Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Habitat Sangat Terfragmentasi, Macan Tutul Jawa Butuh Perhatian

Kompas.com, 4 Mei 2026, 13:47 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tantangan terberat dalam konservasi macan tutul Jawa adalah minimnya informasi yang diketahui tentangnya.

Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono mengatakan, perhatian terhadap macan tutul Jawa 'tertutupi' isu harimau Jawa yang saat ini sudah dinyatakan punah.

"Dulu, ada dua predator puncak di sini, ada harimau Jawa dan macan tutul. Harimau Jawa sudah punah, tersisa macan tutul. Nah, kami merasa perlu untuk meningkatkan profile atau pengetahuan masyarakat tentang macan tutul," ujar Hariyo dalam acara Melindungi Sang Predator Puncak; Sinergi Pelestarian Macan Tutul Jawa di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Baca juga: Di Jawa, Mengapa Macan Tutul Lebih Bisa Bertahan ketimbang Harimau?

Menurut Hariyo, habitat macan tutul Jawa sekarang sangat terfragmentasi (heavily fragmented), dengan hanya tersisa 9-10 persen di seluruh pulau terpadat di Indonesia ini.

"Setelah kami masuk ke beberapa kawasan, manusia itu di mana-mana. Jadi, di Jawa itu manusia tidak hanya di kota, sampai ke puncak gunung, di hutan masih ada juga gitu. Tidak ada cerita kami pasang kamera tidak ada bekas manusia itu ada, masih ada," tutur Hariyo.

Selain perilakunya yang elusif atau tidak suka menampakkan diri, tantangan lain pelestarian macan tutul Jawa adalah pendanaan dan terkait teknis di lapangan.

Oleh karena itu, SINTAS bekerja sama dengan Non-Governmental Organization (NGO) lokal dan berbagai pihak swasta untuk pendanaan.

Untuk merumuskan strategi konservasi yang cocok, kata dia, perlu mengetahui sebanyak mungkin perilaku macan tutul Jawa dengan pemasangan camera trap, ekspedisi, atau berbagai cara lainnya. Pendekatan berbasis data dapat mendukung pengawasan dapat perumusan strategi konservasi yang tepat bagi macan tutul Jawa.

Untuk memperoleh data akurat populasi macan tutul jawa, SINTAS telah memasang 1.000 kamera pengintai di hutan-hutan di pulau Jawa. Data ini akan dianalisis secara komprehensif, sehingga kedepannya diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) yang lebih komprehensif.

Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan, hanya ada 350 macan tutul dewasa yang tersisa dan tersebar di 29 kantong habitat yang saling terisolasi.

Baca juga: Harimau dan Macan Tutul Masuk Pemukiman, Alarm Bahaya Terganggunya Ekosistem

Pada awal 2024 lalu, saat peluncuran Java Wide Leopard Survey (JWLS), terbentuk gerakan kolektif untuk menyelamatkan masa depan macan tutul Jawa dari jurang kepunahan yang terdiri dari unsur pemerintah, praktisi konservasi, sampai tujuh mitra swasta, termasuk Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF).

Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), Jemmy Chayadi (kiri) dan Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono (kanan) dalam acara Melindungi Sang Predator Puncak; Sinergi Pelestarian Macan Tutul Jawa di Jakarta, Kamis (30/4/2026).Kompas.com/Manda Firmansyah Program Director Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), Jemmy Chayadi (kiri) dan Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono (kanan) dalam acara Melindungi Sang Predator Puncak; Sinergi Pelestarian Macan Tutul Jawa di Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Survei tersebut melibatkan 600 kamera pengintai di 1.160 stasiun, dengan menandai titik balik di mana untuk pertama kalinya data keberadaan, sebaran, serta struktur populasi macan tutul jawa terkumpul serentak, terstandar, dan lintas benteng alam.

Hingga 2025, survei ini telah mengidentifikasi sedikitnya 34 individu macan tutul jawa (11 jantan dan 23 betina). Survei juga memberikan gambaran awal mengenai distribusi dan struktur populasi di berbagai bentang alam di Pulau Jawa.

Di sisi lain, pelestarian macan tutul Jawa juga perlu diiringi dengan merancang upaya merancang ulang hubungan antara manusia dan alam agar bisa hidup berdampingan secara lebih harmonis dan berkelanjutan. Apalagi, sebagai predator puncak, macan tutul Jawa memiliki peran penting menjaga keseimbangan ekosistem.

Program Director BLDF, Jemmy Chayadi mengatakan, pelestarian macan tutul Jawa perlu disertai upaya menggerakkan semua stakeholders, terutama generasi muda, untuk ikut berpartisipasi.

Baca juga: Benarkah Harimau Merasa “Ketagihan” Memangsa Manusia ketimbang Satwa?

Ia menggarisbawahi perlunya menyebarluaskan urgensi pelestarian macan tutul Jawa agar tidak mengikuti jejak kepunahan harimau Jawa. Khususnya, mengenai pentingnya satwa endemik ini bagi kehidupan masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa.

"Kalau dulu predator puncak ini ada harimau Jawa, tapi sudah punah, nah ini ada macan tutul Jawa, generasi muda harus bisa berperan membantu menghindari masa depan yang kelam tersebut. Karena kenapa? Kalau di masa depan macan tutul Jawa punah, bagaimana dampaknya ke lingkungan, ke kehidupan generasi muda?, nah ini memang perlu kesadaran yang tinggi, perlu data, pengetahuan, ilmuwan-ilmuwan yang lebih muda," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau