Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Keterlibatan Investor Asia dalam Kebijakan Iklim Melonjak 3 Kali Lipat

Kompas.com, 18 Mei 2026, 19:42 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebuah laporan baru menunjukkan bahwa para investor institusi di Asia yang mengelola dana sekitar 123 triliun Dolar AS kini mulai meningkatkan investasi mereka untuk solusi iklim atau pendanaan transisi energi.

Bahkan, aksi mereka dalam mendesak pemerintah agar membuat aturan hukum yang lebih jelas dan aman bagi investasi ramah lingkungan telah meningkat sebanyak tiga kali lipat.

Melansir Eco Business, Senin (18/5/2026) laporan terbaru berjudul State of Investor Climate Transition in Asia edisi ketujuh yang dikeluarkan oleh Asia Investor Group on Climate Change (AIGCC) menemukan bahwa 30 persen dari 240 investor telah menambah modal mereka untuk solusi iklim pada tahun 2025. Angka ini naik 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kita perlu melihat adanya perubahan kebijakan agar bisa benar-benar menggerakkan perusahaan-perusahaan. Selain itu, aturan yang jelas juga penting agar kami bisa sukses menginvestasikan uang atas nama anggota kami,” kata Stephen Dunne, direktur dan ketua komite investasi dari Cbus Super Fund, salah satu lembaga pengelola dana pensiun pekerja terbesar di Australia.

Baca juga: Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi

Ia mengungkapkan pula bahwa jika bumi terus mengalami kenaikan suhu seperti sekarang, pengembalian dana Cbus untuk satu juta lebih anggotanya akan merosot hingga 40 persen lebih buruk, dibandingkan jika uang tersebut diinvestasikan pada proyek yang mendukung target menahan suhu bumi 1,5 derajat C.

Dunne, menambahkan bahwa cara paling ampuh untuk membujuk pemerintah agar mau mengubah aturan adalah dengan bergerak bersama-sama secara kompak melalui organisasi seperti AIGCC.

Masih minim rencana pelaksanaan transisi

Laporan terbaru dari organisasi tersebut juga menemukan bahwa kerja sama ini sekarang cakupannya semakin luas. Pembahasan tidak lagi sebatas menentukan target pengurangan emisi, tetapi sudah mulai membahas rencana transisi energi, inovasi teknologi, risiko fisik akibat perubahan iklim, serta laporan keterbukaan terkait dampaknya terhadap alam sekitar.

Meski begitu, masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Kurang dari sepertiga investor di Asia yang punya aturan atau strategi khusus untuk menangani sektor usaha penghasil polusi tinggi, seperti bisnis bahan bakar fosil.

Selain itu, jumlah investor yang membagikan rencana transisi iklim mereka secara mendetail juga tidak bertambah, masih tetap di angka 22 persen saja.

Laporan tersebut menemukan pula bahwa sebagian besar investor di Asia masih sangat minim memberikan rincian tentang bagaimana cara mereka melaksanakan rencana transisi tersebut.

Padahal, rincian ini adalah bukti kuat untuk melihat apakah para investor benar-benar sudah memikirkan strategi matang untuk mengelola risiko serta memanfaatkan peluang terkait masalah iklim.

“Mengingat Asia adalah salah satu wilayah yang paling rapuh terhadap gangguan pasokan minyak dan naik-turunnya harga, para investor sebenarnya bisa berbuat lebih banyak untuk mengamankan modal mereka dengan cara berinvestasi pada transisi energi yang teratur dan aman,” kata pihak AIGCC.

Namun, penelitian lain yang terpisah baru-baru ini menemukan bahwa ada semakin banyak investor yang tampaknya tidak akan mengurangi investasi mereka di sektor bahan bakar fosil.

Alasan utamanya adalah karena mereka takut kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang sangat besar dalam tiga tahun ke depan.

Baca juga: Morgan Stanley: Mayoritas Investor Individu Ingin Tingkatkan Investasi Berkelanjutan

Ide mengenai transisi yang adil sendiri merupakan hal yang jauh lebih baru. Konsep ini bahkan baru pertama kali dinilai oleh AIGCC dalam laporan mereka tahun ini.

Meskipun 29 persen anggota AIGCC mengaku sudah memiliki strategi transisi yang adil, angka ini jauh lebih rendah untuk investor yang bukan anggota. Hanya 11 persen dari total seluruh investor yang menyatakan bahwa mereka telah merancang pendekatan untuk transisi yang adil ini.

AIGCC mencatat bahwa sampai saat ini masih belum ada satu pun definisi tunggal yang disepakati semua orang tentang apa itu transisi yang adil.

Badan Pembangunan PBB (UNDP) menyatakan bahwa istilah ini berarti "memasukkan prinsip keadilan sosial dan kesetaraan ke dalam setiap tindakan nyata untuk mengatasi perubahan iklim."

"Dalam praktiknya, banyak rencana pengurangan polusi dan pembangunan di Asia yang sebenarnya sudah membahas transisi yang adil ini secara tidak langsung. Caranya adalah melalui pelatihan keterampilan baru bagi pekerja, menjaga harga agar tetap terjangkau, serta memberikan akses jaminan perlindungan sosial," kata pihak AIGCC.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Swasta
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
LSM/Figur
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau