Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim dan Lonjakan Harga Properti Bikin Kota Tak Lagi Ramah Manusia

Kompas.com, 22 Mei 2026, 18:22 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Para delegasi di Forum Perkotaan Dunia di Baku, Azerbaijan memperingatkan bahwa krisis iklim mengubah kota-kota lebih cepat ketimbang kemampuan pemerintah untuk membangunnya kembali.

Kepala petugas ketahanan di Addis Ababa, Moges Tadesse mengatakan, konsekuensi dari krisis iklim di kota-kota Afrika sudah terlalu parah.

Ia berharap, negara-negara kaya perlu berinvestasi jauh lebih banyak untuk mengurangi dampak krisis iklim sebagai tantangan global yang memengaruhi perumahan di berbagai perkotaan.

Baca juga: SBTi Kini Fokus Dorong Perusahaan Terapkan Target Iklim

"Ini memengaruhi ekonomi, juga memengaruhi kehidupan manusia, dan sangat mengerikan," ujar Tadesse, dilansir dari Euronews, Jumat, (22/5/2026) .

Kota-kota di Afrika akan menghadapi tekanan demografis bersamaan dengan dampak krisis iklim yang semakin ekstrem. Populasi perkotaan di Afrika Sub-Sahara diperkirakan akan berlipat ganda dalam seperempat abad, menambah sekitar 1 miliar orang ke kota-kota yang sudah berjuang keras.

Pergeseran demografis tersebut akan membutuhkan investasi besar-besaran dalam perumahan dan lapangan kerja.

"Afrika tidak akan lagi menjadi daerah pedesaan dalam 25 tahun ke depan," tutur ekonom sekaligus presiden Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan, Jeffrey Sachs.

Sebaliknya, sekitar 20 persen rumah tangga di Amerika Latin akan terdiri dari satu orang, angka yang mengubah kebutuhan menjadi permintaan akan unit hunian perkotaan yang lebih kecil dan lebih terjangkau. Oleh karena itu, kota-kota sekarang perlu merancang komunitas berdasarkan konteks mereka sendiri dibandingkan mengimpor solusi yang dikembangkan dari tempat lain.

Sebaiknya, model perumahan di berbagai kota dari beragam negara tidak diseragamkan. "Kita tidak memiliki satu ukuran yang cocok untuk semua, karena apa pun yang cocok di Arab Saudi, belum tentu cocok di India, belum tentu cocok di Eropa, belum tentu cocok di Amerika," tutur seorang filantropis Saudi, Putri Lamia bint Majid Al Saud.

Harga properti meroket

Di sisi lain, Uni Eropa mengalami krisis perumahan dengan 20 persen unit kosong di saat penyewaan dalam jangka panjang justru melonjak.

Wakil direktur jenderal Komisi Eropa yang memimpin Gugus Tugas Perumahan Terjangkau, Matthew Robert Baldwin menganggap, fenomena tersebut sebagai skandal dan investasi publik saja tidak akan cukup untuk mengatasi permasalahan ini.

"Semua uang publik di dunia tidak akan pernah cukup. Kita perlu menemukan cara cerdas untuk menarik pendanaan swasta, modal yang sabar dan bertanggung jawab yang tidak mencari keuntungan cepat, untuk mendukung perumahan terjangkau bagi semua orang," ucapnya.

Laporan World Cities terbaru dari UN-Habitat mengungkapkan, hampir 3 miliar orang di seluruh dunia terdampak oleh perumahan tidak yang memadai, kurang akses ke layanan dasar, dan biaya menyewa atau membeli tidak terjangkau. Sedangkan lebih dari 1,1 miliar orang lainnya terus tinggal di permukiman kumuh dan pemukiman informal.

Laporan yang diluncurkan dalam Forum Perkotaan Dunia menyatakan harga perumahan meningkat lebih cepat daripada pendapatan di banyak wilayah. Ini diperparah oleh pengungsian akibat krisis iklim dan meningkatnya ketidaksetaraan.

Baca juga: Dampak Tersembunyi Krisis Iklim, dari Kemiskinan hingga Kerja Paksa

"Masalah perumahan di kota-kota akan semakin meningkat pada tahun 2050," ucap kepala Unit Laporan dan Tren Global UN-Habitat, Ben Arimah.

Bahkan, hanya 25 persen dari populasi dunia yang dapat menggunakan hipotek untuk mendapatkan tempat tinggal. Ini menunjukkan bahwa kapasitas keuangan sebagian besar orang tidak mencukupi.

Pengelolaan sumber daya air

Para delegasi dan pakar lingkungan dalam Forum Perkotaan Dunia juga menggarisbawahi urgensi memperlakukan air sebagai matriks struktural utama yang menentukan keberlanjutan jangka panjang kota-kota modern.

Manajer Program Negara UN-Habitat untuk Brasil, Rayne Ferretti mengatakan, desain perkotaan yang berpusat pada air telah menjadi standar wajib untuk arsitektur dan teknik sipil kontemporer.

Meski menjadi dasar penunjang kehidupan planet ini, ekosistem perairan juga berada di pusat sebagian besar bencana alam yang disebabkan oleh krisis iklim.

Baca juga: Krisis Iklim Picu Perombakan Habitat Tanaman pada 2100, Keanekaragaman Hayati di Asia Tenggara

"Akibatnya, aliran ekologis alami harus secara sistematis diintegrasikan ke dalam proses perencanaan kota," ujar Ferretti, dilansir dari Azertag.

Sementara itu, Direktur Perencanaan Wilayah di Kementerian Perumahan dan Perencanaan Wilayah Uruguay, Paola Florio menyebut, kualitas dan ketersediaan air berfungsi sebagai metrik utama untuk kesejahteraan publik dan pertumbuhan berkelanjutan.

Kata dia, Uruguay telah melembagakan matriks perencanaan nasional yang sangat kuat untuk mengamankan sumber daya ini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
Pemerintah
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Pemerintah
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Pemerintah
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
LSM/Figur
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
BUMN
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
Swasta
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
Swasta
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pemerintah
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Pemerintah
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
Pemerintah
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Pemerintah
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Pemerintah
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
Pemerintah
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pemerintah
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau