JAKARTA, KOMPAS.com - Survei Deloitte mengungkapkan bahwa generasi Z (Gen Z) dan milenial saat ini lebih memprioritaskan kesejahteraan dan kesehatan mental di dunia kerja. Hal ini menjadi fondasi yang menentukan seberapa banyak pekerjaan yang dapat mereka tangani.
Menurut Deloitte, sebanyak 63 persen Gen Z dan 66 persen milenial menilai kesehatan mental mereka baik atau sangat baik dibandingkan tahun lalu. Survei dilakukan terhadap 22.500 responden dari 44 negara.
Lebih dari 40 persen responden di kedua kelompok mengatakan kondisi stres dan kecemasan mereka lebih baik dibandingkan setahun lalu.
Baca juga: Kenapa Gen Z Makin Sulit Cari Kerja Setelah Lulus?
"Jika kesejahteraan adalah infrastruktur, maka lingkungan kerja dan manajer yang suportif adalah fondasinya. Banyak Gen Z dan milenial merasa organisasi atau perusahaan mereka telah membuat kemajuan nyata dalam beberapa tahun terakhir," kata Deloitte dalam laporannya dikutip Jumat (29/5/2026).
Di tingkat organisasi, 69 persen responden merasa perusahaan memandang serius kesehatan mental karyawan. Angkanya naik hingga 15 poin dibandingkan survei 2024.
Deloitte juga mencatat 65 persen Gen Z dan milenial mengaku perusahaan tempatnya bekerja memiliki kebijakan dan bantuan terkait kesehatan mental.
Sementara itu, 66 persen Gen Z dan 64 persen milenial mengatakan perusahaan mereka memandang serius burnout karyawan dan aktif mengambil langkah pencegahan.
"Kepercayaan terhadap dukungan manajer juga meningkat. Sebanyak 72 persen merasa yakin mereka tidak akan didiskriminasi jika menyampaikan kekhawatiran tentang kesehatan mental kepada manajer mereka, naik 15 poin persentase untuk Gen Z dan 11 poin untuk milenial sejak 2024," jelas Deloitte.
Tercatat, 68 persen Gen Z dan 70 persen milenial mengaku akan merasa nyaman berbicara secara terbuka dengan manajer perusahaan mengenai tantangan kesehatan mental.
Deloitte mengungkapkan, peran manajer sangat penting dalam mendukung kesejahteraan mental karyawan.
Baca juga: Menteri LH Baru: Pemerintah Berhutang pada Gen Z
Mayoritas responden percaya manajer seharusnya membantu menetapkan batasan dan mendukung keseimbangan kerja serta hidup, membangun budaya kerja yang positif, inklusif, dan mendukung kesejahteraan karyawan.
Namun, hanya sekitar seperempat responden konsisten merasakannya.
Dalam survei, Deloitte menemukan perasaan cemas dan stres sepnajang waktu masih dialami 34 persen Gen Z serta 30 persen milenial. Hampir separuh responden Gen Z (48 persen) dan milenial (45 persen) merasa burnout.
Ketika ditanya faktor apa yang paling berkontribusi terhadap perasaan cemas dan stres mereka, kedua generasi menyebut kekhawatiran tentang masa depan finansial jangka panjang mereka. Lalu diikuti oleh kesehatan dan kesejahteraan keluarga, dan kondisi keuangan.
Tekanan pekerjaan seperti jam kerja panjang, kurangnya apresiasi, serta tingginya beban kerja juga menjadi pemicu utama stres bagi pekerja muda.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya