Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Tersembunyi Krisis Iklim, dari Kemiskinan hingga Kerja Paksa

Kompas.com, 19 Mei 2026, 21:52 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Krisis iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan aja, tetapi juga kehidupan sosial ekonomi masyarakat terutama perempuan dan anak-anak di wilayah pesisir.

Dampaknya mulai dari penurunan pendapatan, sulit mendapat pekerjaan, ancaman migrasi paksa, hingga kerja paksa, memurut buku Climate Change, Labour and Migration in Indonesia yang ditulis peneliti dari Griffith University, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Universitas Diponegoro.

Peneliti BRIN, Laely Nurhidayah menjelaskan perubahan iklim kini menjadi masalah lintas sektor yang memengaruhi ekonomi, sosial, hingga migrasi masyarakat. Dampaknya banyak dirasakan masyarakat pesisir utara Pulau Jawa seperti Jakarta, Semarang, Pekalongan, dan Demak.

Baca juga: Publik Desak WHO Tetapkan Krisis Iklim Jadi Darurat Kesehatan Global

“Melalui keberhasilan proyek riset tersebut, kami menyusun buku ini untuk menyoroti dampak sosial dan bencana yang terjadi secara perlahan di pesisir Jawa, sekaligus menerjemahkan implikasi hukum dan kebijakan menjadi rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti para pembuat kebijakan di Asia Pasifik," ujar Laely dalam diskusi yang digelar Koneksi di Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026).

Buku yang disusunnya bersama peneliti lain menghasilkan laporan yang bakal didistribusikan kepada para pemangku kepentingan, laporan konsultasi untuk masyarakat, hingga artikel riset.

Laporan tersebut juga bertujuan mendorong respons ataupun kerja sama lintas kementerian, terutama untuk melindungi perempuan dan anak-anak di wilayah pesisir Jawa yang kerap dilanda banjir.

"Salah satu rekomendasi yang kami susun dalam penelitian ini adalah melakukan revisi dari UU Penanggulangan Bencana Nomor 24/2007 untuk mengkategorikan SLR dan penurunan tanah sebagai bencana dan memasukkan perlindungan sosial yang adaptif terhadap perubahan iklim,” sebut Laely.

Baca juga: Keterlibatan Investor Asia dalam Kebijakan Iklim Melonjak 3 Kali Lipat

Peneliti turut menyoroti ancaman hilangnya lahan di desa-desa pesisir akibat naiknya permukaan laut. Kondisi itu memaksa masyarakat berpindah tempat tinggal, sekaligus meningkatkan risiko kerja paksa.

Riset juga menunjukkan, sebanyak 80 persen perempuan mengalami penurunan pendapatan akibat dampak perubahan iklim. Anak-anak lebih rentan kehilangan akses pendidikan, kesehatan, nutrisi, dan perlindungan ketika bencana terjadi.

Tantangan Perkotaan 

Kepala Pusat Riset dan Inovasi Daerah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta, Andhika Ajie menilai perubahan iklim kini tidak lagi hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga tantangan perkotaan, sosial dan pembangunan yang berdampak langsung pada kelompok rentan.

Ajie memaparkan, kota pesisir seperti Jakarta menghadapi tekanan iklim berlapis yang mencakup banjir rob, abrasi, penurunan muka tanah, hingga suhu ekstrim. Sehingga, dibutuhkan kebijakan yang lebih inklusif dan berbasis riset.

"Buku ini dapat memberikan perspektif yang lebih komprehensif mengenai keterkaitan perubahan iklim, migrasi, dan ketenagakerjaan, sekaligus mendukung pengembangan kebijakan berbasis bukti untuk memperkuat ketahanan kota," tutur Ajie.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri memperkuat ekosistem pengetahuan perkotaan melalui Jakarta Urban Knowledge Hub sebagai ruang kolaborasi dan pertukaran pengetahuan lintas sektor.

Sementara itu, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kedeputian Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani menekankan pentingnya penguatan aksi adaptasi perubahan iklim. Kata dia, langkah mitigasi dan adaptasi harus berjalan beriringan.

"Indonesia terus memperkuat komitmennya melalui penyusunan Rencana Adaptasi Nasional (RAN) untuk mengintegrasikan ketahanan iklim ke dalam perencanaan pembangunan di berbagai sektor dan tingkat pemerintahan," jelas Franky

"Namun, proses adaptasi juga perlu didukung oleh pemahaman yang kuat terhadap kondisi sosial masyarakat yang terdampak secara langsung," imbuh dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau