JAKARTA, KOMPAS.com - Hujan ringan hingga lebat diprediksi melanda beberapa wilayah di Indonesia selama sepekan ke depan pada awal Juni 2026.
Menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pada periode 2-4 Juni 2026 hujan terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Kep. Bangka Belitung, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan.
Kemudian di Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, serta Papua.
"Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi," tulis BMKG dalam laporannya, Selasa (2/6/2026).
Baca juga: Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Sedangkan pada 5-8 Juni hujan diperkirakan melanda Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
BMKG menjelaskan bahwa saat ini sejumlah daerah telah memasuki musim kemarau. El Nino terpantau memiliki indeks plus 0,67 dan nilai Southern Oscillation Index (SOI) minus 14,7 yang menandai berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Di samping itu, BMKG memantau penguatan Monsun Australia yang membawa massa udara kering di sebagian wilayah. Kondisi ini berdampak pada berkurangnya pembentukan awan, terutama pada pagi hingga siang hari. Tercatat, suhu maksimum mencapai 35 derajat celsius-36,4 derajat celsius di Sumatera Utara, Riau, Papua Selatan, Banten, dan Sulawesi Tengah pada 29-31 Mei 2026.
"Meskipun demikian, dinamika atmosfer skala regional masih berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah, khususnya di Indonesia bagian utara dan timur," jelas BMKG.
Dalam sepekan ke depan, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi berada pada fase 7 (Western Pacific) hingga fase 8 (Western Hemisphere and Africa) sehingga kurang berpengaruh terhadap wilayah Indonesia.
Gelombang Kelvin yang bergerak ke arah timur diprediksi aktif di wilayah Sumatra bagian utara, pesisir selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi bagian utara hingga tengah, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya.
Sementara itu, gelombang Rossby Ekuatorial yang bergerak ke arah barat masih diprediksi aktif dan berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di Sumatera bagian utara, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan bagian utara.
BMKG mencatat, sirkulasi siklonik berpotensi terbentuk di Laut Cina Selatan dan Samudra Pasifik utara Papua. Sistem tersebut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi yang memanjang di Laut Cina Selatan, Samudra Pasifik utara Papua, serta di sekitar sistemnya.
"Aktivitas gelombang atmosfer dan sirkulasi siklonik tersebut perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan potensi hujan di sebagian wilayah Indonesia," kata BMKG.
Karenanya, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana banjir dan tanah longsor.
Bagi masyarakat pada wilayah yang sudah memasuki musim kemarau atau berada pada periode peralihan, BMKG meminta untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna menghindari paparan langsung sinar matahari, serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi, ataupun kelelahan.
Anda dapat memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi melalui kanal informasi BMKG yakni http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya