya masih lambat," katanya.
Hirotaka menyoroti dua masalah utama dalam penurunan emisi yakni lambatnya perkembangan energi bersih (non-fosil) dan sulitnya mengurangi penggunaan energi di rumah tangga.
Ketergantungan Jepang pada impor bahan bakar fosil, ditambah dengan sikap hati-hati dalam menyalakan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir, sangat memengaruhi laju penurunan emisi ini.
“Saya akan mempercepat upaya Jepang untuk mencapai target pengurangan emisinya,” tambahnya.
Jepang telah berjanji untuk mencapai bebas emisi pada tahun 2050 dan menargetkan pemotongan emisi sebesar 46 persen pada tahun 2030 (dibandingkan level tahun 2013).
Dengan pencapaian saat ini yang baru mencapai 28,7 persen, masih ada selisih yang besar untuk dikejar dalam enam tahun ke depan.
Bagi para investor dan pemimpin perusahaan, data ini mempertegas perlunya mempercepat investasi ke energi bersih, modernisasi jaringan listrik, dan efisiensi penggunaan energi.
Baca juga: Jepang Daur Ulang Limbah Popok Bekas Jadi Produk Baru
Lambatnya penggunaan energi non-fosil menunjukkan bahwa dukungan kebijakan pemerintah untuk energi terbarukan, hidrogen, dan pengoperasian kembali nuklir akan sangat krusial.
Di saat yang sama, mandeknya penurunan emisi rumah tangga membuka peluang inovasi dalam pembangunan gedung hemat energi, penggunaan alat listrik, dan solusi energi bagi konsumen. Sektor-sektor ini masih belum tergarap maksimal dibandingkan dengan upaya pengurangan emisi di industri.
Namun kemajuan penurunan Jepang ini berdampak besar bagi dunia. Sebagai ekonomi terbesar ketiga di dunia, jalur emisi Jepang memengaruhi rantai pasokan wilayah, pasar karbon global, dan kecepatan penggunaan teknologi ramah lingkungan di Asia.
Pencapaian di bawah satu miliar ton ini membuktikan bahwa perubahan besar menuju bebas karbon bisa dilakukan oleh negara maju. Namun, hal ini juga memperlihatkan betapa sulitnya menjaga momentum penurunan emisi setelah efisiensi awal sudah berhasil dicapai.
Tahap berikutnya akan bergantung pada apakah Jepang mampu mempercepat pertumbuhan energi bersih dan mendorong perubahan perilaku yang lebih besar di sektor rumah tangga dan jasa. Tanpa percepatan tersebut, kegagalan mencapai target 2030 akan tetap menjadi risiko utama bagi pemerintah maupun investor.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya