JAKARTA, KOMPAS.com - Tantangan terberat dalam konservasi macan tutul Jawa adalah minimnya informasi yang diketahui tentangnya.
Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono mengatakan, perhatian terhadap macan tutul Jawa 'tertutupi' isu harimau Jawa yang saat ini sudah dinyatakan punah.
"Dulu, ada dua predator puncak di sini, ada harimau Jawa dan macan tutul. Harimau Jawa sudah punah, tersisa macan tutul. Nah, kami merasa perlu untuk meningkatkan profile atau pengetahuan masyarakat tentang macan tutul," ujar Hariyo dalam acara Melindungi Sang Predator Puncak; Sinergi Pelestarian Macan Tutul Jawa di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Baca juga: Di Jawa, Mengapa Macan Tutul Lebih Bisa Bertahan ketimbang Harimau?
Menurut Hariyo, habitat macan tutul Jawa sekarang sangat terfragmentasi (heavily fragmented), dengan hanya tersisa 9-10 persen di seluruh pulau terpadat di Indonesia ini.
"Setelah kami masuk ke beberapa kawasan, manusia itu di mana-mana. Jadi, di Jawa itu manusia tidak hanya di kota, sampai ke puncak gunung, di hutan masih ada juga gitu. Tidak ada cerita kami pasang kamera tidak ada bekas manusia itu ada, masih ada," tutur Hariyo.
Selain perilakunya yang elusif atau tidak suka menampakkan diri, tantangan lain pelestarian macan tutul Jawa adalah pendanaan dan terkait teknis di lapangan.
Oleh karena itu, SINTAS bekerja sama dengan Non-Governmental Organization (NGO) lokal dan berbagai pihak swasta untuk pendanaan.
Untuk merumuskan strategi konservasi yang cocok, kata dia, perlu mengetahui sebanyak mungkin perilaku macan tutul Jawa dengan pemasangan camera trap, ekspedisi, atau berbagai cara lainnya. Pendekatan berbasis data dapat mendukung pengawasan dapat perumusan strategi konservasi yang tepat bagi macan tutul Jawa.
Untuk memperoleh data akurat populasi macan tutul jawa, SINTAS telah memasang 1.000 kamera pengintai di hutan-hutan di pulau Jawa. Data ini akan dianalisis secara komprehensif, sehingga kedepannya diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) yang lebih komprehensif.
Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan, hanya ada 350 macan tutul dewasa yang tersisa dan tersebar di 29 kantong habitat yang saling terisolasi.
Baca juga: Harimau dan Macan Tutul Masuk Pemukiman, Alarm Bahaya Terganggunya Ekosistem
Pada awal 2024 lalu, saat peluncuran Java Wide Leopard Survey (JWLS), terbentuk gerakan kolektif untuk menyelamatkan masa depan macan tutul Jawa dari jurang kepunahan yang terdiri dari unsur pemerintah, praktisi konservasi, sampai tujuh mitra swasta, termasuk Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF).
Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), Jemmy Chayadi (kiri) dan Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono (kanan) dalam acara Melindungi Sang Predator Puncak; Sinergi Pelestarian Macan Tutul Jawa di Jakarta, Kamis (30/4/2026).Survei tersebut melibatkan 600 kamera pengintai di 1.160 stasiun, dengan menandai titik balik di mana untuk pertama kalinya data keberadaan, sebaran, serta struktur populasi macan tutul jawa terkumpul serentak, terstandar, dan lintas benteng alam.
Hingga 2025, survei ini telah mengidentifikasi sedikitnya 34 individu macan tutul jawa (11 jantan dan 23 betina). Survei juga memberikan gambaran awal mengenai distribusi dan struktur populasi di berbagai bentang alam di Pulau Jawa.
Di sisi lain, pelestarian macan tutul Jawa juga perlu diiringi dengan merancang upaya merancang ulang hubungan antara manusia dan alam agar bisa hidup berdampingan secara lebih harmonis dan berkelanjutan. Apalagi, sebagai predator puncak, macan tutul Jawa memiliki peran penting menjaga keseimbangan ekosistem.
Program Director BLDF, Jemmy Chayadi mengatakan, pelestarian macan tutul Jawa perlu disertai upaya menggerakkan semua stakeholders, terutama generasi muda, untuk ikut berpartisipasi.
Baca juga: Benarkah Harimau Merasa “Ketagihan” Memangsa Manusia ketimbang Satwa?
Ia menggarisbawahi perlunya menyebarluaskan urgensi pelestarian macan tutul Jawa agar tidak mengikuti jejak kepunahan harimau Jawa. Khususnya, mengenai pentingnya satwa endemik ini bagi kehidupan masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa.
"Kalau dulu predator puncak ini ada harimau Jawa, tapi sudah punah, nah ini ada macan tutul Jawa, generasi muda harus bisa berperan membantu menghindari masa depan yang kelam tersebut. Karena kenapa? Kalau di masa depan macan tutul Jawa punah, bagaimana dampaknya ke lingkungan, ke kehidupan generasi muda?, nah ini memang perlu kesadaran yang tinggi, perlu data, pengetahuan, ilmuwan-ilmuwan yang lebih muda," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya