Di sisi lain, perkembangan teknologi dan penggunaan berbagai platform digital turut memperparah tekanan mental. Hampir 60 persen Gen Z dan lebih dari separuh milenial mengaku mengalami kelelahan digital akibat notifikasi yang terus-menerus, perpindahan antar aplikasi kerja, hingga tuntutan untuk selalu terhubung.
Baca juga: Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Diketahui, 16 persen responden memilih tetap bekerja meski mengalami stres, menunjukkan dukungan di tempat kerja masih dirasa belum sepenuhnya aman dan nyaman.
Deloitte menekankan, kesejahteraan bukan lagi sekadar pelengkap dalam dunia kerja, tetapi menjadi hal penting agar seseorang bisa bekerja dengan baik. Para pemimpin perusahaan dinilai perlu lebih fokus meminimalkan kondisi yang dapat menciptakan stres sejak awal.
"Ini berarti memperlakukan kesejahteraan sebagai bagian dari bagaimana pekerjaan dirancang dan dikelola, menetapkan beban kerja yang realistis, mengurangi kompleksitas yang tidak perlu, memperjelas prioritas, dan mengatasi kurangnya penghargaan sebelum hal itu mengikis daya tahan," kata Deloitte.
Perusahaan juga perlu mengatasi kelelahan digital akibat terlalu banyak notifikasi, aplikasi kerja, dan komunikasi yang terus berjalan tanpa henti. Penggunaan teknologi yang lebih bijak, waktu kerja yang lebih fokus, serta budaya kerja yang sehat dapat membantu mengurangi tekanan mental pekerja.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya