Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemenhut Gandeng BRIN untuk Kembangkan Bioprospeksi dari Tanaman

Kompas.com, 25 Mei 2026, 19:57 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan bioprospeksi atau eksplorasi sumber daya alam hayati untuk komersial dari tanaman atau flora untuk obat-obatan hingga kosmetik.

Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki menyatakan Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan bioprospeksi flora bernilai ekonomi tinggi untuk berbagai kebutuhan seperti obat-obatan atau farmasi, kosmetik, pangan, bioenergi, biomaterial dan produk berbasis nyawa alami lainnya.

"Banyak tumbuhan hutan tropis Indonesia yang memiliki kandungan bioaktif potensial, namun belum diteliti secara mendalam," ujar dia, Senin (25/5/2026).

Baca juga: Inovasi Tanaman Obat untuk Perempuan Perlu Dipercepat

Rohmat menegaskan penemuan spesies baru dapat membuka peluang riset lanjutan untuk pengembangan bioprospeksi.

Melalui kerja sama dengan BRIN, perguruan tinggi, dan para peneliti, telah ditemukan beberapa spesies flora di kawasan konservasi yang mengandung senyawa aktif dan sedang dikembangkan menjadi produk bioprospeksi.

"Sebagai contoh, jenis tumbuhan Clidemia Hirta (semak perdu yang tumbuh invasif) di Taman Nasional Gunung Merapi, Jawa Tengah, sebagai bahan kosmetik atau kecantikan. Kemudian, pengembangan mikroba untuk pertanian sehat di Taman Nasional Gunung Ciremai, Jawa Barat, hingga anti-kanker dari jenis jamur di Taman Nasional Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, yang menjadi contoh nyata pengembangan bioprospeksi," katanya.

Skema pembiayaan

Wamenhut melanjutkan saat ini dunia juga mulai mengembangkan berbagai instrumen pembiayaan inovatif untuk konservasi, termasuk biodiversity credit yang membuka peluang baru bagi Indonesia untuk memperoleh dukungan pendanaan berbasis kinerja konservasi, khususnya bagi kawasan bernilai keanekaragaman hayati tinggi.

Sebelummnya, pada 21 Mei 2025 Kemenhut dan BRIN juga telah menandatangani perjanjian kerja sama penguatan fungsi dan konservasi keanekaragaman hayati melalui penelitian untuk pemanfaatan berkelanjutan.

Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mewujudkan pelaksanaan eksplorasi dan penelitian yang mendukung upaya pengembangan kebijakan dan pengelolaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Baca juga: 5 Contoh Tanaman Obat Keluarga yang Bermanfaat untuk Kesehatan

"Habitat dari flora yang terancam punah harus terus kita lindungi, biasanya itu terdapat di kawasan konservasi, misalkan seperti taman nasional, cagar alam, kemudian juga hutan tropis yang masih alami. Tentu ini membutuhkan dukungan kebijakan dan tata kelola pengelolaan hutan, bagaimana kita melindungi kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi tersebut dari ancaman-ancaman yang ada," paparnya.

Sementara itu Kepala BRIN Arif Satria mengemukakan pentingnya kebun raya untuk konservasi kawasan maupun genetik, khususnya untuk melindungi berbagai flora yang terancam punah.

"Itulah pentingnya kebun raya sebagai koleksi untuk konservasi. Jadi, memang ada konservasi yang sifatnya kawasan, ada juga yang sifatnya genetik. Jadi, saya kira ini akan kita kembangkan untuk bisa koleksi dan menyimpan materi genetik yang dimiliki oleh BRIN," ucap Arif.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau