Editor
JAKARTA, KOMPAS.com – Populasi kerbau di Indonesia terus menghadapi tekanan seiring modernisasi sektor pertanian yang menggeser perannya sebagai tenaga kerja di sawah.
Di tengah kondisi tersebut, pelestarian kerbau dinilai perlu dilakukan melalui penguatan budaya dan tradisi masyarakat, bukan hanya pendekatan peternakan semata.
Guru Besar IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, mengatakan kerbau bukan sekadar hewan ternak, melainkan bagian dari sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Indonesia. Karena itu, upaya pelestarian akan lebih efektif jika memanfaatkan ikatan budaya yang telah mengakar di berbagai daerah.
"Konservasi kerbau lewat jalur budaya lebih dekat karena ikatan emosional. Kerbau bukan sekadar ternak, tetapi juga bagian dari identitas bersama. Tradisi adat mengajak komunitas untuk berpartisipasi secara sukarela sehingga memperkuat kebersamaan," ujar Ronny dikutip dari website IPB University, Kamis (16/7/2026).
Baca juga: Jejak Muhsin, Kembangkan Peternakan Ramah Lingkungan
Menurut dia, menurunnya populasi kerbau dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah mekanisasi pertanian yang membuat traktor menggantikan fungsi kerbau sebagai tenaga pengolah sawah.
Selain itu, alih fungsi lahan akibat urbanisasi turut mengurangi habitat sawah dan rawa yang selama ini menjadi lingkungan hidup kerbau.
Di sisi lain, minat generasi muda untuk beternak kerbau juga terus menurun karena dianggap kurang menguntungkan dibandingkan komoditas peternakan lain.
"Peternak merasa minat generasi muda untuk beternak kerbau cenderung menurun karena dianggap kurang menguntungkan. Sementara itu, kebijakan pemerintah lebih banyak berfokus pada pengembangan sapi potong dan unggas yang dinilai memiliki prospek ekonomi lebih jelas," kata Ronny.
Ia menilai pelestarian kerbau perlu diiringi penguatan ekonomi berbasis peternakan agar masyarakat memiliki insentif untuk terus memeliharanya. Caranya antara lain dengan mengembangkan produk berbahan baku kerbau, seperti susu, daging, maupun kerajinan berbahan tanduk.
Selain itu, peningkatan kualitas populasi juga dapat dilakukan melalui inseminasi buatan dan program pemuliaan genetik.
Menurut Ronny, edukasi kepada masyarakat juga perlu diperkuat sejak dini melalui festival budaya, kurikulum berbasis kearifan lokal, hingga wisata edukasi yang mengenalkan nilai sejarah dan budaya kerbau. Di sisi lain, kawasan konservasi kerbau rawa di daerah endemik juga perlu diperluas untuk menjaga habitat alaminya.
Ronny menjelaskan, kerbau (genus Bubalus) berasal dari nenek moyang keluarga Bovidae di Asia sekitar satu hingga dua juta tahun lalu.
Hewan ini mulai didomestikasi sekitar 5.000–6.000 tahun lalu di Asia Selatan sebelum menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Nusantara, melalui jalur perdagangan dan migrasi.
"Kerbau masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan dari India dan Indochina, kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat di Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Kerbau dimanfaatkan sebagai tenaga kerja di sawah, simbol status sosial, hingga hewan untuk berbagai ritual adat," ujarnya.
Baca juga: El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
Sebelum mekanisasi pertanian berkembang, kerbau menjadi tulang punggung aktivitas pertanian di berbagai daerah. Perannya juga melekat dalam berbagai tradisi, seperti ritual memandikan kerbau sebelum musim tanam, upacara Rambu Solo di Tana Toraja, tradisi Kwangkey masyarakat Dayak, hingga simbol kerbau dalam budaya Minangkabau.
Selain menghadapi penurunan populasi, kerbau juga rentan terhadap sejumlah penyakit, seperti Septicaemia epizootica, malignant catarrhal fever (MCF), surra, fasciolosis, dan enterotoxemia.
Risiko tersebut diperbesar oleh kondisi lingkungan rawa, keberadaan serangga pembawa penyakit, serta pengelolaan kandang yang belum optimal.
Karena itu, Ronny menilai pelestarian kerbau tidak hanya penting dari sisi peternakan, tetapi juga sebagai upaya menjaga warisan budaya Indonesia.
"Kerbau adalah bagian berharga dari warisan budaya Indonesia. Meski jumlahnya menurun akibat modernisasi dan perubahan sosial, pelestarian melalui tradisi, ritual, dan nilai-nilai budaya menjadi cara terbaik agar kerbau tetap menjadi bagian dari identitas bangsa," ujarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya