Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Singapura Pilih Energi Nuklir untuk Lepas dari Ketergantungan LNG?

Kompas.com, 2 Juni 2026, 09:17 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Energi Atom Internasional (IAEA) akan mulai mengukur kemampuan Singapura dalam mengambil keputusan yang tepat untuk mengadopsi energi nuklir pada 2027.

Jika temuan dari tinjauan IAEA dan studi dalam negeri menyatakan nuklir bukanlah jalan yang tepat, maka Singapura akan menerima kesimpulan itu.

‎"Keselamatan akan selalu menjadi prioritas utama kami. Sebagai negara kota yang kecil dan berpenduduk padat, kami tidak memiliki ruang untuk kesalahan. Kita harus yakin bukan hanya pada teknologi itu sendiri, tetapi juga pada seluruh ekosistem pendukung di sekitarnya – regulasi, keamanan, tanggap darurat, dan pengelolaan limbah, di antara hal-hal lainnya," ujar Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong beberapa waktu lalu, dilansir dari CNA, Senin (2/6/2026).

Baca juga: Pemanfaatan Tenaga Nuklir Jadi Salah Satu Fokus Dewan Energi Nasional

‎Singapura telah mempelajari potensi energi nuklir selama lebih dari satu dekade. Institut Penelitian dan Keselamatan Nuklir Singapura didirikan pada 2025 untuk melakukan studi tentang keselamatan nuklir dan membangun keahliannya dalam sumber energi bersih yang potensial.

‎"Pertimbangan Singapura, bahkan lebih menuntut karena keadaan uniknya," tutur Wong.

‎Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berpotensi untuk mengatasi kekhawatiran keamanan energi Singapura sekaligus mendukung tujuan net-zero emission (NZE) tahun 2050. Tingginya kepadatan energi menjadikan nuklir pilihan potensial bagi Singapura yang kekurangan lahan.

‎Setiap keputusan untuk menerapkan teknologi energi baru akan dipertimbangkan berdasarkan keamanan, keandalan, keterjangkauan, dan keberlanjutan lingkungan Singapura.

‎Kini, 95 persen listrik Singapura dihasilkan dengan gas alam impor. Ketergantungan Singapura pada bahan bakar fosil memosisikannya rentan terhadap volatilitas di pasar global. Sedangkan sumber energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga Surya (PLTS) tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

‎Menurut peneliti senior di S Rajaratnam School of International Studies di Nanyang Technological University, Alvin Chew, PLTS bersifat tidak stabil, membutuhkan lahan yang luas, dan tidak bisa berfungsi sebagai sumber daya listrik beban dasar (base load).

Sebuah studi menunjukkan bahwa PLTS hanya dapat menyediakan hingga 10 persen dari bauran listriknya pada tahun 2050 karena keterbatasan lahan di Singapura.

‎"Energi nuklir adalah bentuk energi terpadat yang tersedia saat ini dan oleh karena itu, membutuhkan lahan yang lebih sedikit untuk menghasilkan kapasitas listrik yang setara," ucapnya.

Baca juga: Sumber Daya Nonkonvensional Jadi Harapan Baru Pemenuhan Energi Nasional

‎Singapura juga sedang mengeksplorasi berbagai opsi energi rendah karbon lainnya, seperti panas bumi dan hidrogen, yang masih dalam tahap awal.

Singapura akan andalkan energi nuklir?

‎Dilansir dari Energy Market Authority (EMA), cara kerja PLTN berbeda dengan pembangkit listrik energi fosil dalam menghasilkan panas. Alih-alih membakar batu bara, minyak, atau gas, panas dihasilkan melalui pemecahan atom melalui proses yang disebut fisi nuklir.

‎Selain atom uranium sebagai bahan bakar nuklir dengan kepadatan energi yang sangat tinggi, pendekatan ini juga menawarkan beberapa keuntungan lainnya. Pertama, tenaga nuklir bisa menghasilkan listrik dengan emisi karbon yang sangat rendah selama pengoperasiannya, tidak seperti gas alam.

‎“Ketika Anda memecah atom Uranium-235, sejenis uranium yang digunakan sebagai bahan bakar nuklir, ia melepaskan banyak energi. Berdasarkan volume, bahan bakar nuklir uranium memiliki kepadatan energi sekitar 37 juta kali lebih tinggi daripada gas alam – bahan bakar yang sangat diandalkan Singapura saat ini," tutur Kepala Insinyur dari Kantor Energi Nuklir, Tiang Zi Hua.

‎Jadi, sejumlah kecil bahan bakar nuklir mampu dipakai dalam jangka waktu yang sangat lama. Artinya, lebih sedikit ruang untuk menyimpan bahan bakar, menjadikannya pertimbangan penting bagi Singapura yang memiliki lahan terbatas. Itu juga bisa memperkuat keamanan energi dengan mengurangi jumlah bahan bakar yang perlu dikirim dan disimpan.

‎Kedua, stabilitas harga menjadi manfaat potensial lainnya. Harga gas alam dapat berfluktuasi mengikuti pasar global, yang dapat memengaruhi biaya listrik. Untuk tenaga nuklir, bahan bakar biasanya merupakan bagian yang lebih kecil dari total biaya, sehingga membantu menjaga harga semakin stabil dari waktu ke waktu.

‎Sistem keselamatan‎

‎Ketika mendengar kata 'nuklir', yang terlintas di benak banyak orang adalah kekhawatiran mengenai radiasi dan keselamatan. Padahal, radiasi menjadi sesuatu yang alami ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti paparan matahari, prosedur medis (sinar X), sampai bagian dari proses pengawetan makanan.

‎“Rata-rata, seseorang menerima sekitar 0,9 milisievert (mSv) radiasi latar alami setiap tahunnya. Milisievert adalah satuan yang digunakan untuk mengukur dosis radiasi. Sebagai perbandingan, tinggal di dekat PLTN yang beroperasi selama setahun akan memaparkan seseorang pada tambahan 0,001 milisievert, yang kira-kira setara dengan dosis radiasi dari mengonsumsi sekitar 10 buah pisang,” tutur Zi Hua.

Baca juga: Korsel Genjot Kapasitas Nuklir, Diprediksi Jadi 29,8 GW pada 2035

‎Selain itu, kekhawatiran limbah nuklir, yang mayoritas sebenarnya dapat dikelola dengan aman. Hanya sebagian kecil yang dianggap sangat radioaktif dan perlu ditangani dengan langkah-langkah keselamatan ketat.

‎Jumlah limbah bahan bakar bekas yang dihasilkan oleh PLTN relatif kecil. “Sebagai gambaran, limbah bahan bakar bekas yang dihasilkan dari memenuhi kebutuhan energi seumur hidup seseorang dengan energi nuklir secara teoritis dapat muat di dalam kaleng minuman," ujar Insinyur di Kantor Energi Nuklir EMA, David Toh.

‎Teknologi energi nuklir telah berkembang secara signifikan dalam hal keselamatan dan kinerja. Reaktor-reaktor lama lebih mengandalkan sistem keselamatan 'aktif' yang membutuhkan daya dan seringkali tindakan manusia untuk bekerja. Desain yang terbaru semakin banyak menggunakan efek fisik sederhana, seperti gravitasi dan sirkulasi alami untuk menjaga reaktor tetap dingin, bahkan jika daya hilang – juga dikenal sebagai fitur keselamatan 'pasif'.

‎Singapura sedang mempelajari generasi baru teknologi nuklir, reaktor modular kecil (SMR), dengan ukuran lebih kecil berarti mengandung semakin sedikit material radioaktif, yang berpotensi mempermudah pengelolaan keselamatan dan pengendalian selama keadaan darurat.

Baca juga: IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam

SMR juga dirancang dengan fitur keselamatan yang ditingkatkan, sehingga dapat membantu mengurangi kemungkinan dan dampak kecelakaan.

‎Ini memungkinkan regulator untuk menetapkan zona penyangga keselamatan lebih kecil, yang merujuk pada area di sekitar fasilitas nuklir tempat langkah-langkah perencanaan darurat diterapkan. Ini merupakan pertimbangan penting bagi Singapura, di mana lahan terbatas.

‎Meski SMR berpotensi menawarkan peningkatan keselamatan, sebagian besar proyek di seluruh dunia masih dalam tahap pengembangan awal.

Oleh karena itu, dibutuhkan lebih banyak waktu agar teknologi tersebut matang, pengalaman operasional dapat dibangun, serta standar keselamatan internasional dan kerangka peraturan dapat berkembang lebih lanjut.‎

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Awal Juni, BMKG Prediksi Hujan Landa Sejumlah Wilayah Selama Sepekan
Awal Juni, BMKG Prediksi Hujan Landa Sejumlah Wilayah Selama Sepekan
Pemerintah
Singapura Pilih Energi Nuklir untuk Lepas dari Ketergantungan LNG?
Singapura Pilih Energi Nuklir untuk Lepas dari Ketergantungan LNG?
Pemerintah
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
BUMN
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
LSM/Figur
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Swasta
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Pemerintah
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau