KOMPAS.com - Limbah kulit kayu eucalyptus dapat dimanfaatkan untuk membantu membersihkan air yang tercemar, menyaring udara kotor, dan menangkap karbon dioksida (CO2).
Studi terbaru dari Universitas Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) mengungkapkan, limbah kulit kayu eucalyptus bisa diubah menjadi material karbon yang sangat berpori untuk memerangkap polutan saat air atau udara mengalir melewatinya.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Biomass and Bioenergy ini menunjukkan cara praktik mengubah produk sampingan kehutanan menjadi material lingkungan yang bermanfaat dengan memakai metode pemrosesan relatif sederhana.
Baca juga: Segudang Manfaat Daun Eucalyptus, Apa Saja Khasiatnya?
Sebenarnya, material karbon berpori sudah banyak dipakai sebagai filter air, pembersih udara, dan sistem pengolahan gas industri, dengan efektivitasnya berasal dari strukturnya, bukan asal sumber bahannya.
Bahan dari material karbon yang mengandung jaringan pori-pori mikroskopis dapat memerangkap molekul-molekul tidak diingin saat udara ataau air melintasinya.
"Biasanya biomassa dianggap sebagai limbah bernilai rendah, tetapi dengan proses sederhana kami mampu mengubahnya menjadi material berpori tinggi dengan kinerja adsorpsi yang kuat. Ini menunjukkan bagaimana biomassa yang selama ini diabaikan dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat," ujar peneliti yang memimpin studi tersebut, Pallavi Saini, dilansir dari Phys, Kamis (7/5/2026).
Pemanfaatan material karbon berbasis limbah tanaman dari pertanian, kehutanan, dan industri memang sedang dipelajari di seluruh dunia.
Bahan untuk material karbon biasanya dinilai berdasarkan ketersediaan, keberlanjutan, kompleksitas pengolahan, dan kinerja. Limbah kulit kayu eucalyptus menunjukkan kinerja yang tidak terduga, dengan hasil baik pada beberapa ukurannya, meski pendekatannya sederhana.
Padahal, pengaplikasian material karbon dengan sumber biomassa lain masih perlu diproduksi melalui jalur multi-tahap yang lebih kompleks, dengan energi dan infrastruktur tambahan.
"Kami mengubah bahan limbah yang tersedia secara luas menjadi karbon fungsional dengan kinerja yang menjanjikan, tanpa bergantung pada langkah-langkah pemrosesan yang rumit. Hal ini menjadikannya sangat relevan untuk aplikasi lingkungan di dunia nyata," tutur salah satu peneliti, Deshetti Jampaiah.
Australia menjadi rumah bagi lebih dari 900 spesies pohon eucalyptus, sehingga para peneliti berencana bekerja sama dengan masyarakat adat dan organisasi berpengalaman untuk membantu mengidentifikasi yang paling cocok.
Baca juga: Perbedaan Eucalyptus dengan Kayu Putih, Kenali Ciri-cirinya
Ada potensi untuk lebih mengoptimalkan material karbon itu dengan memahami karakteristik kimia dan struktural spesifik spesies melalui bantuan analisis ilmiah serta pengetahuan ekologis yang telah lama ada.
Penggunaan kulit kayu eucalyptus tidak bersaing dengan produksi pangan, karena berasal dari kegiatan kehutanan. Bahkan, pemanfaatan kulit kayu eucalyptus selaras dengan tujuan ekonomi sirkular dan pengurangan limbah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya