JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia dinilai terlambat menangkap momentum pertumbuhan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) untuk mendorong hilirisasi nikel.
Kini, tren pasar global Battery Energy Storage System (BESS) untuk pembangkit listrik EBT sudah sepenuhnya memakai lithium iron phosphate (LFP), tanpa kandungan nikel sama sekali. Padahal, Indonesia berupaya mempercepat transisi energi dengan membangun banyak pembangkit listrik EBT.
"Itu sudah no compromise, artinya enggak bisa kita otak-atik lagi jadi pakai (baterai) NMC (Nickel Manganese Cobalt). Enggak bisa karena secara teknikal memang sangat sulit kalau pakai NMC," ujar Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif dalam MIND Club; Bincang-Bincang Baterai, Senin (18/5/2026).
Baca juga: Permintaan Nikel untuk Baterai Kendaraan Listrik Dinilai Masih Prospektif
BESS dengan teknologi lithium-ion berbasis nikel menghadapi kendala heat dissipation atau pembuangan panas saat digunakan maupun isi ulang sangat tinggi.
Indonesia sebenarnya dapat memanfaatkan momentum pertumbuhan pembangkit listrik EBT untuk menyokong hilirisasi nikel jika sudah mengambangkan baterai sodium-ion. Dengan baterai sodium-ion, Indonesia memiliki peluang untuk menggantikan posisi LFP.
BESS berteknologi sodium-ion sangat cocok untuk pembangkit listrik EBT, seperti tenaga surya, karena tidak ada kendala ruang baterai. Bahkan, permintaan BESS sodium-ion ke depannya akan semakin meningkat seiring harga lithium yang sekarang masih melonjak. Ke depan, Indonesia perlu memperkuat Research and Development (R&D) untuk mengembangkan teknologi baterai sodium-ion dan solid state yang mendukung hilirisasi nikel.
"(Kalau baterai sodium-ion) nikel masih punya ruang di sana. Jadi, itulah alasannya kenapa kok kami pengen ke sana. Kami enggak mau ketinggalan momentum ya untuk nikel di baterai yang generasi baru," tutur Aditya.
IBC melalui pabrik Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat, akan menyokong percepatan program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) dengan memproduksi BESS berteknologi LFP. Pabrik CATIB akan mulai beroperasi pada Juli 2026 nanti.
"Untuk 2026, kami impor dulu dari China karena memang ya tadi chemistry-nya masih didominasi LFP juga. Jadi, memang engak bisa suplai di sini sekarang," ucapnya.
Ia berharap, pabrik CATIB sudah mampu memproduksi BESS berteknologi NMC sebesar 6,9-8,1 gigawatt hour (GWh) pada 2028. Ia juga berharap program PLTS 100 GW dapat membentuk pasar baru (market creation), karena tanpa kepastian pasar akan sulit untuk memutuskan investasi di hilirnya.
PLTS yang disokong BESS, kata dia, akan kecil kemungkinan tiba-tiba mati di malam hari. BESS cenderung minim kegagalan dan sistemnya sendiri sudah cukup bisa diandalkan, terutama kalau sudah mengadopsi standar yang CATL (Contemporary Amperex Technology Co. Limited).
Baca juga: Menambang Nikel di Kota, Ini Keuntungan Daur Ulang Baterai Bekas
"Toleransi kesalahannya itu one part per billion (1 PBB). Jadi, 1 miliar produksi hanya boleh ada 1 sel yang cacat. Jadi segitu yang sudah masuk ke precision manufacturing-nya mereka. Baterai itu cuma satu tingkat di bawah semikonduktor," ujar Aditya.
Dari aspek keekonomian, sampai sekarang, PLTS plus BESS belum bisa bersaing dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara. Namun, PLTS on grid atau terhubung dengan PLN masih dapat bersaing dengan PLTU batu bara dengan catata solar panelnya impor dari China. PLTS plus BESS membutuhkan subsidi dari pemerintah untuk dapat menyaingi harga listrik dari PLTU berbasis batu bara.
"Kami akan satisfy kedua-duanya, baik BESS maupun EV (electric vechile). Yang penting, mana market yang bisa kami secure duluan," tutur Aditya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya