Editor
KOMPAS.com - Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, Muhammadiyah meluncurkan sekolah berbasis konservasi di Papua Barat yang mengintegrasikan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan nilai-nilai keberagaman dalam proses pembelajaran.
Dikutip dari website Muhammadiyah, Senin (1/6/2026), Unit Sekolah Baru (USB) SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) Manokwari berlokasi di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Arfai, Manokwari Selatan, itu disebut sebagai sekolah berbasis konservasi pertama di Indonesia.
Peresmian yang dilakukan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti pada Kamis (28/5/2026) tersebut juga ditandai dengan peluncuran Kurikulum Konservasi yang disusun melalui kolaborasi antara Muhammadiyah, EcoBhinneka Muhammadiyah, dan WWF Indonesia.
Baca juga: Startup AS dan Portugal Kembangkan Teknologi Pemantauan Wilayah Konservasi RI
Kurikulum tersebut memadukan pendekatan sains, nilai-nilai agama, dan kearifan lokal Papua Barat dalam pembelajaran.
Dalam sambutannya, Abdul Mu'ti mengatakan pendidikan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran lingkungan sejak dini, terutama di tengah meningkatnya ancaman pemanasan global.
"SMAMCO Manokwari memiliki ciri khas yang sangat baik karena mengintegrasikan pendidikan dengan konservasi lingkungan. Ini selaras dengan arah kebijakan pemerintah dalam membangun generasi yang unggul sekaligus memiliki kesadaran menjaga alam," ujar Abdul Mu'ti.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua Barat, Mulyadi Djaya, mengatakan sekolah tersebut dibangun bukan hanya untuk menambah akses pendidikan, tetapi juga sebagai upaya menanamkan kesadaran ekologis kepada generasi muda.
Menurut dia, SMAMCO berdiri di atas dua landasan utama, yakni kesadaran teologis bahwa manusia memiliki tanggung jawab menjaga bumi serta kesadaran ekologis yang terinspirasi dari kearifan lokal masyarakat Arfak dalam melestarikan hutan dan sumber daya alam.
Sekolah tersebut dirintis sekitar satu tahun lalu dari bangunan bekas klinik dan kini telah berkembang menjadi kompleks pendidikan dengan 13 bangunan serta berbagai fasilitas pendukung.
Direktur EcoBhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, menilai pendidikan lingkungan perlu dilakukan melalui pengalaman langsung, bukan hanya pembelajaran di dalam kelas.
"Krisis iklim dan kerusakan lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori. Anak-anak harus dibiasakan hidup bersama alam, memahami ekosistemnya, dan membangun kesadaran bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama," kata Hening.
Baca juga: Pemprov Riau Bentuk BLUD Baru untuk Kelola Kawasan Konservasi Perairan
Penyusunan kurikulum konservasi di SMAMCO juga mendapat dukungan dari WWF Indonesia. Kurikulum tersebut diharapkan dapat menjadi model pendidikan lingkungan yang dapat direplikasi di wilayah lain, khususnya daerah yang memiliki kekayaan hayati dan kearifan lokal yang kuat.
Peresmian sekolah dihadiri sejumlah pejabat daerah, antara lain Sekretaris Daerah Papua Barat Ali Baham Temongmere, Bupati Manokwari Hermus Indou, Wakil Bupati Mugiyono, unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh adat, serta jajaran Muhammadiyah dan Aisyiyah Papua Barat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya