Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hilirisasi Nikel Disebut Belum Dorong Penguatan SDM dan Industri Lokal

Kompas.com, 7 Mei 2026, 08:42 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Indonesia dinilai masih belum beranjak dari industrialisasi dangkal dalam pengolahan nikel, meski investasi dan pembangunan smelter terus meningkat beberapa tahun terakhir.

Direktur Kolaborasi Internasional INDEF, Imaduddin Abdullah, mengatakan hilirisasi nikel saat ini masih didominasi investasi asing untuk membangun smelter dan mengekspor produk olahan nikel, tanpa diikuti penguatan kapasitas industri nasional secara menyeluruh.

“Tanpa itu, sebenarnya negara Selatan ini hanya mendapatkan lagu lama, enclave yang mungkin kami sebut green enclave, hijau dalam narasi, tetapi tetap enclave dalam hasil pembangunan,” ujar Imaduddin dalam webinar Menggali Wawasan Tata Kelola Mineral Kritis di Indonesia: Progres dan Perspektif, Rabu (6/5/2026).

Baca juga: Paradoks Nikel Indonesia: Antara Potensi Besar dan Hilirisasi Terbatas

Menurut dia, Indonesia perlu beralih dari sekadar industrialisasi berbasis investasi menuju penguatan kemampuan industri domestik atau capabilities capture.

Upaya tersebut mencakup penguatan riset dan pengembangan (R&D), peningkatan kapasitas pemasok lokal, pelatihan tenaga kerja berkelanjutan, hingga alih otoritas manajerial dan teknologi.

Ia menilai manfaat hilirisasi nikel saat ini masih lebih terlihat pada indikator ekonomi makro dibandingkan dampaknya bagi masyarakat lokal di daerah penghasil mineral.

Di sisi lain, tenaga kerja lokal juga dinilai belum sepenuhnya menikmati manfaat dari pertumbuhan industri nikel. Salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian antara kebutuhan industri dan kualitas tenaga kerja yang tersedia di daerah.

Pendidikan belum memadai

Industri nikel saat ini membutuhkan pekerja dengan keterampilan teknis, digital, geospasial, hingga keselamatan kerja. Namun, sebagian besar tenaga kerja lokal di daerah tambang masih memiliki tingkat pendidikan di bawah SMA atau sederajat.

“Kebutuhan tenaga kerja dengan pendidikan tinggi mencapai 72,3 persen, sementara yang tersedia hanya sekitar 12,74 persen,” tutur Imaduddin.

Ia menjelaskan, kesenjangan tersebut membuat efek limpahan ekonomi dari hilirisasi di daerah penghasil nikel tidak berjalan optimal.

Sebaliknya, banyak perusahaan justru mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan industri.

Menurut INDEF, terdapat sejumlah persoalan kebijakan yang menyebabkan nilai tambah komoditas belum otomatis menjadi nilai tambah bagi sumber daya manusia.

Baca juga: Bahlil Buka Peluang Longgarkan Kuota Produksi Nikel dan Batu Bara

Pertama, desain kebijakan hilirisasi dinilai belum mewajibkan target penyerapan tenaga kerja lokal berkualitas. Kedua, kurikulum pendidikan vokasi seperti SMK, politeknik, dan balai latihan kerja dinilai belum selaras dengan kebutuhan industri tambang dan smelter modern.

Ketiga, investasi asing disebut belum diiringi kewajiban alih teknologi dan pelatihan tenaga kerja lokal. Selain itu, koordinasi antar kementerian dan pemerintah daerah juga dinilai masih berjalan sendiri-sendiri dengan indikator yang berbeda.

Imaduddin juga menyoroti lemahnya pengawasan perlindungan tenaga kerja di kawasan industri tertutup serta keterbatasan kapasitas pemerintah daerah dalam mengimbangi laju investasi industri mineral kritis.

Menurut dia, tanpa perbaikan tata kelola dan penguatan kapasitas lokal, hilirisasi nikel berisiko hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi jangka pendek tanpa menciptakan transformasi industri yang berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sulteng Masuk 3 Besar Nasional, Investasi Jadi Penggerak Ekonomi Berkelanjutan
Sulteng Masuk 3 Besar Nasional, Investasi Jadi Penggerak Ekonomi Berkelanjutan
Pemerintah
Eropa Masuki Era Pemasaran Hijau, Seperti Apa?
Eropa Masuki Era Pemasaran Hijau, Seperti Apa?
Pemerintah
Ancaman Perubahan Iklim, 96 Persen Terumbu Karang Terancam Punah pada 2075
Ancaman Perubahan Iklim, 96 Persen Terumbu Karang Terancam Punah pada 2075
Pemerintah
PBB: Dunia Harus Pangkas Emisi 18 Persen dalam Empat Tahun untuk Selamatkan Bumi
PBB: Dunia Harus Pangkas Emisi 18 Persen dalam Empat Tahun untuk Selamatkan Bumi
Pemerintah
Permintaan Green Skills Global Naik Dua Kali Lipat dari Ketersediaan Tenaga Kerja
Permintaan Green Skills Global Naik Dua Kali Lipat dari Ketersediaan Tenaga Kerja
Pemerintah
Perubahan Iklim Perparah Pencemaran Limbah Tambang Beracun di Wilayah Pesisir
Perubahan Iklim Perparah Pencemaran Limbah Tambang Beracun di Wilayah Pesisir
Pemerintah
Dorong Lapangan Kerja dan Teknologi, Bank Dunia Resmikan Strategi Digital Global
Dorong Lapangan Kerja dan Teknologi, Bank Dunia Resmikan Strategi Digital Global
Pemerintah
Singapura Gelontorkan 75 Juta Dollar Singapura untuk Dekarbonisasi Listrik
Singapura Gelontorkan 75 Juta Dollar Singapura untuk Dekarbonisasi Listrik
Pemerintah
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau