Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 28 April 2026, 11:58 WIB
Add on Google
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

Melalui SCYEP, para siswa didorong untuk merancang dan mengelola perusahaan mereka sendiri yang dikenal sebagai student company (SC).

Baca juga: Rayakan 2 Dekade Perjalanan, Gerai Pertama Starbucks Indonesia Bersolek

Pada tahun ini, program tersebut melibatkan 10 sekolah yang tersebar di Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Jayapura, dengan partisipasi lebih dari 200 siswa.

Selanjutnya, para peserta akan melanjutkan kompetisi ke tingkat nasional, regional, hingga global. Untuk itu, Arthakara SC dan Ruppy SC kini punya PR besar untuk mempersiapkan diri secara lebih matang dalam membangun perusahaan kecil mereka.

Chris tak menampik bahwa membangun the real company di tengah-tengah kesibukan sebagai siswa bukan perkara mudah.

“Sebagai murid, skillset tim kami kurang lebih sama. Belum pernah ada yang menjadi CEO, handle public relations, marketing, ataupun finance. Namun, akhirnya kami belajar bahwa great systems build great company. Proses ini pun didukung oleh mentor-mentor dari Starbucks Indonesia dan PJI,” jelas dia.

Baca juga: Starbucks Bantu Renovasi Sarana Pendidikan yang Terdampak Bencana Banjir Bali

Berangkat dari pembelajaran tersebut, tim Ruppy SC sukses menghadirkan Ruppy Snugbox, yakni organizer modular berbahan tripleks bekas.

Chris menjelaskan bahwa produk tersebut dirancang untuk menjawab dua persoalan utama, yakni kebutuhan siswa akan tempat penyimpanan yang fleksibel serta meningkatnya limbah tripleks dari proyek konstruksi yang kerap dibuang atau dibakar hingga memicu polusi.

Tripleks bekas tersebut didaur ulang menjadi produk fungsional dengan sekat yang dapat dilepas-pasang sehingga kapasitas penyimpanan bisa disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

Produk tersebut pun mendapat respons positif di pasar dengan realisasi penjualan mencapai 186 unit dari target awal 120 unit serta menghasilkan pendapatan sebesar Rp 14,4 juta dan laba bersih Rp 1,4 juta.

“Untuk sampai di level itu, perbedaan pandangan (antaranggota tim) tak terhindarkan. Namun, hal itu yang justru bikin produk kami terus berinovasi dan skill kami berkembang,” tutur Chris.

Tantangan dalam membangun perusahaan sendiri juga dirasakan Arthakara SC. Terkait pengelolaan waktu (time management), misalnya.

“Kami harus bisa membagi waktu antara mengikuti pembelajaran di sekolah dan membangun perusahaan,” kata Revi.

Baca juga: Pemprov Jakarta, Inotek, dan Starbucks Indonesia Luncurkan Program KRING untuk Dukung 100 UMKM Kopi

Sementara, Director of Public Relations Arthakara SC Miranda Debora Setiawan menyoroti skill kepemimpinan (leadership) dalam program ini.

“Dari sini kami belajar bahwa leadership bukan tentang gimana cara dihormati, melainkan gimana pentingnya nge-lead tim beranggotakan 29 orang supaya bisa mencapai hasil yang optimal,” jelas Miranda.

Director of Production Arthakara SC Avrilya Revi Luo dan Director of Public Relations Arthakara SC Miranda Debora Setiawan saat mempresentasikan Arvena Shell di hadapan para juri dalam Regional Student Competition Starbucks Creative Youth Entrepreneurship Program (SCYEP) 2025-2026 yang digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Jumat (24/4/2026).Youtube Starbucks Director of Production Arthakara SC Avrilya Revi Luo dan Director of Public Relations Arthakara SC Miranda Debora Setiawan saat mempresentasikan Arvena Shell di hadapan para juri dalam Regional Student Competition Starbucks Creative Youth Entrepreneurship Program (SCYEP) 2025-2026 yang digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Terbukti, kemampuan-kemampuan tersebut menjadi bekal bagi Arthakara SC dalam memproduksi Arvena Shell, yakni gantungan kunci ramah lingkungan berbentuk kura-kura yang dibuat dari tutup botol plastik. Menariknya, produk ini juga bisa menjadi pengharum ruangan.

Produk gantungan kunci sebenarnya berangkat dari hasil survei awal Arthakara SC. Kala itu, tim melihat adanya kebutuhan akan aksesori yang tidak hanya fungsional, tetapi juga menarik secara visual serta membawa dampak positif bagi lingkungan.

Mereka kemudian menempatkan isu lingkungan sebagai fokus utama dengan memanfaatkan limbah plastik yang banyak ditemukan di tempat sampah besar di sekitar sekolah. Upaya ini sekaligus menjadi penerapan nyata prinsip ekonomi sirkular.

Baca juga: Starbucks Catat Rekor MURI dan Rayakan Bulan Kopi Internasional dengan Kompetisi Latte Art

Desain gantungan kunci yang berbentuk penyu pun dipilih bukan tanpa alasan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Pemerintah
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
Pemerintah
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
LSM/Figur
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
LSM/Figur
Asia ESG Summit Dorong Akuntabilitas Perusahaan di Dunia Nyata
Asia ESG Summit Dorong Akuntabilitas Perusahaan di Dunia Nyata
Swasta
Menteri LH Baru: Pemerintah Berhutang pada Gen Z
Menteri LH Baru: Pemerintah Berhutang pada Gen Z
Pemerintah
Ada Kesenjangan Kesadaran Hadapi Krisis Iklim antara Laki-laki dan Perempuan
Ada Kesenjangan Kesadaran Hadapi Krisis Iklim antara Laki-laki dan Perempuan
LSM/Figur
Meta Nyalakan Pusat Data di Malam Hari dengan Energi Surya dari Luar Angkasa
Meta Nyalakan Pusat Data di Malam Hari dengan Energi Surya dari Luar Angkasa
Pemerintah
Atasi Tantangan Pembangunan Nasional, PFI Dorong Perkuat Peran Filantropi
Atasi Tantangan Pembangunan Nasional, PFI Dorong Perkuat Peran Filantropi
Pemerintah
Perlu Riset Interdisipliner untuk Temukan Solusi Adaptasi Iklim
Perlu Riset Interdisipliner untuk Temukan Solusi Adaptasi Iklim
LSM/Figur
Peringatan Hari K3 dan May Day, Buruh Soroti Potensi Penyakit akibat Asbes
Peringatan Hari K3 dan May Day, Buruh Soroti Potensi Penyakit akibat Asbes
Swasta
FIF Group Kukuhkan 37 Guru SMK se-Indonesia sebagai Duta Literasi Keuangan
FIF Group Kukuhkan 37 Guru SMK se-Indonesia sebagai Duta Literasi Keuangan
Pemerintah
Teknologi AI-IoT Bantu Mitigasi Banjir Rob di Pantura Jateng, Peran Perempuan Jadi Kunci
Teknologi AI-IoT Bantu Mitigasi Banjir Rob di Pantura Jateng, Peran Perempuan Jadi Kunci
LSM/Figur
Inggris Masukkan Sektor Aviasi dan Maritim ke Anggaran Karbon
Inggris Masukkan Sektor Aviasi dan Maritim ke Anggaran Karbon
Pemerintah
Kisah Petani Tambak Bisa Produksi Garam, Rumput Laut, Air Minum, dan Listrik Sekaligus
Kisah Petani Tambak Bisa Produksi Garam, Rumput Laut, Air Minum, dan Listrik Sekaligus
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau