JAKARTA, KOMPAS.com - Dunia dihebohkan dengan teridentifikasinya hantavirus yang menewaskan tiga orang penumpang kapal pesiar MV Hondius di perairan Samudra Atlantik. Mengutip laman Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, infeksi hantavirus telah ada sejak lama. Di Indonesia, virus tersebut ditemukan pada 1980-
Hantavirus disebut sebagai zoonosis emerging yakni penyakit baru yang muncul dan berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Masalahnya utamanya, masyarakat kerap tidak menyadari keberadaan virus yang dibawa hewan pengerat seperti tikus itu.
"Hantavirus memiliki gejala awal yang hampir identik demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Akibatnya, banyak kasus kemungkinan besar salah diagnosis atau tidak terdeteksi sama sekali," kata BKPK ditulis Jumat (8/5/2026).
Baca juga: WHO Pastikan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Samudra Atlantik Bukan Pandemi
Hantavirus adalah virus yang dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara mengandung partikel urin, feses, atau liur tikus, kontak langsung dengan luka terbuka pada kulit, dan permukaan yang terkontaminasi.
Menurut BKPK, hantavirus memiliki dua manifestasi utama penyakit yaitu hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS). Banyak terjadi di Asia dan Eropa, menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan gejala demam, perdarahan, gagal ginjal
Kedua, hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang lebih sering ditemukan di Amerika dan bisa menyerang paru-paru dengan gejala sesak napas akut serta gagal napas. Rasio fatalitas kasus hantavirus mencapai 50 persen di beberapa tipe virus.
"Di Indonesia sendiri, virus yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV), yang menyebar melalui tikus rumah (Rattus rattus dan Rattus norvegicus). Karena tikus jenis ini hidup sangat dekat dengan manusia, risiko penularan menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan penyakit zoonotik lain yang terbatas pada hutan atau satwa liar," jelas BKPK dalam keterangannya.
Penelitian di Indonesia menunjukkan, hantavirus tidak hanya ditemukan di daerah terpencil, tetapi juga di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, serta Denpasar. Satu studi kasus mengungkapkan, infeksi ditemukan pada pasien yang dirawat di rumah sakit di sejumlah kota besar.
Baca juga: Kerusakan Hutan Perparah Risiko Penularan Virus Nipah, Ini Penjelasan Ahli
BKPK menyampaikan, hantavirus kembali menjadi sorotan usai terjadinya peningkatan kasus di Asia Timur dan Eropa, wabah sporadis di Amerika Serikat, serta keterkaitan dengan perubahan iklim dan urbanisasi.
Perubahan iklim dinilai memengaruhi populasi hewan pengerat, meningkatkan reproduksi dan memperluas habitat mereka. Sementara, urbanisasi memperbesar kontak antara manusia dengan reservoir virus.
Karenanya, wabah tersebut harus menjadi isu dalam kebijakan kesehatan nasional lantaran banyak kasus yang tidak terdeteksi akibat gejalanya mirip penyakit lain.
"Kedua, reservoir melimpah. Indonesia memiliki setidaknya 15 spesies tikus yang terkonfirmasi membawa virus. Ketiga, Potensi Fatal Tinggi, CFR dapat mencapai puluhan persen pada kasus berat," beber BKPK.
Dengan begitu, hantavirus bukan sekadar penyakit langka, melainkan ancaman laten yang sistematis.
Berbeda dengan banyak penyakit infeksi lain, hantavirus tak bisa dikendalikan hanya dengan obat atau vaksin yang hingga kini belum disetujui secara luas. BKPK menekankan, pengendaliannya bergantung pada populasi tikus, perbaikan sanitasi lingkungan, edukasi, hingga surveilans berbasis risiko.
"Dibutuhkan pendekatan sistemik, pertama, integrasi surveilans. Hantavirus perlu masuk dalam sistem surveilans sindromik seperti demam akut tidak terdiagnosis, bukan hanya surveilans penyakit spesifik," papar BKPK.
Kedua, penguatan diagnosis melalui pemeriksaan serologi dan PCR terutama di rumah sakit rujukan. Ketiga, pengendalian pengerat berbasis komunitas.
Program pengendalian tikus harus menjadi bagian dari kebijakan kesehatan lingkungan. Kemudian, edukasi publik dan integrasi dengan program eksisting.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya