Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Urine Manusia Bisa Jadi Solusi Pupuk Ramah Lingkungan

Kompas.com, 18 April 2026, 19:49 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Urine manusia bisa menjadi kunci untuk membuat pertanian dan pengolahan limbah lebih ramah lingkungan dan hemat energi, menurut penelitian terbaru dari University of Surrey di Inggris.

Melansir Phys, Selasa (14/4/2026) meskipun urine hanya mencakup sekitar 1 persen dari air limbah, ia mengandung sebagian besar nutrisi penting bagi tanaman, termasuk nitrogen, fosfor, dan kalium.

Dalam studi yang diterbitkan di Journal of Environmental Chemical Engineering, para peneliti mempelajari bagaimana nutrisi ini dapat diambil kembali dan digunakan lagi dengan mengubah urine menjadi aliran kaya pupuk.

Baca juga: IFRS Perbarui Standar Pelaporan Keberlanjutan Sektor Pertanian dan Utilitas

Menggunakan proses hemat energi yang disebut forward osmosis, tim peneliti berhasil membuang kandungan air dan mempertahankan kadar nutrisi yang tinggi tanpa memerlukan energi besar seperti teknologi pengolahan limbah biasa.

Pendekatan ini dapat mengurangi beban pabrik pengolahan limbah sekaligus mendukung produksi pupuk yang lebih ramah lingkungan.

"Aneh kedengarannya, tapi ini nyata. Air seni kita adalah sumber daya yang kurang dimanfaatkan. Padahal ia mengandung nutrisi utama yang kita butuhkan untuk pertanian, tapi saat ini kita hanya menganggapnya sebagai limbah," kata Dr. Siddharth Gadkari, Dosen Teknik Proses Kimia di University of Surrey sekaligus penulis utama studi ini.

Penelitian ini pun menunjukkan bahwa dengan pendekatan pengolahan yang tepat, kita bisa mengambil kembali nutrisi tersebut secara efisien sekaligus mengurangi kebutuhan energi untuk pengolahan air limbah.

Tantangan pengolahan urine

Dalam studi ini ilmuwan menggunakan sebuah membran untuk memisahkan nutrisi pupuk dari urine. Namun dalam proses tersebut peneliti menghadapi tantangan karena membran tersebut cepat mampet.

Penyebabnya adalah urine mengandung zat-zat organik, lama-kelamaan kotoran itu menempel dan menumpuk di permukaan saringan, sehingga menjadi kurang efisien.

Penelitian ini memberikan gambaran pertama yang sangat mendalam soal bagaimana sifat air seni kita kalau disaring terus-menerus. Para peneliti jadi tahu kondisi apa saja yang bikin saringannya mampet dan bagaimana cara membersihkannya.

Baca juga: Limbah Pertanian Bisa Jadi Bahan Bangunan, Simpan Karbon dan Tekan Emisi Iklim

Kabar baiknya, tim peneliti menemukan solusi simpel, kalau urine disaring dulu secara sederhana di awal, kinerjanya jadi jauh lebih bagus. Selain itu, kalaupun saringannya mampet, ternyata mudah dibersihkan supaya berfungsi seperti baru lagi. Jadi, sistem ini sangat mungkin dipakai untuk jangka waktu yang lama.

"Yang sangat menarik adalah kami telah membuktikan bagaimana sistem ini bekerja dalam kondisi nyata menggunakan urine manusia asli. Jika kita bisa menangani masalah penyumbatan dengan efektif, teknologi ini akan semakin dekat untuk digunakan secara praktis dalam jangka panjang," tambah Dr. Gadkari.

Penelitian ini dilakukan melalui kerja sama dengan University of KwaZulu-Natal di Afrika Selatan, di mana sistem pemisahan urine sudah mulai dikembangkan dalam skala besar.

Para peneliti percaya bahwa karya mereka dapat membantu mengurangi ketergantungan pada produksi pupuk yang boros energi, menurunkan emisi karbon, dan mendukung pengelolaan air serta nutrisi yang lebih ramah lingkungan di seluruh dunia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau