Penulis
KOMPAS.com - Perempuan Indonesia bisa menyelesaikan kursus Generative AI (GenAI) dengan tingkat kelulusan 0,9 persen lebih tinggi dibanding laki-laki, menurut laporan platform pembelajaran daring Coursera.
"Data kami menunjukkan bahwa ketika perempuan di Indonesia mendapatkan akses terhadap peluang pembelajaran GenAI, mereka memperlihatkan ketekunan dan komitmen yang kuat untuk menguasai keterampilan ini," kata Learning Science Research Lead di Coursera, Dr. Alexandra Urban lewat keterangan resmi, dilansir Selasa (10/3/2026).
"Indonesia memiliki basis perempuan yang sangat besar dan penuh motivasi, dan perluasan akses terhadap pendidikan GenAI akan menjadi kunci untuk menggali potensi penuh talenta bangsa ini," tambah dia.
Baca juga:
Laporan Coursera menunjukkan, perempuan Indonesia lulus kursus GenAI 0,9 persen lebih tinggi dari laki-laki. Laporan bertajuk One Year Later: The Gender Gap in GenAI ini menunjukkan partisipasi perempuan yang terus meningkat untuk belajar GenAI.
Sebab, perempuan menyumbang 32 persen dari pendaftaran kursus GenAI di Indonesia tahun 2025, meningkat dari 31 persen pada tahun 2024, dengan peningkatan satu poin persentase secara tahunan.
Angka tersebut menunjukkan urgensi untuk menurunkan hambatan masuk dan memperluas akses terhadap jalur pembelajaran AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan).
Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika, perempuan mencakup 49 persen pengguna internet. Namun, baru 27 persen perempuan yang bekerja di sektor teknologi.
Angka ini masih di bawah rata-rata global yang mencapai 40 persen.
Tidak hanya itu, desain kursus cukup memengaruhi minat. Perempuan cenderung memilih kursus yang ramah pemula dan praktis.
Mereka lebih suka materi yang bisa langsung diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari. Contohnya, alat produktivitas dan integrasi AI di tempat kerja.
Baca juga:
Laporan Coursera menunjukkan, perempuan Indonesia lulus kursus GenAI 0,9 persen lebih tinggi dari laki-laki.
Berikut beberapa kursus yang diminati perempuan di Coursera:
Tidak hanya belajar teknis, perempuan Indonesia juga mengasah keterampilan berpikir kritis. Pada tahun 2025, pendaftaran kursus berpikir kritis oleh perempuan naik menjadi 40 persen.
Tren ini menunjukkan, perempuan tidak hanya memperkuat keterampilan teknis, tapi juga secara aktif mengasah keterampilan manusia yang penting untuk pertumbuhan profesional jangka panjang.
Sebagai informasi, Coursera didirikan oleh Andrew Ng dan Daphne Koller tahun 2012. Misinya adalah menyediakan akses universal terhadap pembelajaran kelas dunia.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya