Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jadi Masalah Lingkungan dan Inefisiensi, Limbah Makanan Industri Perhotelan Disorot

Kompas.com, 1 Mei 2026, 19:29 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Hotel menyiapkan makanan dalam jumlah besar setiap hari. Namun terkadang banyak dari makanan itu yang tidak sempat dimakan dan akhirnya dibuang begitu saja.

Hal tersebut pun menjadi masalah lingkungan sekaligus membuat keuntungan hotel berkurang.

Kini, karena adanya aturan pemerintah yang lebih ketat dan tamu yang lebih peduli lingkungan, pihak hotel terpaksa harus segera mengatasi masalah sisa makanan ini lebih serius dari sebelumnya.

Limbah makanan industri perhotelan

Melansir Know ESG, Kamis (30/4/2026) sebuah penilaian terbaru dari organisasi lingkungan WWF dan para ahli perhotelan menunjukkan betapa besarnya masalah ini.

Hasilnya mengungkapkan bahwa membuang-buang makanan bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga merupakan pemborosan besar dalam bisnis.

Baca juga: Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan

Secara global, sisa makanan menyumbang sekitar 10 persen gas rumah kaca yang merusak iklim, dan hotel menyumbang sekitar 3 persen dari total sampah makanan tersebut. Meski terlihat kecil, dampaknya sangat besar.

Jika semua hotel bisa mengurangi sisa makanan sebesar 20 persen saja, itu akan mencegah lebih dari 5 juta ton sampah setiap tahunnya. Hal ini membuat upaya hotel dalam mengurangi limbah menjadi sangat penting bagi keselamatan bumi.

Selain masalah lingkungan, dari sisi uang pun sangat menguntungkan. Sisa makanan menyumbang sekitar 8 persen dari total biaya belanja makanan hotel. Namun, penelitian menunjukkan bahwa hanya dengan mencatat dan mengelola sisa makanan, hotel bisa jauh lebih untung.

Dalam banyak percobaan, beberapa hotel berhasil mengurangi sampah makanan hingga 40 persen hanya dalam enam bulan. Hasilnya luar biasa, rata-rata, hotel mendapat keuntungan 7 dolar AS untuk setiap 1 dolar AS yang mereka keluarkan untuk program pengurangan limbah.

Tantangan menghitung sisa makanan

Kendati demikian menghitung sisa makanan masih sulit dilakukan. Banyak hotel belum punya sistem pencatatan yang benar, sehingga mereka susah mengetahui bagian mana yang boros. Para ahli menegaskan bahwa tanpa data yang jelas, hotel tidak akan bisa memperbaiki keadaan.

Laporan itu juga menunjukkan bahwa tiap hotel punya masalah yang berbeda.

Baca juga: Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG

Contohnya, hotel jenis resort membuang 75 persen lebih banyak makanan dibanding hotel biasa karena porsi prasmanannya yang lebih besar. Artinya, solusinya tidak bisa disamaratakan. Setiap hotel butuh strategi khusus sesuai jenis, ukuran, dan lokasinya.

Untuk mengatasi kekurangan tersebut, kelompok industri kini merencanakan program percobaan yang fokus pada pencatatan data yang lebih baik.

Tujuannya adalah untuk mencari tahu apa saja hambatannya, mencoba alat baru, dan membuktikan bahwa mencatat sisa makanan itu sangat menguntungkan.

Mengatasi sisa makanan bukan lagi sekadar pilihan, tapi keharusan. Dengan mengurangi sampah makanan setiap hari, hotel bisa menjaga lingkungan, menghemat uang, dan tampil lebih baik di mata tamu yang peduli lingkungan.

Ke depannya, mengurangi sisa makanan akan menjadi cara paling ampuh bagi hotel untuk tetap untung sekaligus tetap bertanggung jawab terhadap bumi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bukan Malas, Gen Z Mulai Tinggalkan Budaya Kerja yang Bikin 'Burnout'
Bukan Malas, Gen Z Mulai Tinggalkan Budaya Kerja yang Bikin "Burnout"
LSM/Figur
Kekerasan Daring terhadap Jurnalis Perempuan Meningkat akibat AI
Kekerasan Daring terhadap Jurnalis Perempuan Meningkat akibat AI
LSM/Figur
Tiga Bayi Harimau Benggala Lahir di Taman Safari Prigen
Tiga Bayi Harimau Benggala Lahir di Taman Safari Prigen
Pemerintah
Konferensi Santa Marta: 60 Negara Bahas Peralihan Energi Fosil ke Energi Terbarukan
Konferensi Santa Marta: 60 Negara Bahas Peralihan Energi Fosil ke Energi Terbarukan
Pemerintah
Induk dan Anak Gajah Ditemukan Tewas di Bengkulu, Kemenhut Telusuri Penyebabnya
Induk dan Anak Gajah Ditemukan Tewas di Bengkulu, Kemenhut Telusuri Penyebabnya
Pemerintah
Percepat Transisi Energi, PLN Garap PLTS Mentari Nusantara I Berkapasitas 1,225 GW
Percepat Transisi Energi, PLN Garap PLTS Mentari Nusantara I Berkapasitas 1,225 GW
BUMN
Perancis Targetkan Bebas Energi Fosil pada 2050
Perancis Targetkan Bebas Energi Fosil pada 2050
Pemerintah
Jadi Masalah Lingkungan dan Inefisiensi, Limbah Makanan Industri Perhotelan Disorot
Jadi Masalah Lingkungan dan Inefisiensi, Limbah Makanan Industri Perhotelan Disorot
Pemerintah
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Pemerintah
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Pemerintah
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
Swasta
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
Pemerintah
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
Pemerintah
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Pemerintah
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau