Untuk memperbaiki perkiraan masa depan dan penilaian risiko iklim di wilayah tersebut, para peneliti menyarankan untuk menggunakan analisis menyeluruh yang memasukkan perubahan penggunaan lahan, kelainan perputaran udara di atmosfer, serta interaksi antara kebakaran dan kekeringan, di antara langkah-langkah lainnya.
Mereka juga menyimpulkan bahwa kekeringan membuat hubungan antara kekurangan air, kebakaran, dan kerusakan hutan menjadi semakin parah. Kebakaran kini lebih sering terjadi karena kondisi hutan yang semakin melemah, bukan hanya karena penebangan hutan saja.
Penebangan hutan menghabiskan seluruh tanaman di lahan, sedangkan kerusakan degradasi hanya memperlemah kondisi hutan tanpa menghancurkannya secara total.
Hasil studi ini pun menegaskan perlunya sistem pengelolaan kebakaran yang menyeluruh, yang menggabungkan tanda-tanda iklim dengan sistem peringatan dini serta memperkuat kerja sama antarlembaga.
Sistem pengelolaan ini juga harus memasukkan masalah kerusakan hutan ke dalam strategi penyelamatan dan pencegahan bencana.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya