KOMPAS.com - Hotel menyiapkan makanan dalam jumlah besar setiap hari. Namun terkadang banyak dari makanan itu yang tidak sempat dimakan dan akhirnya dibuang begitu saja.
Hal tersebut pun menjadi masalah lingkungan sekaligus membuat keuntungan hotel berkurang.
Kini, karena adanya aturan pemerintah yang lebih ketat dan tamu yang lebih peduli lingkungan, pihak hotel terpaksa harus segera mengatasi masalah sisa makanan ini lebih serius dari sebelumnya.
Melansir Know ESG, Kamis (30/4/2026) sebuah penilaian terbaru dari organisasi lingkungan WWF dan para ahli perhotelan menunjukkan betapa besarnya masalah ini.
Hasilnya mengungkapkan bahwa membuang-buang makanan bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga merupakan pemborosan besar dalam bisnis.
Baca juga: Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan
Secara global, sisa makanan menyumbang sekitar 10 persen gas rumah kaca yang merusak iklim, dan hotel menyumbang sekitar 3 persen dari total sampah makanan tersebut. Meski terlihat kecil, dampaknya sangat besar.
Jika semua hotel bisa mengurangi sisa makanan sebesar 20 persen saja, itu akan mencegah lebih dari 5 juta ton sampah setiap tahunnya. Hal ini membuat upaya hotel dalam mengurangi limbah menjadi sangat penting bagi keselamatan bumi.
Selain masalah lingkungan, dari sisi uang pun sangat menguntungkan. Sisa makanan menyumbang sekitar 8 persen dari total biaya belanja makanan hotel. Namun, penelitian menunjukkan bahwa hanya dengan mencatat dan mengelola sisa makanan, hotel bisa jauh lebih untung.
Dalam banyak percobaan, beberapa hotel berhasil mengurangi sampah makanan hingga 40 persen hanya dalam enam bulan. Hasilnya luar biasa, rata-rata, hotel mendapat keuntungan 7 dolar AS untuk setiap 1 dolar AS yang mereka keluarkan untuk program pengurangan limbah.
Kendati demikian menghitung sisa makanan masih sulit dilakukan. Banyak hotel belum punya sistem pencatatan yang benar, sehingga mereka susah mengetahui bagian mana yang boros. Para ahli menegaskan bahwa tanpa data yang jelas, hotel tidak akan bisa memperbaiki keadaan.
Laporan itu juga menunjukkan bahwa tiap hotel punya masalah yang berbeda.
Baca juga: Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG
Contohnya, hotel jenis resort membuang 75 persen lebih banyak makanan dibanding hotel biasa karena porsi prasmanannya yang lebih besar. Artinya, solusinya tidak bisa disamaratakan. Setiap hotel butuh strategi khusus sesuai jenis, ukuran, dan lokasinya.
Untuk mengatasi kekurangan tersebut, kelompok industri kini merencanakan program percobaan yang fokus pada pencatatan data yang lebih baik.
Tujuannya adalah untuk mencari tahu apa saja hambatannya, mencoba alat baru, dan membuktikan bahwa mencatat sisa makanan itu sangat menguntungkan.
Mengatasi sisa makanan bukan lagi sekadar pilihan, tapi keharusan. Dengan mengurangi sampah makanan setiap hari, hotel bisa menjaga lingkungan, menghemat uang, dan tampil lebih baik di mata tamu yang peduli lingkungan.
Ke depannya, mengurangi sisa makanan akan menjadi cara paling ampuh bagi hotel untuk tetap untung sekaligus tetap bertanggung jawab terhadap bumi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya