KOMPAS.com - Krisis Iklim dapat secara langsung memengaruhi keberadaan atau kelimpahan inang reservoir alami hantavirus, seperti berbagai spesies hewan pengerat.
Iklim merupakan faktor penting bagi distribusi dan penyebaran organisme, termasuk inang reservoir atau hewan yang dapat membawa penyakit hantavirus.
Studi berjudul Over half of know human pathogenic diseases can be aggravated by climate change yang diterbitkan di jurnal Nature mengungkapkan, 58 persen penyakit menular pada manusia sensitif terhadap iklim, termasuk hantavirus.
Baca juga: Sampah yang Tak Terkelola di Bantargebang Potensial Jadi Sarang Penularan Hantavirus
Kondisi ini diperparah perubahan pola curah hujan yang dipicu krisis iklim bisa memengaruhi waktu dan keberhasilan reproduksi spesies inang hewan pengerat.
“Setiap kali suatu penyakit sensitif terhadap iklim, ada potensi perubahan iklim memengaruhi epidemiologinya, termasuk distribusinya dan dampaknya pada manusia. Dalam kasus hantavirus, karakteristik iklim dan perubahan iklim dapat secara langsung memengaruhi keberadaan atau kelimpahan spesies inang hantavirus, seperti berbagai spesies hewan pengerat," ujar profesor di Unit Dewan Riset Medis Gambia di London School of Hygiene & Tropical Medicine, Kris Murray, dilansir dari Euronews, Sabtu (23/5/2026).
Hilangnya atau rusaknya habitat yang sering disebabkan oleh deforestasi akibat aktivitas manusia bisa secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi penularan penyakit. Di daerah-daerah di mana inang zoonosis berada, penghilangan vegetasi atau aktivitas destruktif lainnya dapat memobilisasi patogen menular.
Misalnya, hantavirus kerap disebabkan oleh orang-orang yang mengganggu area tempat hewan pengerat berada. Itu terjadi karena hantavirus dikeluarkan melalui kotoran dan urin hewan pengerat yang dapat bertahan di lingkungan untuk beberapa waktu.
Ketika area tempat hewan pengerat terganggu, patogen dapat menjadi aerosol, yang mana orang-orang di sekitarnya berisiko menghirupnya dan terinfeksi hantavirus.
“Ekosistem yang terfragmentasi sering kali menguntungkan spesies reservoir yang mudah beradaptasi seperti hewan pengerat, kelelawar, atau kutu, sementara mengurangi keseimbangan ekologis alami yang membantu mengatur penularan patogen,” tutur mantan Direktur Institut Kedokteran Umum di Rumah Sakit Universitas LMU Munich, Jörg Schelling.
Baca juga: Waspada Hantavirus, Ini Cara Mencegah Tikus Masuk ke Dalam Rumah
Bencana hidrometeorologi, seperti banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan, juga dapat mengganggu ekosistem, serta menciptakan kondisi yang mempermudah penyebaran penyakit menular dan meningkatkan paparannya ke manusia.
Wabah hantavirus pernah terjadi di Swedia pada tahun 1934. Kenaikan suhu di Eropa Barat-Tengah telah dikaitkan dengan wabah hantavirus Puumala yang terjadi seiring peningkatan produksi benih dan kepadatan tikus di sawah.
Puumala menjadi infeksi hantavirus paling umum di Eropa, menyebar ke manusia melalui inhalasi debu di udara yang terkontaminasi oleh urin, kotoran, atau air liur tikus sawah terinfeksi. Gejala penyakit Puumala mulai dari demam mendadak dan sakit kepala hingga nyeri punggung dan perut.
Namun, penyakit Puumala jarang berakibat fatal dan tidak dapat menular dari manusia ke manusia.
Menurut Murray, krisis iklim dapat menciptakan peluang baru atau meningkatkan peluang penularan ke manusia. Namun, tetap diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami risiko pada tingkat spesies inang individu.
“Yang penting untuk hantavirus, meskipun kadang-kadang menyebabkan penyakit pada orang di seluruh dunia, virus ini umumnya tidak menunjukkan penularan dari manusia ke manusia yang kuat, dan inilah yang membedakan kasus sporadis yang jarang terjadi dan biasanya cukup terisolasi dari kelompok besar orang yang terinfeksi seperti yang kita lihat dalam wabah saat ini," ucapnya.
Baca juga: Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Sementara itu, Schelling menilai, proyeksi iklim menunjukkan bahwa sebagian wilayah Eropa Utara dan Barat kemungkinan akan menjadi semakin cocok bagi spesies hewan pengerat yang bertindak sebagai reservoir hantavirus.
“Wilayah yang secara historis mengalami iklim yang lebih dingin – termasuk sebagian Skandinavia, wilayah Baltik, dan daerah dataran tinggi di Eropa Tengah – mungkin akan mengalami musim penularan yang lebih panjang dan perubahan pola kelimpahan hewan pengerat seiring dengan kenaikan suhu,” tutur Schelling.
Meski masih ada ketidakpastian mengenai pergeseran geografis dari hantavirus, lanskap penyakit zoonosis di Eropa kemungkinan memang akan berubah secara substansial dalam beberapa dekade mendatang. Sistem kesehatan masyarakat di seluruh Eropa masih membutuhkan lebih banyak investasi dalam infrastruktur yang tahan terhadap krisis iklim.
Pencegahan wabah di masa depan bukan sekadar bergantung pada pengawasan yang lebih baik, melainkan pada penanganan akar penyebab gangguan ekologis dan krisis iklim itu sendiri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya