Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Morgan Stanley: Mayoritas Investor Individu Ingin Tingkatkan Investasi Berkelanjutan

Kompas.com, 6 Mei 2026, 17:52 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com - Berdasarkan survei terbaru dari Morgan Stanley, lebih dari 90 persen investor individu mengaku tertarik pada investasi berkelanjutan, dan jumlah ini terus meningkat dibanding tahun lalu.

Harapan untuk mendapatkan keuntungan finansial menjadi alasan utama ketertarikan mereka. Meskipun minat terus tumbuh, jumlah uang yang benar-benar diinvestasikan ke sektor ini sedikit menurun pada tahun lalu.

Namun, melansir ESG Today, Selasa (5/5/2026) hampir dua pertiga investor berencana untuk menambah dana investasi mereka dalam 12 bulan ke depan, juga dengan alasan performa keuntungan yang baik.

Kenaikan investor di berbagai wilayah

Laporan berjudul "Sustainable Signals: Individual Investors 2026" ini disimpulkan setelah Morgan Stanley melakukan survei terhadap 2.250 investor individu di Amerika Utara, Eropa, dan Asia Pasifik. Survei ini dilaksanakan pada bulan Februari dan Maret 2026.

Hasil survei menunjukkan bahwa 92 persen investor tertarik pada investasi berkelanjutan, naik dari 88 persen pada tahun lalu.

Baca juga: Investor Rela Bayar Lebih Mahal untuk Obligasi Hijau

Peningkatan terbesar datang dari investor yang menyatakan diri "sangat tertarik", yang naik menjadi 55 persen dibandingkan 51 persen pada tahun 2025.

Ketertarikan investor ini meningkat di semua wilayah. Di Amerika Utara, investor naik menjadi 88 persen (sebelumnya 84 persen), di Eropa naik menjadi 94 persen (sebelumnya 88 persen), dan di Asia Pasifik naik menjadi 93 persen (sebelumnya 92 persen).

Di Eropa, jumlah investor yang merasa "sangat tertarik" melonjak tajam sebesar 11 persen hingga mencapai angka 59 persen.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa keuntungan finansial adalah alasan utama ketertarikan pada investasi berkelanjutan.

Lebih dari 80 persen investor yang tertarik menjadikan performa investasi sebagai pendorong utama. Sebanyak 45 persen investor ingin mendukung hasil nyata yang positif bagi dunia sambil tetap mendapatkan keuntungan finansial yang normal di pasar.

Sementara itu, 40 persen investor berharap bahwa investasi berkelanjutan bisa memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan investasi tradisional.

Hal yang menarik, hanya 13 persen investor yang menyebutkan bahwa kesesuaian dengan nilai-nilai pribadi adalah alasan utama mereka tertarik pada investasi berkelanjutan.

Selain itu, hanya 2 persen yang beralasan ingin mengurangi risiko lingkungan, sosial, atau tata kelola. Secara keseluruhan, survei menemukan bahwa 75 persen investor saat ini sudah memiliki investasi berkelanjutan di portofolio mereka.

Meskipun begitu, rata-rata jumlah porsi dana yang dialokasikan untuk investasi ini sedikit menurun dibanding tahun lalu, dari 33 persen menjadi 31 persen.

Hambatan terhadap investasi berkelanjutan

Meskipun minat investor terhadap investasi berkelanjutan meningkat dan banyak yang ingin menambah modal, survei ini juga menemukan adanya hambatan yang semakin nyata.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Konflik Timur Tengah dan Super El Nino Bayangi Ekonomi Asia
Dampak Konflik Timur Tengah dan Super El Nino Bayangi Ekonomi Asia
Pemerintah
BMKG Prediksi Jakarta Masuk Musim Kemarau Akhir Mei 2026
BMKG Prediksi Jakarta Masuk Musim Kemarau Akhir Mei 2026
Pemerintah
Morgan Stanley: Mayoritas Investor Individu Ingin Tingkatkan Investasi Berkelanjutan
Morgan Stanley: Mayoritas Investor Individu Ingin Tingkatkan Investasi Berkelanjutan
Swasta
Kalbe Gelar Pemeriksaan Gratis untuk Mata dan Diabetes di Kendari
Kalbe Gelar Pemeriksaan Gratis untuk Mata dan Diabetes di Kendari
Swasta
Menhut Sebut Angka Karhutla Turun karena Pencegahan Dini hingga Sanksi Pidana
Menhut Sebut Angka Karhutla Turun karena Pencegahan Dini hingga Sanksi Pidana
Pemerintah
Krisis Iklim Perluas Penyebaran Arenavirus, Ancam Jutaan Orang
Krisis Iklim Perluas Penyebaran Arenavirus, Ancam Jutaan Orang
LSM/Figur
PGN Mulai Implementasikan Program Pengelolaan Sampah Plastik yang Terintegrasi
PGN Mulai Implementasikan Program Pengelolaan Sampah Plastik yang Terintegrasi
BUMN
Menakar Risiko Pajak EV, Minim Pembeli hingga Ditinggal Investor
Menakar Risiko Pajak EV, Minim Pembeli hingga Ditinggal Investor
LSM/Figur
Air Limbah Jadi Aset Strategis di Arab Saudi
Air Limbah Jadi Aset Strategis di Arab Saudi
LSM/Figur
IWIP dan WBN Bangun Jaringan Air Bersih di Halmahera Tengah
IWIP dan WBN Bangun Jaringan Air Bersih di Halmahera Tengah
Swasta
Dipicu Pemanasan Global, Kota Produsen Jeruk di Jepang Berganti jadi Produsen Alpukat
Dipicu Pemanasan Global, Kota Produsen Jeruk di Jepang Berganti jadi Produsen Alpukat
Pemerintah
Dorong Lingkungan yang Berkelanjutan, Perusahaan Ini Bangun Fasilitas Pemilahan Sampah di Sukabumi
Dorong Lingkungan yang Berkelanjutan, Perusahaan Ini Bangun Fasilitas Pemilahan Sampah di Sukabumi
Swasta
Pasca-Permenhut Baru, Investor Skeptis soal Pasar Karbon RI dan Birokrasi RI Dipertanyakan
Pasca-Permenhut Baru, Investor Skeptis soal Pasar Karbon RI dan Birokrasi RI Dipertanyakan
Swasta
BRIN Siapkan 5 Teknologi Hadapi Banjir Rob di Pantura
BRIN Siapkan 5 Teknologi Hadapi Banjir Rob di Pantura
Pemerintah
Genjot Pasokan Mineral Kritis, ADB Siapkan Program Pembiayaan Baru di Asia
Genjot Pasokan Mineral Kritis, ADB Siapkan Program Pembiayaan Baru di Asia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau