Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar

Kompas.com, 10 Mei 2026, 10:02 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Sebuah studi mengungkapkan perilaku maskulin dianggap memberikan dampak buruk bagi planet kita.

Laporan tersebut didapat setelah lebih dari 20 ilmuwan yang berasal dari 13 negara menganalisis berbagai penelitian tentang perubahan iklim, pemanasan global, kerusakan lingkungan serta bagaimana semua itu berhubungan dengan kebiasaan para laki-laki.

Melansir Euro News, Rabu (6/5/2026) para peneliti menemukan bahwa secara keseluruhan, laki-laki cenderung memiliki jejak karbon dan dampak lingkungan yang lebih besar melalui pola konsumsi mereka.

Hal ini terutama terlihat dalam cara mereka bepergian, penggunaan alat transportasi, kegiatan wisata, dan kebiasaan makan daging.

Baca juga: Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki

Pola konsumsi laki-laki

Banyak penelitian telah menyoroti perbedaan jumlah emisi gas rumah kaca antara laki-laki dan perempuan.

Sebagai contoh, sebuah studi tahun 2025 yang melibatkan 15.000 orang di Prancis menemukan bahwa laki-laki menghasilkan polusi 26 persen lebih banyak daripada perempuan dari sektor transportasi dan makanan.

Tim peneliti juga memperingatkan bahwa laki-laki cenderung kurang peduli terhadap perubahan iklim, kurang bersemangat dan kurang aktif dalam politik lingkungan, serta kurang mau mengubah kebiasaan sehari-hari untuk mengatasi masalah ini.

Sebuah penelitian tahun lalu menemukan bahwa laki-laki yang merasa tertekan untuk selalu terlihat maskulin merasa kurang khawatir tentang perubahan iklim.

Mereka juga lebih cenderung menghindari perilaku ramah lingkungan, seperti enggan menggunakan produk ekologi, demi menjaga citra maskulin yang tradisional.

Laporan tersebut menyatakan bahwa laki-laki juga cenderung lebih banyak terlibat dalam memiliki, mengelola, dan mengendalikan industri berat yang menggunakan bahan kimia dan karbon.

Ini termasuk sektor pertanian industri, industri pengolahan sumber daya alam yang berdampak besar pada lingkungan, serta sektor militer.

“Sekarang sudah ada banyak penelitian yang menunjukkan dampak negatif yang nyata dari perilaku sebagian laki-laki terhadap lingkungan dan iklim,” kata Profesor Jeff Hearn, editor laporan tersebut dan seorang profesor Sosiologi di University of Huddersfield.

Baca juga: Ada Kesenjangan Kesadaran Hadapi Krisis Iklim antara Laki-laki dan Perempuan

“Hal yang mengejutkan adalah bagaimana aspek ini tidak muncul dalam kebanyakan debat dan kebijakan untuk dunia yang lebih berkelanjutan,” paparnya lagi.

Para peneliti menambahkan bahwa pola-pola yang merusak ini terutama berlaku bagi laki-laki kulit putih kelas atas dari negara-negara Barat, dibandingkan dengan laki-laki berpenghasilan rendah di negara-negara berkembang.

Kendati demikian, laporan juga mengakui bahwa ada beberapa laki-laki yang sedang berusaha dengan penuh semangat untuk mengubah kecenderungan tersebut.

Studi berjudul ‘Men, masculinities and the planet at the end of (M)Anthropocene’ ini dipublikasikan di Norma: International Journal for Masculinity Studies.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perkuat Usaha Masyarakat Pesisir, Agrinas Jaladri Salurkan 19.500 Benih Ikan
Perkuat Usaha Masyarakat Pesisir, Agrinas Jaladri Salurkan 19.500 Benih Ikan
BUMN
Pelajar Diajak Lebih Peduli Lingkungan Lewat Industri Populer
Pelajar Diajak Lebih Peduli Lingkungan Lewat Industri Populer
Swasta
Lestari Kompas Gramedia Beri Edukasi Keberlanjutan di Sekolah Binaan Pertamina
Lestari Kompas Gramedia Beri Edukasi Keberlanjutan di Sekolah Binaan Pertamina
Swasta
BRI Salurkan 'Social Loan' Rp 718,8 Triliun, Setara 53 Persen dari Total Kredit
BRI Salurkan "Social Loan" Rp 718,8 Triliun, Setara 53 Persen dari Total Kredit
BUMN
Minat STEM Pelajar Naik 90 Persen, PT Pertamina Perluas Edukasi Transisi Energi Lewat SEB
Minat STEM Pelajar Naik 90 Persen, PT Pertamina Perluas Edukasi Transisi Energi Lewat SEB
BUMN
Kecil tapi Berdampak, Semut Berperan dalam Siklus Karbon Planet
Kecil tapi Berdampak, Semut Berperan dalam Siklus Karbon Planet
Pemerintah
Konferensi APS III 2026, Menggali Etnosains untuk Transformasi Pembangunan Papua
Konferensi APS III 2026, Menggali Etnosains untuk Transformasi Pembangunan Papua
LSM/Figur
Ancaman Cuaca Ekstrem, Ibadah Haji Di Masa Depan Disebut Makin Berbahaya
Ancaman Cuaca Ekstrem, Ibadah Haji Di Masa Depan Disebut Makin Berbahaya
Pemerintah
Dinilai Perburuk Layanan RS, Buruh Minta Pemerintah Revisi Permenaker 7/2026
Dinilai Perburuk Layanan RS, Buruh Minta Pemerintah Revisi Permenaker 7/2026
LSM/Figur
PLN Ubah Kantor Jadi Sumber Energi Mandiri lewat Smart and Green Building
PLN Ubah Kantor Jadi Sumber Energi Mandiri lewat Smart and Green Building
Pemerintah
Industri Ritel Global Belum Serius Garap Sektor Cokelat Berkelanjutan
Industri Ritel Global Belum Serius Garap Sektor Cokelat Berkelanjutan
Pemerintah
Akses Air Bersih Tersedia, Biaya Rumah Tangga Warga di Cikarang Turun Drastis
Akses Air Bersih Tersedia, Biaya Rumah Tangga Warga di Cikarang Turun Drastis
Swasta
Lewat Kampanye LG Loves Green, Serahkan Karya Seni dari Sampah Elektronik ke SDN 08 Ragunan
Lewat Kampanye LG Loves Green, Serahkan Karya Seni dari Sampah Elektronik ke SDN 08 Ragunan
BrandzView
Beratnya Penanaman Bibit Mangrove di Pesisir Jakarta akibat Sampah Plastik
Beratnya Penanaman Bibit Mangrove di Pesisir Jakarta akibat Sampah Plastik
Pemerintah
Singapura Perkuat Ketahanan Pangan dengan Genjot Produksi Sayuran
Singapura Perkuat Ketahanan Pangan dengan Genjot Produksi Sayuran
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau