Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hotel di Bali Mulai Beralih ke Energi Surya, Dorong Transisi Energi di Sektor Perhotelan

Kompas.com, 22 April 2026, 12:06 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com - Penggunaan energi baru terbarukan mulai diadopsi sektor perhotelan di Indonesia seiring meningkatnya kebutuhan efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon.

Salah satu langkah tersebut dilakukan Fairfield by Marriott Bali Kuta Sunset Road yang mulai mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 134,42 kWp di Bali, Selasa (21/4/2026). Proyek ini dikembangkan bersama Greenvolt Power Indonesia.

Penggunaan PLTS tersebut diperkirakan dapat menekan emisi karbon hingga sekitar 146.923 kilogram karbon dioksida per tahun, atau setara dengan penyerapan karbon oleh ribuan pohon.

Baca juga: Krisis Iklim Lemahkan Keandalan EBT, Terlalu Panas untuk PLTS dan Terlalu Berangin bagi PLTB

General Manager Fairfield by Marriott Bali Kuta Sunset Road, Eric Gozal, mengatakan pemanfaatan energi surya menjadi bagian dari upaya pengelolaan energi sekaligus pengurangan dampak lingkungan.

“Adopsi energi surya menjadi langkah penting dalam mengelola energi sekaligus mengurangi jejak lingkungan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (21/4/2026).

Selain itu, penggunaan energi terbarukan juga dinilai sejalan dengan standar global industri perhotelan yang semakin menekankan aspek keberlanjutan.

Sementara itu Head of Operations Greenvolt Power Indonesia, Fanny Susanti, menilai transisi energi kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis bagi pelaku usaha.

“Transisi energi di sektor dengan kebutuhan energi tinggi, seperti perhotelan, menjadi langkah penting untuk memastikan ketahanan bisnis jangka panjang,” kata Fanny.

Baca juga: Punya Potensi EBT Besar, NTT Percepat Transisi Energi

Menurut dia, penggunaan energi terbarukan juga dapat dilakukan melalui berbagai skema kemitraan, termasuk tanpa investasi awal, sehingga tidak membebani operasional perusahaan.

Adopsi energi surya di sektor perhotelan dinilai berpotensi mendorong percepatan dekarbonisasi, terutama di destinasi wisata seperti Bali yang memiliki kebutuhan energi tinggi.

Selain menekan emisi, penggunaan energi terbarukan juga dapat meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat daya saing industri di tengah tuntutan global terhadap praktik bisnis berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau