Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia

Kompas.com, 1 Mei 2026, 16:10 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa ikan sapu-sapu bisa merusak ekosistem perairan dan menggeser posisi ikan lokal di Indonesia. Diketahui, ikan ini sedang diburu lantaran ledakan populasi yang tak terkendali.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Gema Wahyudewantoro mencatat ada 15 spesies sapu-sapu di dunia. Menurut dia, spesies invasif memiliki karakter adaptasi tinggi, reproduksi cepat, kompetitor kuat, serta tidak memiliki musuh alami.

“Salah satu contoh paling menonjol adalah ikan sapu-sapu. Ikan yang berasal dari Sungai Amazon ini diduga masuk ke Indonesia pada periode 1970–1980, awalnya sebagai pembersih akuarium kini ikan tersebut telah menyebar luas di berbagai perairan,” ungkap Gema dalam keterangannya, Jumat (1/5/2026).

Baca juga: Dilema Pemberantasan Ikan Sapu-Sapu di Indonesia

Gema menjelaskan, masuknya spesies invasif ke Indonesia sebagian besar akibat aktivitas manusia. Beberapa jalur utamanya yaitu melalui perdagangan ikan hias, introduksi untuk konsumsi, air ballast kapal, kegiatan rekreasi seperti lomba memancing, serta tujuan khusus seperti pengendalian jentik nyamuk.

Ikan guppy dan cere, misalnya, yang dahulu sengaja didatangkan untuk mengatasi malaria justru kini berkembang tidak terkendali.

Di sisi lain, spesies asing invasif tetap diminati karena warnanya menarik, mudah dipelihara, cepat berkembang biak, memiliki nilai ekonomi tinggi, dan mudah dipasarkan.

Gema menyebut, tidak semua spesies asing berbahaya. Akan tetapu, potensi menjadi invasif tetap ada sehingga prinsip kehati-hatian harus diterapkan.

Indonesia memiliki kekayaan ikan air tawar yang sangat besar, yakni sekitar 5.114 spesies dari total 15.750 spesies di dunia. Dengan keanekaragaman seperti itu, Indonesia tidak perlu mendatangkan spesies asing.

Baca juga: Kenapa Sungai di Jakarta Jadi Tempat Sempurna bagi Perkembangan Ikan Sapu-Sapu?

Penelitian BRIN menunjukkan terdapat sekitar 247 jenis ikan asing di Indonesia, dengan 50 jenis di antaranya diduga telah berada di perairan umum.

Gema menuturkan, proses spesies asing menjadi invasif dimulai dari introduksi, adaptasi, dominasi, hingga akhirnya menguasai ekosistem.

"Oleh karena itu, riset berperan penting untuk proses identifikasi morfologi, DNA barcoding, analisis risiko, serta pemantauan distribusi. Hasil penelitian di daerah aliran sungai menunjukkan bahwa ikan invasif ditemukan di seluruh bagian sungai, dari hulu hingga hilir," jelas dia.

Bahkan, ditemukan spesies lain yang masih satu keluarga dengan sapu-sapu dan berpotensi invasif.

Lonjakan Spesies Sapu-sapu

Dia menambahkan, setidaknya ada tiga spesies ikan sapu-sapu yang saat ini ditemukan di Indonesia. Padahal sebelumnya hanya teridentifkkasi satu spesies hidup di perairan RI.

Secara biologis, ikan sapu-sapu memiliki usia hingga 15 tahun. Ikan ini memakan alga dan telur ikan lain, serta mampu menghasilkan tiga hingga lima ribu butir telur dalam satu siklus reproduksi.

Kemampuan adaptasinya tinggi dan memiliki mekanisme pernapasan tambahan yang memungkinkan bertahan di perairan dengan kualitas rendah.

“Sebenarnya, ikan sapu-sapu bukan predator, melainkan kompetitor yang kuat. Aktivitasnya di dasar perairan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan,” beber Gema.

Keberadaan ikan sapu-sapu berdampak pada menghilangnya ikan lokal dan merusak habitat sehingga hasil tangkapan ikan menurun.

Baca juga: Kembali Musnahkan Ikan Sapu-Sapu di Ciracas, Pemkot Jaktim: Sudah Dimatikan, Baru Dikubur

Dari sisi kesehatan, beberapa penelitian menemukan risiko kandungan logam berat dan bakteri seperti Escherichia coli di dalam tubuh ikan invasif jika dikonsumsi.

Gema lantas mengusulkan sejumlah langkah strategis untuk pengendalian sapu-sapu antara lai penangkapan rutin dan terjadwal, penelitian siklus reproduksi, identifikasi musuh alami, restorasi lingkungan, edukasi masyarakat, serta penegakan hukum.

Penangkapan perlu dilakukan sebelum musim reproduksi agar lebih efektif.

“Sebagian besar spesies asing masuk karena aktivitas manusia. Tanpa pengelolaan yang baik, mereka dapat menjadi invasif dan mengancam biodiversitas lokal. Pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif, melalui penguatan kebijakan, riset, dan peningkatan kesadaran publik,” sebut Gema.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Pemerintah
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Pemerintah
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
Swasta
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
Pemerintah
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
Pemerintah
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Pemerintah
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Pemerintah
Rumah Tangga Tanggung Biaya Energi Fosil 3 Kali Lipat saat RI Kehilangan Windfall Tax Batu Bara
Rumah Tangga Tanggung Biaya Energi Fosil 3 Kali Lipat saat RI Kehilangan Windfall Tax Batu Bara
LSM/Figur
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
LSM/Figur
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
Swasta
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut  yang Sulit Dipantau
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut yang Sulit Dipantau
Pemerintah
INDEF: Salah Menyamakan Dampak Lingkungan PLTP dan PLTU
INDEF: Salah Menyamakan Dampak Lingkungan PLTP dan PLTU
LSM/Figur
Krisis Iklim: Tutupan Salju di Pegunungan Yunani Susut 58 Persen dalam 40 Tahun
Krisis Iklim: Tutupan Salju di Pegunungan Yunani Susut 58 Persen dalam 40 Tahun
Pemerintah
Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan
Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan
Pemerintah
Momentum RI Raup 'Windfall Tax' Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
Momentum RI Raup "Windfall Tax" Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau