Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kecil tapi Berdampak, Semut Berperan dalam Siklus Karbon Planet

Kompas.com, 11 Mei 2026, 16:30 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com-Kebanyakan orang menganggap semut hanya serangga biasa yang mengganggu. Namun sebuah penelitian mengungkapkan, semut ternyata melakukan sesuatu yang penting bagi planet ini.

Melansir Earth, Minggu (10/5/2026) ada sekitar 20 kuadriliun semut yang merayap di planet ini setiap saat. Jumlah yang luar biasa banyak ini membuat berat total seluruh semut di dunia setara dengan seperlima dari berat total seluruh manusia di bumi jika digabungkan.

Dan aktivitas harian semut seperti membangun, menggali, serta mengangkut daun, biji-bijian, dan serangga mati dalam jarak yang cukup jauh punya dampak besar bagi lingkungan.

Analisis global baru tentang bagaimana seluruh aktivitas semut mengubah bentuk tanah tersebut dilakukan dengan mengumpulkan 2.232 hasil pengukuran dari 136 penelitian yang berbeda.

Data tersebut mencakup berbagai jenis wilayah, mulai dari padang pasir, lahan basah, lahan pertanian, hutan, hingga padang rumput.

Baca juga: Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan

Semut memengaruhi penyimpanan karbon

Berdasarkan studi tersebut, dibandingkan dengan tanah di sekitarnya yang tidak tersentuh semut, sarang semut menyimpan 22 persen lebih banyak karbon organik tanah. Di saat yang sama, sarang-sarang tersebut melepaskan 84 persen lebih banyak karbon dioksida ke udara.

Semut memasukkan lebih banyak karbon ke dalam tanah, tetapi mereka juga melepaskan lebih banyak karbon ke langit.

Efek relatif pada penyimpanan karbon paling besar terjadi di tanah yang paling kering.

Di wilayah yang kering, semut meningkatkan jumlah karbon di dalam tanah sebesar 44 persen. Namun di tempat yang lebih basah, peningkatan tersebut turun menjadi hanya 12 persen.

Tanah di gurun mengalami kenaikan yang paling besar, yaitu mencapai 74 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan padang rumput, hutan, atau lahan pertanian. Sementara itu, lahan basah secara mengejutkan hanya kehilangan sedikit karbon.

Kelangkaan sumber daya menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Di wilayah yang gersang dan hampir tidak ada apa pun, koloni semut yang mengangkut daun dan biji-bijian ke satu tempat kemungkinan besar menciptakan "oase" kecil yang subur.

Sebaliknya, di hutan yang rimbun di mana tumpukan karbon sudah sangat banyak, aktivitas pengangkutan yang dilakukan semut hampir tidak memberikan pengaruh yang besar bagi lingkungan tersebut.

Para peneliti mencatat bahwa mekanisme tersebut disimpulkan daripada diamati secara langsung, tetapi polanya konsisten di berbagai ekosistem.

Pentingnya jenis semut

Jenis semut juga berpengaruh dalam penyimpanan karbon. Para peneliti sudah lama menduga hal ini, tetapi baru sekarang ada yang mengelompokkan peran mereka secara luas di seluruh dunia.

Semut jenis Formica, Pheidole, dan Pogonomyrmex yang banyak ditemukan di daerah beriklim sedang dan wilayah kering cenderung meningkatkan penyimpanan karbon sekaligus menambah jumlah gas yang dilepaskan ke udara.

Baca juga: Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?

Jenis semut lainnya hampir tidak memberikan pengaruh apa pun. Keluarga besar semut juga berpengaruh, di mana sarang kelompok Formicinae rata-rata mengeluarkan gas CO2 sebanyak 1,7 kali lebih banyak daripada sarang kelompok Myrmicinae.

Pola makan semut juga memberikan pengaruh yang berbeda-beda. Semut yang menggunakan kutu daun untuk mengambil cairan manisnya, atau semut yang mengumpulkan biji-bijian, menimbun bahan tanaman yang sangat mudah membusuk.

Bahan-bahan ini menjadi makanan bagi mikroba tanah dan memicu proses penyimpanan serta pelepasan karbon yang besar di dalam ekosistem.

Sementara itu, semut pemangsa menimbun sisa-sisa hewan yang kaya akan nitrogen, yang mengubah kandungan kimia tanah dengan cara yang berbeda.

Suhu dan curah hujan menentukan jenis semut apa yang tinggal di suatu tempat, apa yang mereka makan, dan bagaimana cara mereka membangun sarang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau