“Sebenarnya, ikan sapu-sapu bukan predator, melainkan kompetitor yang kuat. Aktivitasnya di dasar perairan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan,” beber Gema.
Keberadaan ikan sapu-sapu berdampak pada menghilangnya ikan lokal dan merusak habitat sehingga hasil tangkapan ikan menurun.
Baca juga: Kembali Musnahkan Ikan Sapu-Sapu di Ciracas, Pemkot Jaktim: Sudah Dimatikan, Baru Dikubur
Dari sisi kesehatan, beberapa penelitian menemukan risiko kandungan logam berat dan bakteri seperti Escherichia coli di dalam tubuh ikan invasif jika dikonsumsi.
Gema lantas mengusulkan sejumlah langkah strategis untuk pengendalian sapu-sapu antara lai penangkapan rutin dan terjadwal, penelitian siklus reproduksi, identifikasi musuh alami, restorasi lingkungan, edukasi masyarakat, serta penegakan hukum.
Penangkapan perlu dilakukan sebelum musim reproduksi agar lebih efektif.
“Sebagian besar spesies asing masuk karena aktivitas manusia. Tanpa pengelolaan yang baik, mereka dapat menjadi invasif dan mengancam biodiversitas lokal. Pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif, melalui penguatan kebijakan, riset, dan peningkatan kesadaran publik,” sebut Gema.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya