KOMPAS.com - Risiko cuaca ekstrem dapat merugikan ekonomi dunia hampir Rp17.477 triliun di masa depan, menurut laporan terbaru dari CDP.
Laporan ini juga memperingatkan bahwa perusahaan dan pemerintah masih meremehkan ancaman finansial dari gangguan akibat perubahan iklim.
Melansir Edie, Selasa (12/5/2026) laporan tersebut menemukan bahwa hanya 35 persen dari 11.261 perusahaan yang melaporkan data lingkungan mereka melalui CDP pada tahun 2025 yang menyadari bahwa cuaca ekstrem adalah risiko keuangan yang serius.
Meskipun begitu, banyak perusahaan melaporkan kerugian hampir 3 miliar dolar AS atau sekitar Rp52,4 triliun selama setahun terakhir. Penyebab utamanya adalah melonjaknya biaya operasional dan terhentinya kegiatan perusahaan secara tiba-tiba.
Hujan deras menjadi penyebab kerugian terbesar, yakni mencapai 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp26,2 triliun. Perusahaan-perusahaan juga menyebutkan bahwa banjir, angin siklon, dan curah hujan ekstrem adalah ancaman besar bagi bisnis mereka di masa depan.
Baca juga: Kembali ke Ekonomi Bumi
Dunia usaha sendiri memperkirakan kerugian di masa depan bisa mencapai 898 miliar dolar AS atau sekitar Rp15.694 triliun . Dari jumlah tersebut, banjir diperkirakan menjadi penyebab kerugian terbesar, yaitu 528 miliar dolar AS atau sekitar Rp9.227 triliun.
Sementara badai siklon diperkirakan menyumbang kerugian sebesar 161 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.813 triliun, sedangkan hujan deras sekitar 86 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.503 triliun.
Hampir separuh dari risiko tersebut diperkirakan akan benar-benar terjadi dalam dua tahun ke depan. Hal ini membuat gangguan akibat perubahan iklim kini harus masuk dalam rencana investasi dan operasional perusahaan saat ini juga.
CDP menyatakan bahwa dampak keuangan utama diperkirakan akan datang dari penurunan kapasitas produksi serta kerusakan aset atau penghentian penggunaan alat lebih awal dari seharusnya.
Laporan tersebut menambahkan bahwa risiko-risiko ini menyebar ke infrastruktur, rantai pasokan, pasar asuransi, dan layanan publik, bukan hanya terbatas pada aset atau sektor tertentu saja.
Organisasi tersebut menambahkan bahwa biaya untuk menyesuaikan diri terhadap risiko iklim jauh lebih murah dibandingkan perkiraan kerugian finansial yang akan terjadi.
Laporan Disclosure Dividend 2025 dari CDP menemukan bahwa rata-rata nilai risiko akibat iklim bagi satu perusahaan adalah 39,4 juta dolar AS atau Rp688,6 miliar, sementara biaya untuk mencegah atau mengatasinya hanya butuh sekitar 3,1 juta dolar AS atau sekitar Rp54,2 miliar .
Laporan tersebut juga menyoroti kekhawatiran yang meningkat di kalangan pemerintah daerah. Dari 1.005 kota, provinsi, dan wilayah di 80 negara yang melapor melalui CDP pada tahun 2025, sebanyak 62 persen menyatakan bahwa mereka sudah terkena dampak serius dari peristiwa cuaca ekstrem.
Lebih dari 60 persen pemerintah daerah tersebut memperkirakan ancaman seperti panas ekstrem, banjir di perkotaan, dan kekeringan akan menjadi lebih parah atau lebih sering terjadi di masa depan.
Pemerintah daerah kini semakin melihat ancaman iklim sebagai risiko keuangan. Sebanyak 23 persen dari mereka menilai bahwa sektor keuangan dan asuransi adalah bidang yang paling terancam bahaya tersebut.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya