KOMPAS.com - Badan Energi Atom Internasional (IAEA) akan mulai mengukur kemampuan Singapura dalam mengambil keputusan yang tepat untuk mengadopsi energi nuklir pada 2027.
Jika temuan dari tinjauan IAEA dan studi dalam negeri menyatakan nuklir bukanlah jalan yang tepat, maka Singapura akan menerima kesimpulan itu.
"Keselamatan akan selalu menjadi prioritas utama kami. Sebagai negara kota yang kecil dan berpenduduk padat, kami tidak memiliki ruang untuk kesalahan. Kita harus yakin bukan hanya pada teknologi itu sendiri, tetapi juga pada seluruh ekosistem pendukung di sekitarnya – regulasi, keamanan, tanggap darurat, dan pengelolaan limbah, di antara hal-hal lainnya," ujar Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong beberapa waktu lalu, dilansir dari CNA, Senin (2/6/2026).
Baca juga: Pemanfaatan Tenaga Nuklir Jadi Salah Satu Fokus Dewan Energi Nasional
Singapura telah mempelajari potensi energi nuklir selama lebih dari satu dekade. Institut Penelitian dan Keselamatan Nuklir Singapura didirikan pada 2025 untuk melakukan studi tentang keselamatan nuklir dan membangun keahliannya dalam sumber energi bersih yang potensial.
"Pertimbangan Singapura, bahkan lebih menuntut karena keadaan uniknya," tutur Wong.
Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berpotensi untuk mengatasi kekhawatiran keamanan energi Singapura sekaligus mendukung tujuan net-zero emission (NZE) tahun 2050. Tingginya kepadatan energi menjadikan nuklir pilihan potensial bagi Singapura yang kekurangan lahan.
Setiap keputusan untuk menerapkan teknologi energi baru akan dipertimbangkan berdasarkan keamanan, keandalan, keterjangkauan, dan keberlanjutan lingkungan Singapura.
Kini, 95 persen listrik Singapura dihasilkan dengan gas alam impor. Ketergantungan Singapura pada bahan bakar fosil memosisikannya rentan terhadap volatilitas di pasar global. Sedangkan sumber energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga Surya (PLTS) tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Menurut peneliti senior di S Rajaratnam School of International Studies di Nanyang Technological University, Alvin Chew, PLTS bersifat tidak stabil, membutuhkan lahan yang luas, dan tidak bisa berfungsi sebagai sumber daya listrik beban dasar (base load).
Sebuah studi menunjukkan bahwa PLTS hanya dapat menyediakan hingga 10 persen dari bauran listriknya pada tahun 2050 karena keterbatasan lahan di Singapura.
"Energi nuklir adalah bentuk energi terpadat yang tersedia saat ini dan oleh karena itu, membutuhkan lahan yang lebih sedikit untuk menghasilkan kapasitas listrik yang setara," ucapnya.
Baca juga: Sumber Daya Nonkonvensional Jadi Harapan Baru Pemenuhan Energi Nasional
Singapura juga sedang mengeksplorasi berbagai opsi energi rendah karbon lainnya, seperti panas bumi dan hidrogen, yang masih dalam tahap awal.
Dilansir dari Energy Market Authority (EMA), cara kerja PLTN berbeda dengan pembangkit listrik energi fosil dalam menghasilkan panas. Alih-alih membakar batu bara, minyak, atau gas, panas dihasilkan melalui pemecahan atom melalui proses yang disebut fisi nuklir.
Selain atom uranium sebagai bahan bakar nuklir dengan kepadatan energi yang sangat tinggi, pendekatan ini juga menawarkan beberapa keuntungan lainnya. Pertama, tenaga nuklir bisa menghasilkan listrik dengan emisi karbon yang sangat rendah selama pengoperasiannya, tidak seperti gas alam.
“Ketika Anda memecah atom Uranium-235, sejenis uranium yang digunakan sebagai bahan bakar nuklir, ia melepaskan banyak energi. Berdasarkan volume, bahan bakar nuklir uranium memiliki kepadatan energi sekitar 37 juta kali lebih tinggi daripada gas alam – bahan bakar yang sangat diandalkan Singapura saat ini," tutur Kepala Insinyur dari Kantor Energi Nuklir, Tiang Zi Hua.
Jadi, sejumlah kecil bahan bakar nuklir mampu dipakai dalam jangka waktu yang sangat lama. Artinya, lebih sedikit ruang untuk menyimpan bahan bakar, menjadikannya pertimbangan penting bagi Singapura yang memiliki lahan terbatas. Itu juga bisa memperkuat keamanan energi dengan mengurangi jumlah bahan bakar yang perlu dikirim dan disimpan.
Kedua, stabilitas harga menjadi manfaat potensial lainnya. Harga gas alam dapat berfluktuasi mengikuti pasar global, yang dapat memengaruhi biaya listrik. Untuk tenaga nuklir, bahan bakar biasanya merupakan bagian yang lebih kecil dari total biaya, sehingga membantu menjaga harga semakin stabil dari waktu ke waktu.
Ketika mendengar kata 'nuklir', yang terlintas di benak banyak orang adalah kekhawatiran mengenai radiasi dan keselamatan. Padahal, radiasi menjadi sesuatu yang alami ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti paparan matahari, prosedur medis (sinar X), sampai bagian dari proses pengawetan makanan.
“Rata-rata, seseorang menerima sekitar 0,9 milisievert (mSv) radiasi latar alami setiap tahunnya. Milisievert adalah satuan yang digunakan untuk mengukur dosis radiasi. Sebagai perbandingan, tinggal di dekat PLTN yang beroperasi selama setahun akan memaparkan seseorang pada tambahan 0,001 milisievert, yang kira-kira setara dengan dosis radiasi dari mengonsumsi sekitar 10 buah pisang,” tutur Zi Hua.
Baca juga: Korsel Genjot Kapasitas Nuklir, Diprediksi Jadi 29,8 GW pada 2035
Selain itu, kekhawatiran limbah nuklir, yang mayoritas sebenarnya dapat dikelola dengan aman. Hanya sebagian kecil yang dianggap sangat radioaktif dan perlu ditangani dengan langkah-langkah keselamatan ketat.
Jumlah limbah bahan bakar bekas yang dihasilkan oleh PLTN relatif kecil. “Sebagai gambaran, limbah bahan bakar bekas yang dihasilkan dari memenuhi kebutuhan energi seumur hidup seseorang dengan energi nuklir secara teoritis dapat muat di dalam kaleng minuman," ujar Insinyur di Kantor Energi Nuklir EMA, David Toh.
Teknologi energi nuklir telah berkembang secara signifikan dalam hal keselamatan dan kinerja. Reaktor-reaktor lama lebih mengandalkan sistem keselamatan 'aktif' yang membutuhkan daya dan seringkali tindakan manusia untuk bekerja. Desain yang terbaru semakin banyak menggunakan efek fisik sederhana, seperti gravitasi dan sirkulasi alami untuk menjaga reaktor tetap dingin, bahkan jika daya hilang – juga dikenal sebagai fitur keselamatan 'pasif'.
Singapura sedang mempelajari generasi baru teknologi nuklir, reaktor modular kecil (SMR), dengan ukuran lebih kecil berarti mengandung semakin sedikit material radioaktif, yang berpotensi mempermudah pengelolaan keselamatan dan pengendalian selama keadaan darurat.
Baca juga: IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
SMR juga dirancang dengan fitur keselamatan yang ditingkatkan, sehingga dapat membantu mengurangi kemungkinan dan dampak kecelakaan.
Ini memungkinkan regulator untuk menetapkan zona penyangga keselamatan lebih kecil, yang merujuk pada area di sekitar fasilitas nuklir tempat langkah-langkah perencanaan darurat diterapkan. Ini merupakan pertimbangan penting bagi Singapura, di mana lahan terbatas.
Meski SMR berpotensi menawarkan peningkatan keselamatan, sebagian besar proyek di seluruh dunia masih dalam tahap pengembangan awal.
Oleh karena itu, dibutuhkan lebih banyak waktu agar teknologi tersebut matang, pengalaman operasional dapat dibangun, serta standar keselamatan internasional dan kerangka peraturan dapat berkembang lebih lanjut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya