KOMPAS.com - Badan Energi Internasional (IEA) mengungkapkan bahwa permintaan global untuk baterai litium-ion melonjak tajam, membentuk ulang sektor energi dan transportasi.
Sejak 2020, penggunaan baterai litium-ion secara global telah melonjak enam kali lipat, mendorong nilai pasarnya mencapai perkiraan 150 miliar dolar AS.
Namun, perang harga dan ketergantungan pasokan menimbulkan tantangan yang kian besar.
Melansir Sustainability Magazine, Senin (16/2/2026) IEA mengaitkan ekspansi ini dengan meningkatnya permintaan kendaraan listrik, yang menyumbang lebih dari 70 persen dari seluruh penggunaan baterai.
Faktanya, satu dari setiap empat mobil yang terjual secara global tahun lalu adalah bertenaga baterai.
Baca juga: Siap-siap Produksi Baterai EV, IWIP Bangun Pabrik di Weda Bay
Di sisi lain, penggunaan baterai untuk menyimpan cadangan listrik kini sudah mencapai 15 persen dari pasar. Ini membuktikan bahwa baterai tak sekedar untuk gadget tetapi sudah menjadi infrastruktur utama bagi sistem listrik kita.
Sebagai perbandingan, satu dekade lalu, laptop, tablet dan ponsel pintar mencakup hampir setengah dari produksi baterai global, tetapi sekarang telah turun di bawah 5 persen.
Penurunan biaya tentu juga mempercepat adopsi baterai. Menurut IEA, harga rata-rata baterai turun sebesar 8 persen pada tahun 2025, berkat teknik manufaktur yang efisien dan persaingan ketat antar produsen.
Bahkan, harga sistem penyimpanan listrik skala besar turun hingga tinggal sepertiganya dibanding tahun 2020. Ini membuat baterai mulai lebih murah dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar gas di beberapa wilayah.
Namun, kemajuan ini tidak merata di semua wilayah. IEA menemukan bahwa baterai buatan China sekitar 30 persen lebih murah daripada buatan Amerika Serikat, dan 35 persen lebih murah dibanding harga di Eropa.
Sementara itu, baterai jenis litium besi fosfat (LFP) harganya anjlok lebih dari 15 persen, sedangkan baterai jenis nikel hanya turun kurang dari 5 persen.
Hasilnya, baterai jenis LFP sekarang 40 persen lebih murah daripada versi nikel dan menguasai lebih dari separuh pasar mobil listrik, serta 90 persen penyimpanan listrik dunia.
Meski harga murah ini disukai pembeli, IEA memperingatkan bahwa harga rendah itu kecil kemungkinan akan bertahan lama, karena banyak produsen baterai saat ini sudah mulai merugi besar.
Data IEA juga mengungkap adanya ketergantungan yang baru mulai disadari oleh para pembuat kebijakan.
Di tahun 2025, China memproduksi lebih dari 80 persen dari seluruh baterai dunia, sementara perusahaan-perusahaan dari China, Korea, dan Jepang menguasai hampir seluruh produksi sel baterai secara global.
Baca juga: Konsumen Gandrungi Kendaraan Listrik, Penjualan Baterai EV Naik 9 Kali Lipat
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya