KOMPAS.com - Berdasarkan survei terbaru dari Morgan Stanley, lebih dari 90 persen investor individu mengaku tertarik pada investasi berkelanjutan, dan jumlah ini terus meningkat dibanding tahun lalu.
Harapan untuk mendapatkan keuntungan finansial menjadi alasan utama ketertarikan mereka. Meskipun minat terus tumbuh, jumlah uang yang benar-benar diinvestasikan ke sektor ini sedikit menurun pada tahun lalu.
Namun, melansir ESG Today, Selasa (5/5/2026) hampir dua pertiga investor berencana untuk menambah dana investasi mereka dalam 12 bulan ke depan, juga dengan alasan performa keuntungan yang baik.
Laporan berjudul "Sustainable Signals: Individual Investors 2026" ini disimpulkan setelah Morgan Stanley melakukan survei terhadap 2.250 investor individu di Amerika Utara, Eropa, dan Asia Pasifik. Survei ini dilaksanakan pada bulan Februari dan Maret 2026.
Hasil survei menunjukkan bahwa 92 persen investor tertarik pada investasi berkelanjutan, naik dari 88 persen pada tahun lalu.
Baca juga: Investor Rela Bayar Lebih Mahal untuk Obligasi Hijau
Peningkatan terbesar datang dari investor yang menyatakan diri "sangat tertarik", yang naik menjadi 55 persen dibandingkan 51 persen pada tahun 2025.
Ketertarikan investor ini meningkat di semua wilayah. Di Amerika Utara, investor naik menjadi 88 persen (sebelumnya 84 persen), di Eropa naik menjadi 94 persen (sebelumnya 88 persen), dan di Asia Pasifik naik menjadi 93 persen (sebelumnya 92 persen).
Di Eropa, jumlah investor yang merasa "sangat tertarik" melonjak tajam sebesar 11 persen hingga mencapai angka 59 persen.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa keuntungan finansial adalah alasan utama ketertarikan pada investasi berkelanjutan.
Lebih dari 80 persen investor yang tertarik menjadikan performa investasi sebagai pendorong utama. Sebanyak 45 persen investor ingin mendukung hasil nyata yang positif bagi dunia sambil tetap mendapatkan keuntungan finansial yang normal di pasar.
Sementara itu, 40 persen investor berharap bahwa investasi berkelanjutan bisa memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan investasi tradisional.
Hal yang menarik, hanya 13 persen investor yang menyebutkan bahwa kesesuaian dengan nilai-nilai pribadi adalah alasan utama mereka tertarik pada investasi berkelanjutan.
Selain itu, hanya 2 persen yang beralasan ingin mengurangi risiko lingkungan, sosial, atau tata kelola. Secara keseluruhan, survei menemukan bahwa 75 persen investor saat ini sudah memiliki investasi berkelanjutan di portofolio mereka.
Meskipun begitu, rata-rata jumlah porsi dana yang dialokasikan untuk investasi ini sedikit menurun dibanding tahun lalu, dari 33 persen menjadi 31 persen.
Meskipun minat investor terhadap investasi berkelanjutan meningkat dan banyak yang ingin menambah modal, survei ini juga menemukan adanya hambatan yang semakin nyata.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya